[Liburan '09] – “dari Pila…?”

Sebidang tanah persawahan dan sebuah pondok mungil. Dimiliki si empunya sebagai realisasi cita-cita lama selepas masa kerja. Pengen menikmati hidup sambil bercocok tanam, katanya.

Setelah didiami, sebagian petak diubah menjadi lahan kebun. Macam-macam sudah dicoba … dari jagung sampai melon (yang perlu perawatan extra-carefull)… juga tanaman hias seperti kebun puring, gardenia dan kemuning.

Ada kolam ikannya juga…. dan mata air yang tak kenal kering. Menyumbang fasilitas hidup utama dan wisata pendengaran yang alami.

Pondokan sederhana, cukup menaungi dari hujan dan panas. Dulu dimulai dengan lahan kosong, lalu perlahan-lahan tumbuh… nambah gudang alat, gudang hasil panen,… carport… Tidak ‘wah’ tapi cukup.

Di luar perimeter… berhektar-hektar petak sawah dan rumah penduduk lokal. ndeso. Sederhana dan tidak neko-neko. Jalan kecil yang menghubungkan ruas jalan kabupaten dan outer-ring nya cukup ramai dilewati penduduk berolahraga jalan pagi & ternak.

Lalu siang itu aku mau membuat rujakan alpukat hasil kebun. Kehabisan susu kental manis. Harus ke warung. Hangat matahari jam 11. Jalan kaki ke arah selatan. Sebuah warung mungil.

“dari mana Neng?”, tanya ibu warung
“dari sebelah utara Bu… sana tuh?”
“rumah Pak Deni, lain?” tanyanya lagi dengan logat tatar Sunda (tentunya)
“bukan, Bu”
“… oooh, dari pila ya?” (villa, maksudnya)
“engngngng… he-euh. Eh, bukan villa da Bu… villa mah mewah teuing…” – bener-bener merasa tak terlalu pantas menyebut pondokan itu sebagai villa.

kalau menyebut ‘villa’ kan langsung inget kawasan Puncak Gunung Mas… yang penuh dijejali rumah-rumah indah teduh dan pekarangan asri. bergaya tropik, mediteran, atau klasik gaya versailles. mewah. tentu tak bisa pondok Samaboa ini disejajarkan dengan mereka.

… tapi mungkin memang ada kesamaannya… yakni hanya sesekali ditempati, terutama pada saat-saat liburan ya, jadi layak disebut villa…?

Ini rumah untuk tetirah.

.

Add comment December 23, 2009

Liburan ‘09


Yang kuartikan sebagai liburan ternyata lebih berupa waktu beristirahat di rumah atau dekat keluarga… sedangkan waktu-waktu meninggalkan kewajiban rutin (mis. pekerjaan) tetapi tidak di rumah… contohnya kalau aku pergi diving atau travelling… adalah sebuah kegiatan yang berbeda, it’s having fun, liburan yang bobotnya lebih rendah.

Dan liburan yang sesungguhnya adalah waktu aku bisa menjadi ‘telanjang’, mengelupas semua topeng-topeng sosial; waktu untuk benar-benar menghabiskan masa sendiri… termasuk untuk tidur seharian, tak dikejar-kejar jadwal.

Liburan yang sesungguhnya tidak harus berisi kegiatan having fun… tapi lebih berupa sesuatu yang membuat aku kembali ke titik nol… lalu sesudahnya kemudian beranjak kembali untuk mengada…

Dan inilah liburan tahun ini… :-)

Setelah sempat tertunda karena workshop departemen mengharuskan aku berangkat ke Balikpapan, sepulangnya aku langsung mengambil cuti dan ‘melarikan diri’ untuk meninggalkan rutinitas.

Ke sebuah desa bernama Samaboa… di kaki Gunung Karang, Pandeglang, aku mendamparkan diri.

Hening, udara bersih, matahari hangat, hujan bening, angin sejuk, dekat dengan tanah, neka ragam hayati, serba alami, sederhana…

Semuanya c u k u p … :-)

Add comment December 23, 2009

Alloh sangat sayang padaku…

pada saat mana biasanya aku mudah tersulut untuk geram (short fuse), merasa terluka dan melepas dendam ternyata aku malah lebih menahan diri. sangat.

membiarkan waktu mencairkan kejenuhan di dalam kepala… menyibukkan hati dan pikiran dengan banyak hal yang memerlukan perhatian dan tenaga…

tidak bereaksi spontan… mengawasi, menimbang…

di akhir hari, mataku terbuka pada detail-detail yang terlewat. yang kalau sejak tadi aku mengetahuinya tentu tak perlu aku menjadi geram.

mana terpikir ini semua setadi-tadi…. sungguh, pemeliharaan Alloh saja yang menjagaku. menghindarkan dari malu dan musibah yang tak perlu.

Subhanallah…

Add comment December 21, 2009

saat terbaik

bener-bener deh… kalau ga mau disiplin untuk bersikap optimis dan melihat ke arah depan… kita akan jadi orang yang selalu merugi karena merasa tertinggal dan terpinggirkan

heran juga kadang… dengan segala ketidakpedulian kepada misi dan ketiadaan visi, kenapa manusia, kita, aku… masih bisa di sini hari ini? masih diberi hidup?

mungkin tugas kita memang belajar… sampai ke tingkat kejenuhan tertentu, yang tiap-tiap orang berbeda percepatannya
mungkin juga… hidup hanya masalah sambil menunggu kontrak berakhir

tapi

garing juga ya kalau sambil nunggu jatuh tempo itu kita cuma mengalami kegagalan demi kegagalan
- kenapa ga lihat sisi positifnya saja, supaya hidup lebih berwarna

p o s i t i v o . . .

hanya perihal menyebrang dari satu sisi ke sisi lain yang dibatasi garis tipis,
tentang menggeser sedikit letak ‘kaca mata’ perspektif terhadap hidup

buat kita yang baru terbangun, dan tertinggal untuk belajar membuat rencana jangka panjang…
menghadapi hari ini saja, rasanya, sudah cukup berat tantangannya,
mana ada waktu membanding-bandingkan diri dengan orang lain?!

jadi, daripada mikirin ‘kenapa aku tidak seperti dia?’ …. lebih bagus memikirkan kebalikannya : ‘kalau aku ga seperti dia, itu karena aku beruntung tidak harus menghadapi hal-hal seberat permasalahannya’

dan tak ada saat terbaik selain saat ini
kudiberi hidup
kesempatan untuk mencerna
ada rencana besar dibalik semua peristiwa… dan semuanya baik
.
.

Add comment December 11, 2009

SENI

“Art doesn’t come from happiness”

Seseorang mengatakan ini padaku

Seperti menjawab keraguan

 

Nyatanya hampir sepenuh kesadaranku bersepakat dengan itu

Seni memang tidak hadir dari kebahagiaan, ketentraman, kedamaian

 

Semua rupa, kata, gambar, gerak yang meruapkan hawa seni hanya dilahirkan dari perih dan luka

sungguh ironis

 

Setiap seni menyimpan kerinduan, ia miris dan mendayu

Sering kali juga amarah, pekik ketersiksaan…

dari luka yang entah kapan tercipta, ia menyumpah serapah

 

Kalau tertawa, selalu ia sinis

Kalaupun indah, ia memerlukan kepedihan untuk dinista

seperti sisi mata uang, mengabadi di balik ada dan kasat mata

 

Lalu, apakah kesenimanan adalah penghargaan dari kehidupan, singgasana untuk kepedihan?

… dan para seniman adalah anak-anaknya?

 

Manakala damai dan bahagia hanya menerbitkan tawa

sedih dan luka akan merupa seni

 

Dan seni juga bukan Dunia dalam Berita…

datar seperti surat kabar atau daftar belanja

.

Add comment December 9, 2009

perhelatan

H – 12 jam

.

siang tadi aku datang

bergabung dengan riuhnya persiapan dan pecahnya derai tawa

ada juga wajah-wajah terundung risau dan beban pikir… jam demi jam mengejar kesiapan

.

it’s no longer my home

not my crowd anymore

yang bisa aku lakukan

… aku lakukan

selebihnya

i’ll be invisible… i’ll keep my mouth shut

.

good luck, mates

Add comment December 2, 2009

I’m Exist

Setelah bolak-balik nongol di koran lokal (kelas kotamadya di Kalimantan) pada saat sebenernya merasa ga punya apa-apa untuk dibanggakan, akhirnya kemunculan di media kali ini diapresiasi karena hasil karya. Hihihihi

Iseng mengikuti sayembara di sebuah majalah wanita, eeeeh, akhirnya dapet hadiah pocket camera :-)

Teriring harapan, ini menjadi awal dari karya-karya berikutnya yang layak dinikmati khalayak dan eksis :-P

Belajar teruuuuuussss…. ^.^

*thanks to kupukupumimikri yang cantik*

1 comment December 1, 2009

Ied Qurban

secara untuk beli hewan qurban tahun ini aku belum lagi bisa…

I have to think another format untuk ber-kurban…

prinsipnya : mengikhlaskan milik kita yang berharga, memberikan yang terbaik serta bermanfaat bagi yang lain, dan didasarkan pada niat mencapai ridho Alloh

….

dengan semakin banyaknya iming-iming kesenangan pribadi, aku rasa sedikit banyak sudah sempat lalailah aku pada kepentingan orang lain.
bercita-cita tidak menyusahkan orang sudah tidak lagi cukup
memberikan manfaat nyata adalah tingkat kerahiman berikutnya yang harus diraih
dan itu baru akan tercapai kalau kita menyisihkan waktu untuk peduli

YA,
aku pikir, aku bisa mengorbankan waktuku mengejar kesenangan-kesenangan individualistik
dengan begitu aku akan punya waktu melihat dan mengurus orang-orang di dekatku

… sekadar pemikiran sederhana (sama sekali bukan menyederhanakan masalah) untuk memaknai perayaan Ied Qurban tahun ini.

Add comment November 26, 2009

My Physical Fact : r e v e a l e d


gue pikir gue udah tahu bahaya kesehatan apa yang mungkin gue hadapi, yaitu gangguan ginjal, karena gue emang rada males minum ( terutama kalau ‘tidak berwarna’ he he.)

ternyata…

ceritanya :

tadi pagi memberanikan dan membulatkan tekad untuk ikut serta mendonorkan darah. dari dulu udah penasaran… – harusnya ini cara yang mudah untuk dapet keuntungan ganda… beramal sambil menyehatkan diri – tetapi ga pernah terealisasi karena… tanpa penjelasan resmi dari mana pun, udah langsung percaya sama ‘kata orang’ kalau mengidap hipotensi ga boleh mendonor.

ummm, mungkin setengah merasa lega juga sih… ga harus melihat darah gue berpindah dari pembuluh ke kantong literan itu – honestly, it’s quite scary. he he he

tetapi tadi pagi… gue bener2 bulad tekhad… dengan stengah ragu gue muncul di ruang serba guna kantor tempat kegiatan donor darah diadakan… ngisi daftar hadir, ngisi form, ngantri di meja periksa…

begitu dipanggil… rupanya periksa kadar haemoglobin dulu… dan TESSssssss…. mesin pemindai menunjukkan angka 11.7

“Wah, sekarang belum boleh ni Mbak… Hb nya rendah…”, kata si ibu mantri

dengan sedikit bingung gue mencari kepastian bahwa kata-kata si ibu adalah vonis kalau gue memang ga bisa ikutan mendonor.

….

SO…
inilah kenyataan berikutnya yang menyadarkan gue untuk harus lebih memperhatikan kondisi fisik.
gue jadi ngerti
- kenapa dari dulu gue ga kuat kalau lari keliling lapangan Merdeka (di Balikpapan)
- kenapa gue lebih cepet ‘kehabisan nafas’
- kenapa cukup kerap orang-orang menyangka gue sedang sakit karena terlihat lebih pucat
- bisa jadi selama ini kemauan gue mungkin lebih berperan daripada kemampuan fisik :-P
- bisa jadi ini yang menyebabkan gue harus meneruskan test treadmill yang sudah beberapa kali direkomendasikan dokter

sebenarnya alhamdulillah, sampai hari ini gue tidak pernah mengalami pingsan walaupun tekanan darah gue sering menunjukkan angka di bawah 100.
alhamdulillah, sampai kemarin gue udah melakukan kegiatan fisik yang sebenernya dalam kategori berat tapi gue masih kuat : menyelam, hunting kemana-mana dengan ‘pikulan’ yg lumayan, … bahkan naik gunung… belum lagi kemarinnya sering banget memforsir diri kerja sampai larut (deeeuh, dedikasi amat?!)

tetapi fakta pagi ini gue ga bisa abaikan lagi; dan gue sudah harus lebih cermat mengingat usia juga sudah bertambah…

Mulai hari ini
- gue mau cari info sebanyak mungkin tentang anemia dan pencegahannya
- gue akan cari waktu untuk treadmill test
- gue harus istirahat lebih banyak dan tidak begadangan lagi
- gue harus konsumsi makanan sehat dan suplemen penambah darah
- gue harus ngurangin ngupi-ngupi
- gue boleh MAKAN KAMBING lebih banyak daripada orang-orang lain :D
- gue harus memastikan kondisi gue membaik sebelum melakukan aktivitas-aktivitas fisik berat lagi
- teteup… wajib minum air putih yang banyakkkkk

ada saran lain…?

2 comments November 24, 2009

Dunia | Akhirat

Ketika banyak dari waktu kita digunakan untuk memikirkan dunia
niscaya kesedihan akan menguasai benak dan hati

Sebaliknya, jika banyak-banyak kita memikirkan akhirat
insya Alloh kita akan disibukkan dengan mengejar amal perbuatan

….

Add comment November 23, 2009

Previous Posts


kabar terakhir

nenangga yuuu...

di musim lalu

commentaires

andry on I’m Exist
kembangbakung on pagi malas
kembangbakung on My Physical Fact : r e v e a l…
andry on My Physical Fact : r e v e a l…
andry on pagi malas