Hormati Pengguna Jalan
Benar juga gumam beberapa orang… di mana dong, kita bisa merasa aman? Sementara fasilitas umum yang disediakan negara tidak menjamin selamat. Bahkan jalan kaki di jalur yang seharusnya pun masih disambar supir mabok!
Gue pejalan kaki dan pengguna transportasi umum (soalnya sudah ga berminat bawa kendaraan sendiri di Jakarta ini). Setress tiap kali lihat kelakuan sesama pengguna jalan yang ga patuh aturan. Roda doa, bahkan sepeda penjaja minuman probiotik, jalan di sisi kanan berlawanan arah, demi mencapai belokan lebih cepat. Pengemudi (baik motor atau mobil) mengendali sambil sms-an, santaaaai beneur. Trotoir dipenuhi kaki lima.
Pejalan kaki juga sama semprulnya. Maunya turun dari angkutan umum tepatttt di depan rumah, bukannya di halte yang sudah ada. Nyetopnya juga gitu, di bawah rambu S-coret! Nyebrang sembarang di luar jalur yang sudah disediakan.
Tapi gue ga berhenti berharap, agar orang-orang bisa saling lebih menghargai. Bukan hanya roda banyak terhadap roda sedikit (yang sering diuntungkan karena jumlah rodanya lebih sedikit!) – yang sedikit juga kudu hormat sama sesama pengguna. Yang cuma bisa jalan kaki juga wajib tertib dan hormat sama yang beroda, jangan cuma modal nekat hidup di jalanan.
Juga ga berhenti berdoa, semoga Tuhan melindungi pejalan kaki yang tertib. Yang tertib aja lho ya, karena mereka pasti sudah ngerti hak dan kewajibannya, ga egois, menjalankan ikhtiar untuk keselamatan diri – ga cuma mengandalkan pengertian orang lain.
Amin.
pertanyaan damai
memangnya aku peduli apakah biru atau merah
mana utara mana selatan
siapa kiri siapa kanan
?
aku cuma peduli suara di dalam sini
yang lebih bisa mendengar biru daripada merah, misalnya
menyuka utara daripada selatan, misalnya
memilih kiri ketimbang kanan, m i s a l n y a
kenapa kita jadi keji terhadap yang beda?
kalau kau membenci, apakah karena terluka? atau iri?
bukankah tujuan yang sama lebih penting, untuk ketemu damai?
Living without instagr.am
Jujur, gue suka sekali dengan aplikasi macam-macam filter dan efek foto yang diproduksi untuk gadget berlogo buah apel ini. Semua warna-warna fantasi ada. Termasuk tonal-tonal klasik yang kembali disuka.
Tapi gue baru tahu, ternyata foto-foto yang digelar di galerinya tidak selalu hasil bidikan sendiri atau bahkan hasil rekam gadget dimaksud. Member boleh me-repost gambar apapun yang kemudian diolah dahulu sesuai selera individu melalui ‘mesin’ yang disediakan Instagr.am. Gue jadi bertanya-tanya tentang posisi hak cipta dan kekayaan intelektual karena dalam pandangan gue (dan mungkin hobbyist foto konvensional umumnya…?) menghasilkan sebuah foto bukan hal yang sederhana.
Maka kemudian ketika sebuah foto dari kamera gue naik tayang di kalender kantor, gue merasa senang tapi juga sedikit terganggu karena di balik gambar itu, situasinya cukup rumit. Bukan gue yang menekan tombol shutter . Gue tidak merasa berhak atas penyebutan nama untuk gambar yang ditayangkan itu.
Mungkin gue dianggap bereaksi berlebihan ketika kemudian berinisiatif untuk menyatakan secara resmi dan tertulis untuk menjelaskan situasi foto dimaksud. Gue lebih senang kemudian dianggap sebagai representasi saja dari event berlangsung yang terabadikan. Itu lebih fair. Dan akibat-akibat (buruk maupun baik) yang timbul dari belakang hari dari gambar tersebut. Gue katakan baik dan buruk maksudnya, seperti juga disclaimer mengenai tanggung jawab photo-release yang harus ditanggung oleh pemotret, maka penghargaan, pujian, juga harus diterima oleh pemotret sesungguhnya.
Maka kemudian gue beranjak ke permasalahan hak cipta dan kepemilikan kekayaan intektual. Sensitivitas gue untuk memperhitungkan itu tentu berbeda dengan orang-orang lain. Buktinya, temen-temen gue (yang ada dalam foto event tersebut), enteng-enteng saja terhadap hal itu dan ga mempermasalahkan. Artinya, kalau gue akui sebagai foto gue pun, mereka tidak ambil pusing. Sementara dalam pemotretan, peran penekan tombol shutter itu sangat penting. Karena tangkapan viewfinder adalah sepenuhnya identitas si pengintai. Belum lagi dalam motret-memotret dipercaya bahwa potret yang sesungguhnya itu ada di dalam benak, abstrak. Penekan tombol shutter-lah aktor utama untuk menjadikannya nyata. Motif yang sederhana aja sebetulnya, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Yang menjadi hak orang lain maka yang berhak perlu tahu, sesederhana apapun itu.
Baru-baru ini tertangkap lagi seorang pemalsu koleksi foto, yang me-rename sejumlah foto-foto bagus yang didapat lewat internet atau website, kemudian di-repost dan diakui sebagai milik di dalam web/blog pribadinya. Tentu saja tindakannya dianggap tidak terpuji dan seluruh pemerhati orisinalitas foto dan warga dunia maya mencatat namanya dalam buku hitam.
Kembali ke instagr.am … apakah hal-hal seperti itu terperhitungkan? Bagaimana instagr.am mendefinisikan hak karya cipta dan apresiasi? Sepanjang itu masih kelabu, gue merasa cukup untuk tidak mempergunakannya. Kalau gue mau memproduksi gambar-gambar secantik yang ada di galeri itu, gue pilih cara-cara konvensional saja.
Sekadar opini.
Surat-suratan
Ini hari kelima ikutan proyek nulis surat selama 30 hari. Cita-citaku, ya supaya rutin lagi menulis. Dan metode nulis surat emang mengasyikkan. Pertama, selama ini aku jarang menulis dalam posisi orang pertama ke seseorang kedua – dengan gaya dan muatan personal. Kedua, sudah lama sekali ga nulis surat sejak semua jarak bisa ditebus oleh teknologi. Jadi, momen ini cukup bikin exciting.
Mudah-mudahan ga kehabisan alamat tujuan. Hehehhehe. Dulu sih aku seneng nulis surat ke banyak penpals. Bisa dua lembar bolak-balik sekali sesi.
Proyek ini tentunya punya sistem seleksi supaya bisa nampil di Depan Kantor Pos. Akhirnya penulis surat harus compete untuk dianggap layak. So far, belum ada suratku yang tertampilkan. Heheheheahe. Ga pa pa. Yang penting tetap menulis.
Pada hari kelima ini aku belajar tentang gaya menulis surat yang diyakini sebagai ‘layak’. Entah mungkin ada masalah dengan kebahasaan atau mungkin selera jaman, yang jelas surat-surat populer itu gaya bahasanya memang ‘kini’, penuh jokes dan slang. Style yang serius dan ‘muram’ sudah ditinggalkan. Ujaran yang ‘direct’ lebih diterima daripada berkias-kias. Masalah umur juga berpengaruh jadinya. Aku perhatikan, komunitas yang dituju ini umur-umurannya kira-kira setengah generasi di bawahku, heheehehe. Mungkin si adminnya sudah tau aku dari cara-cara penulisanku.
OK, tapi aku ga harus jadi orang lain koq. Teteup nulis. Let me do the mistakes and find the lessons
…
