milik kita
Mungkin tentang waktu.
Aku bukannya ingin berahasia. Hanya ingin memastikan telah cukupnya waktu mematangkan semua benih, kuncup, untuk kembang.
Di tengah membicarakan seorang sosok yang menurut mereka layak dan bisa ‘mengendalikan’ aku -
oh sebetulnya tak akan ada lagi yang seperti dia. He’s the one and only. Dan aku merasa sudah cukup menjadi bagian kecil dari ingatan dan hidupnya. Tak lagi penting apa, siapa, bagaimana datang dan pergi. Tak penting lagi menemukan atau kehilangan.-
Ini bukan pula perihal menata harapan. Semua mungkin terjadi hanya jika ada dua daya yang saling; yang menjajagi dan yang membuka diri atau kesempatan; yang mencari dan yang ingin ditemukan.
O ya, tentu, lelaki memenangkan posisi sebagai yang mengusahakan . Sedangkan perempuan berhak membuat pilihan-pilihan.
“… they never stood in the dark with you, love” -
Kau, tak perlu menjadi orang lain. mereka tidak tahu seberapa dirimu menguasai dan mengendalikan gelembungku; seberapa menggelegakkan bara dalam dadaku. mereka tak mengerti itu.
Aku pun tak perlu jadi orang lain.
kisahmu
Tengah malam di sini.
Sudah sepi.Tentu.
Suara keran yang kurang ditutup rapat
dan gerah udara
Aku terbangun begitu saja dan merasa perlu merekam jejakmu. Malam ini.
Biasanya aku tak cerita, selain kepada lembar-lembar buku yang tak pernah terpublikasi.
Ada yang kurang pas saja untuk dibagikan kalau semuanya baru ada di dunia rasa dan duga. Bahkan untuk menuliskannya pun tidak mudah. Tidak mudah untuk membuat diriku sendiri mengerti. Apalagi kepada dunia.
Tapi kali ini ingin kubisikkan barang sekelumit, yang di esok hari mungkin sudah terlupa.
Apa kamu pernah tahu hubunganku dengan kata? Bahwa sesuatu bisa meluncur begitu saja dari gerak-gerik jemari? Mungkin itu akan jadi sebagian besar hal yang akan kaulihat dalam sisa hidupmu. Bersamaku.
Ah ya, dari mana pula ide segila itu datang? – kadang aku pun takjub sendiri.
Tunggu sebentar. Aku perlu sekotak kismis untuk menceritakan ini semua. Mumpung tengah malam ini aku terbangun dan jari-jariku sedang gerah menyimpan rahasia.
Harusnya pula aku pergi ke halaman sebelah, tempat segala yang dari antah berantah bernama inspirasi minta dituangkan. Tetapi tidak. Kau cukup nyata dan mengada untuk dikisahkan. Kau adalah bagian dari hari-hariku sekarang. Sebelah dunia asing yang terus melekat di benak dan langkahku. Separuh dunia yang kukenali sebagai sebagianku yang mungkin sebenarnya sudah lama ada. Mungkin hanya karena lama coba kulupakan karena, setahuku, ada bagian yang sangat rapuh di sana.
Baiklah, sisakan sebuah ruang.
Untuk menyebut nama tetap bukan bagian yang mudah bagiku. Kita lupakan itu sejenak.
Mencintai memang perlu keberanian. Perlu banyak sekali keberanian. Terutama untuk mengakuinya. Terutama setelah berulang jatuh dan merasakan perih, kadang menjadi trauma dan skeptis, bahkan pada sentuhan senyata genggaman.
Dan kau… mengada dari ketidakmungkinan yang kupikir sama saja. Ketidakpedulianku yang itu-itu juga. Bedanya kemudian aku teryakinkan. Mungkin saja oleh kelelahanku sendiri. Tapi mungkin juga oleh kegigihan di balik keramahanmu yang tak kenal waktu. Mungkin akhirnya aku teralihkan oleh sungging senyummu yang menyembunyikan beribu ingin itu.
Entah, mungkin bagimu aku juga muncul dari kemustahilan. Bagaimana kalau kita lupakan saja bagian itu. Aku mau hari ini, saat ini, ketika setiap saat penuh dengan daya pukau yang membuatmu tak ingin sendirian. Yang membuatku selalu percaya bahwa di sebalik sana selalu ada kau yang juga memikirkanku.
Seberapa khayal. Seberapa nyata. Yang jelas aku tidak ingin kehilangan lagi. Setiap tegur sapa, setiap senyum yang berbalasan, setiap tanggap yang hangat. Itu semua bukan mimpi. Buatku. Juga untukmu. Dan tahukah kau? Percayakah kalau kubilang bahkan dalam pejam mataku pun kamu ada? Kamu terlalu nyata untuk kuabaikan.
Lihat, aku berputar-putar di labirin ganda.
Mungkin aku terlalu mendramatisir keadaan.
Tapi kamu bukan fiksi.
Kekasihku.
proyek kecil harta karun kata
kira-kira seperti restorasi lukisan Michaelangelo di Kapel Sistine,
apa yang kukerjakan kini:
mengabadikan sebuah naskah lama ke dalam format digital.
proyek kecil yang kembali pada kecintaan dan keinginan belajar lebih jauh.
Tentu saja, sebuah proses akan menjadi pembelajaran dan membawa kebaruan.
Aku mendapat target satu buku dari tiga buku yang sedang direkam ulang.
Rasanya menyenangkan,
seperti vakansi ke tempat-tempat tak tepermanai sebelumnya.
crossroad #37
15 April 2012
This is my birthday.
Hari istimewa yang kurayakan dengan berbeda tahun ini.
I’m in an island. Alone.
Today I skip my dive sessions for thinking about me, and being me.
Lucunya, sekarang jelas ada kamu juga yang ingin aku pikirkan.
Bukan menihilkan arti keluarga dan rumah, atau komunitas dan teman-teman. Kupikir ini kesempatan yang langka. Betul-betul sendiri.
Cuma aku, angin laut, pasir permai, alun ombak yang sepi… Apa aku ini?
Semacam di perhentian persimpangan. Aku belum tahu lagi, akan bagaimana dan mau apa.
Apa Kau sudah menetapkan sesuatu untukku lagi, Tuhan? Setelah titik ini, nanti malam, atau dua puluh lima menit ke dapan aku akan jadi apa? Siapa?
Seorang ibu dan dua anaknya yang sedang bermain di pasir. Suaminya divemaster.
Am I going to be like that?
Atau itu, seorang temanku dan suaminya, sepasang diver. Aku ingin?
Dulu pernah ingin. Tapi sekarang I guess not.
Aku sudah tahu, kau berbeda dariku dan bisa saja punya kesukaan yang tak sama denganku.
Hari ini juga aku baru tahu, aku tidak sebegitu habis-habisannya dengan laut ketika kamu memenuhi pikiranku.
Di usia yang sekarang aku tahu, akan menemukanmu. Aku mau. Bukan yang lain. Tidak yang lain-lain.
I’m Dreaming Of…
Second attempt to Gunung Gede
Last weekend, 6-7 April 2012
Semacam pemeliharaan dan pengecekan stamina
disisipi paket materi tali-temali
O, TANJAKAN
Kita ternyata mudah sekali lupa pada hal-hal yang pernah dilewati
Trek Kebun Sayuran Gunung Putri rupanya masih tetap seintens dulu
Walaupun peparu sudah ga gampang meradang digenjot di awal,
tetap saja nanjak nanggung tuh menghabiskan nafas.
Apalagi lintasan Buntut Lutung.
Aku benar-benar lupa kalau paras tanjakannya sedramatis itu. Bikin shock setiap ketemu lagi.
Kali ini rasanya makan waktu lebih lama. Berbeda dari perjalanan 2009, 4 jam saja kayanya beres.
Iya sih, kali ini memang tidak bertarget waktu, just ‘jalan-jalan’
Aku bahkan sempat setengah hati dan berencana berpikir ulang untuk balik arah di depan gerbang TNGGP karena kebetulan lagi datang bulan juga, hari kedua. *well kerepotan khas perempuan.
Tapi untungnya tidak jadi diturutilah kelemahan semacam itu.
Keras kepala, aku memutuskan terus maju dan melihat sebisa apa bertahan dan bermanuver menghadapi kesulitan.
Plus, kali ini teman-teman tak membiarkan aku bermanja-manja dengan menitipkan barang ke orang lain. Semi-carrier kudu digotong sendiri.
Benar saja, rasanya tanjakan ga kunjung berakhir. Langkahku benar-benar lambat. Setiap naik 10 meter badan minta break. Oxycan disuplai. Dan kalau kebeneran bisa istirahat duduk, O God, rasanya pengen lessss langsung tidur aja dah.
Pantas, di beberapa kelokan Buntut, banyak aku temui pendaki yang menggeletak tertidur. Tanjakan ini benar-benar menguras, rupanya.
Kekeraskepalaanku saja akhirnya yang bisa memberi sedikit daya dorong supaya tidak tidur dan bersegera menambah barang 10 langkah lagi, ketimbang diam.
Tapi begitu memasuki plawangan Alun-alun Suryakencana, badan benar-benar ‘ngadat’, ogah beranjak ke camping ground. Tak ingin yang lain kecuali tidur.
Di tepi padang ilalang akhirnya aku merebahkan diri. Sekitar 10 menit. Cukuplah. Darus dengan sigap mengawal sambil memutarkan Lazy Song dari Mister Bruno Mars. Langit menghangat dengan matahari (akhirnya) mengintip dari balik kabut. It’s the best nap I’ve ever had.
IWAN FALS DI TENGAH HUTAN
Musik adalah bagian tak lepas dari irama langkah.
Walaupun jagawana sudah wanti-wanti tidak membuat suara-suara terlalu riuh yang mengganggu habitat, kami tetap putar lagu dari gadget berdaya baterai.
Aku ga tau, apa kelompok pendaki lain juga begitu kental dengan suara lantang Iwan Fals. Sudah menjadi semacam anthem, maka songlist Iwan mengisi udara tanjakan hari itu. Tema? Iwan rasanya bukan penggiat kegiatan alam, dan lagu-lagu bertama penjelajahan rasanya bukan menu utama Iwan. Folksong Ully Sigar Rusady sepertinya lebih cocok dibawa ke hutan.
Mungkin spiritnya ya yang ingin diserap… tentang kebebasan, kemerdekaan dari berangusan sistem, keberanian menghadapi ‘sulit’, dan seruan ‘ini nurani gue’ – yang bisa dikatakan sejalan dengan nilai penjelajahan macam ini.
Bagaimanapun, kurasa tetap sangat perlu dinikmati… Terutama tema-tema lunak dan manis macam Mata Indah Bola Ping Pong, Buku Ini Aku Pinjam, atau Aku Bukan Pilihan.
KNOT FOR LIFE
Buktinya kalau pendakian kali ini adalah ‘jalan-jalan’, kebanyakan tidak punya keinginan kuat untuk muncak ke tepi kawah Gede. Hihihii…
Sebagai gantinya, kami mengisi waktu dengan berlatih tali-temali, simpul-simpul standar yang paling sering digunakan. Dibawakan oleh Mas Ibo, selama lebih kurang satu jam kami berkutat dengan tali prusik yang dipotong-potong dibagikan untuk praktikum.
…
Dan hari pun berlalu.
Dengkul-dengkul masih bergetar, sulit ditekuk,… tapi rasa kangen sudah menyerbu.
Rindu pada malam bulan purnama di langit tanpa gangguan bangunan atau tiang listrik;
Kangen pada terbangun kedinginan tengah malam dan bingung mau ngapain karena tenda-tenda sebelah sunyi senyap;
Kangen pada suasana obrolan riuh dengan teman seperjalanan di mana aku bisa tertawa lepas dan menjadi sebodoh-bodohnya, tanpa kedok;
Rindu pada udara dan suasana yang murni dan hening, sampai-sampai tak bisa memahami kenapa tidak lebih banyak orang ingin merasai pengalaman sebaik ini.
Gambar dari sini.

