jump to navigation

AMNESIA July 25, 2008

Posted by kembangbakung in feature.
add a comment

(duduk tenang-tenang dan renungkanlah)

 

Saya sedang membaca National Geographic Indonesia terbitan November setahun yang lalu, ketika sebuah tulisan karya Joshua Foer memesona dunia pikiran saya dengan penggambaran tentang amnesia anterograde (tidak dapat membentuk ingatan baru) – retrograde (tidak dapat mengingat kejadian lama) yang di”derita” oleh seorang individu.

 

Ia tidak ingat bahwa ia memiliki masalah ingatan

Ia lupa bahwa ia selalu lupa

Setiap pikiran yang hilang tampak seperti hanya kebetulan keliru

Menjengkelkan dan tidak lebih

Ia hidup dalam kerangka waktu yang terbatas di saat ini

 

Pada suatu pagi yang biasa ia bangun, sarapan, dan kembali ke ranjang untuk mendengarkan radio.

Saat kembali ke ranjang, tidak selalu jelas apakah ia baru saja makan pagi atau baru saja bangun.

Seringkali ia akan makan pagi lagi dan kembali ke ranjang untuk mendengarkan radio lagi.

Bahkan pada beberapa pagi ia akan sarapan tiga kali…

 

Tanpa ingatan, ia telah sepenuhnya terjatuh keluar dari waktu.

Ia tak memiliki aliran kesadaran, hanya tetesan kecil air yang dengan segera menguap.

Terperangkap dalam kondisi ketidakjelasan dari masa kini yang abadi,

antara masa lalu yang tak dapat diingatnya,

dan masa depan yang tidak dapat direnungkannya,

ia menjalani kehidupan yang menetap,

sepenuhnya bebas dari kekhawatiran.

 

 

 

Lalu, secara spontan kita akan merasa kasihan padanya… merasa iba pada yang sebenarnya tidak pernah dirasakannya sebagai penderitaan.

(Jadi, siapa sebenarnya yang perlu dikasihani?)

 

Saya takjub menyadari begitu hebatnya fenomena sel kelabu ingatan manusia, betapa sebetulnya ia dekat tapi kita tidak memahaminya.

Dan karena ketakutan saya akan lupa bahwa saya pernah memiliki pengetahuan ini, saya titipkan ingatan saya di sini…

 

25 Juli 2008

 

 

Aunt of Twins July 16, 2008

Posted by kembangbakung in d-blog.
add a comment

What a happy Aunt I am… Last Monday – July 14th , I got twin-nieces from my lil’ sister :-)

Happier I am, I would watching them (also their elder sister and chubby-cousin) growing up, closely. Hmm, can’t hardly wait…

ceritera…. July 12, 2008

Posted by kembangbakung in d-blog.
1 comment so far

Kau… mencintaiku

alangkah indahnya

Diving Wonderland July 12, 2008

Posted by kembangbakung in feature.
add a comment

Hi…

Baru aja pulang dari perjalanan menyelam. Kali ini ke kepulauan di utara Kalimantan Timur, Derawan – Sangalaki – Kakaban.

Konon, destinasi ini adalah yang tergolong sulit dan mahal di Indonesia… Tentunya akan lebih rumit kalau harus arrange perjalanan sendiri. Jadi begitu announcementnya muncul di web kantor, aku merasa dapet angin seger.

It’s my first trip setelah sertifikasi… menjelang keberangkatan rasanya takut-takut tapi pengen begitu. Takut lupa sama teori-teori menyelam yang udah dipelajari. Bahkan sempet ragu berat sampai detik terakhir… kalo aja nyaliku mengecil 1 derajat lagi, mungkin sekali aku membatalkan rencana. Untungnya tidak sampai terjadi… karena ternyata trip ini bener-bener luar biasa.

Untuk sampai ke sana rombongan kami… ber-13 (Ocean 13, eh?) harus menempuh perjalan udara kurang lebih 1 jam dengan pesawat F-50. Schedule ke Berau tidak banyak, mungkin hanya 3 maskapai dan masing2 cuma singgah sekali sehari. Dari Berau (ibukota kabupaten) kami harus menempuh lagi 2 jam perjalanan darat sampai ke pelabuhan di Tanjung Batu. Nah, perjalanan yg inilah yg menjadi medan siksaan buatku. Dengan gaya mengemudi tipikal setan jalanan luar kota dan medan berliku yang asing begini, jadilah aku terserang mabok! :-( … mohon maaf neh ‘tuk teman2 seperjalanan, Rian dan Mas Nanang. Untungnya sekarang gaya mabokku udah lebih ‘dewasa’… less-polluting, hehehe…

Dari Tanjung Batu, kami harus menyeberang lagi ke pulau terpencil Derawan… dengan speed boat berkekuatan 200 PK. Again, a bumpy ride, berhubung gelombang sore itu sudah meninggi. 45 menit diguncang dalam palka sempit. Rada-rada bikin kapok juga sih, Haha… Syukurlah, 100 meter ke tempat bersandar kami memasuki perairan dangkal, biru kehijauan, jernih,… dan kami menyaksikan pemandangan penyu-penyu besar berseliweran sampai ke kolong-kolong rumah panggung! Bak orang kampung masuk kota, orang-orang kota ini sawan melihat keindahan kampung terpencil ini.

Boat langsung bersandar di ‘pekarangan’ penginapan, kami langsung diproses ke kamar2 tinggal setelah menemui ‘juragan’ penginapan, Bapak Sanusi. Rencananya kami akan saling berbagi tempat tidur sederhana ukuran queen-size. Akibat keganjilan jumlah anggota, akhirnya aku dapet kamar bersendirian. Calon rekan kamarku, orang Perancis, Cecile – akhirnya memilih sekamar dengan rekan sebangsanya yg pria (o iya, kami memang cuman berdua yg berjenis wanita) , biar lebih bebas ngobrol, katanya. Hehehe… Kamar penginapan ini berupa bungalow papan yang dibangun di atas tiang-tiang setinggi 5 meter dari dasar pantai. Ada AC dan kipas angin di tengah langit2 ruangan, dengan catatan, listrik PLN baru “on” pukul 18.00. Perabotan minimalis, tempat tidur dan meja. Di terasan ada juga meja dan 2 kursi. Kamar mandi, tepatnya ruang toilet dilengkapi pancuran dan bak plastik untuk yg pengen jebar-jebur pake gayung. Untuk aku pribadi, semua sudah mencukupi keperluanku. Agak berlebihan dengan adanya AC karena toh akhirnya sepanjang 3 malam aku tidur dengan sirkulasi udara laut langsung dari 4 buah daun jendela yg kubuka lebar-lebar. Hebatnya, batuk2ku semakin membaik di sini (setelah sebelumnya bikin cemas karena pake pilek segala!). Bungalow sederhana ini saling bertetangga dengan 20 unit lainnya di dua sisi dermaga. Antar sisi dijembatani tempat duduk2 yg digunakan pengelola untuk meletakkan galon air mineral. Ujung dermaga satunya adalah ruang makan dan tempat berkumpul yg lebih tertutup. Penginapan ini menyediakan makan pagi-siang-malam dan coffee break sederhana di sana. Kalau mau yang lebih ‘ngota’ ada juga cooler berisi minuman kaleng dan aneka juice kemasan. Soal menu makanan… nanti aku bahas di bagian lain.

As we arrived, kepala rombongan, Arief Nur Budiman, langsung mencari dive operator yang sebelumnya sudah dikontak dari Balikpapan. Rupanya mereka bermarkas di sisi pantai yg lain, kira-kira 3 menit ke timur (sebenernya bisa kelihatan berseberangan dermaga dari arah jendela kamarku). Jadilah kemudian kami menuju ke sana dan bersiap-siap untuk diving pertama… orientasi perairan setempat.

Setelah menunjukkan sertifikat, pilah-pilih peralatan (buat yg belom punya alat sendiri), dan briefing, dengan 2 buah boat kami langsung menuju spot terdekat dan terjun ke air membiru. Gagap-gagap juga aku setelah trip sertifikasi 3 bulan yang lalu baru kali ini lagi pakai gear selam. Hehe… untungnya ga parah2 banget. Masalah sedikit dengan weighting dan membiasakan kembali oral breath dan mengendalikan buoyancy. Selanjutnya, menikmati pemandangan indah penuh warna di dasar laut yang disarangi penyu-penyu… That’s why it’s called “Turtles City”. Menjelang senja, kami sudah kembali ke penginapan. Sampai saat itu aku masih dalam kondisi adaptasi. Masih agak kaget dengan situasi baru… sementara pikiran masih agak lengket sama meja kerja. Jadi, setelah makan malam aku duduk diam-diam di kamar mengamati laut malam hari yang kebetulan lagi diterangi bulan purnama… sampai akhirnya tertidur.

Day-2 : Sangalaki – Land of Manta… Semangat empat lima! Pagi-pagi sudah bangun. Angin laut masih deras dan gelombang agak tinggi. Setelah sarapan pagi, kami bergegas ke pangkalan operator. Ada perubahan rencana dari jadwal semula… kami beralih tujuan ke Pulau Sangalaki. Harus ditempuh dengan boat dalam waktu satu setengah jam. Gawatnya, gelombang belum juga reda! Jadilah kami melayari rough sea sekali lagi…. Hmm, buruk buatku. Mabok yang kemarin belom begitu sembuh. Aku agak lambat juga beradaptasi setelah perjalanan panjang kemarin, dan pagi itu aku dengan sengaja tidak menenggak pil anti mabuk.

Sangalaki adalah sebuah pulau kecil yang dari sisi kedatangan kami terlihat tidak berpenghuni. Tapi katanya di sisi sebaliknya ada beberapa penghuni yang memang sengaja bertujuan menyepi. Namun Sangalaki tidak sehidup Derawan. Perairan tempat kami bersandar sangat jernih dan biru. Ini adalah tempat ‘berburu’ pari hantu atau manta-ray (Manta birostris). Kami menemukan juga hiu muda yang sedang tidur di dasar dan aneka warna nudibranchs. Pelajaran pertama… sulit untuk diver pemula seperti aku berkonsentrasi menjelajah dasar laut untuk mendapatkan makhluk2 mungil itu. Jadi, ikuti saja petunjuk divemaster yang dengan santainya melayang menunjukkan di mana bisa menyaksikan kehadiran mereka.

Di tempat ini kami merencanakan 3 dives. Sayangnya… karena fisikku masih lelah, akhirnya aku cuma terjun sekali. Begitu naik ke perahu, mabok lautku kambuh. Aku memutuskan untuk beristirahat saja di boat for the rest of the day. Makan siang di boat pun aku absen, karena menelan cokelat bar pun tidak bisa menenangkan lambung yang bergolak. Pelajaran kedua… pembuktian sekali lagi, kalau kata orang2 mengobati mabuk adalah dengan nyemplung ke air… it doesn’t work with me. Buatku, duduk diam-diam memandang horizon, menikmati ayunan laut, sampai tertidur… adalah obat terbaik. Pelajaran selanjutnya… next trip, jangan lupa minum obat anti mabok! Hehehehe…. Tapi rupanya hari itu memang tidak banyak manta yang lewat di dasar laut. Itu pun tidak dalam kawanan besar. Mereka melayang diam-diam dan solitaire di permukaan… yang akhirnya lebih mudah disaksikan dari atas boat. Hehehhe… Well, tidak banyak yang bisa kuceritakan deh akhirnya. Aku cuma asyik menyimak teman-teman mengobrol selepas penyelaman atau cengkrama para crew boat dengan logat lokal sana. Of course, mereka punya bahan untuk ditertawakan dengan maboknya aku. He he

Orang-orang Derawan dan sekitarnya menyebut diri mereka orang Bajau… kira-kira artinya kaum bahari. Tidak ada hubungannya dengan Suku Bajau yang hidup di perahu-perahu yang melayari perairan Sulawesi (meskipun ayunan logatnya mirip!). Mereka bukan pula percampuran orang-orang Banjar yang biasanya banyak tersebar di pesisir Kalimantan. Mereka sama sekali tidak punya kosa kata yang mirip dengan orang Banjar maupun Bugis. Cerita punya cerita, nenek moyang mereka justru datang dari Kepulauan terluar di selatan Filipina. Nah, bisa jadi mereka akan punya kemiripan dengan orang-orang Sangir Talaud di utara Sulawesi. That will be my homework when I go to explore Bunaken, someday :-) . Cerita lucunya, pemilik boat kuning berkekuatan 200 PK ini orangnya sangat rapi. Dia memang pengusaha angkutan dan punya 2 boat yang dulunya dipekerjakan melayani perusahaan penambang batubara. Bapak ini, aku lupa namanya, sangat sayang terhadap perahunya. Dia lah yang paling risih kalau tiba waktunya bersandar dengan boat pengangkut peralatan, khawatir boatnya lecet! Hehehe… Dengan cermatnya pula ia melapisi sisi boat setiap kali tangga panjatan dipindahpasangkan untuk para penyelam naik dari air.

Untungnya perjalanan pulang ke Derawan sudah tidak terlalu bergelombang. Tapi rupanya, sudah jatuh pula korban mabok laut lainnya. Hihihihihi… Kata mereka siiih, udah dua puluh tahun ga mabok, baru kali itu lagi. Hehehe, who knows? Kalau sudah begini baru kerasa enaknya jadi perempuan, kelemahan fisik begini jadi ga nista-nista amat untuk diakui. Hahahaha…

Ejek-ejekan mabok laut masih berlanjut di meja makan malam meningkahi perbincangan dan bagi-bagi cerita mengenai temuan siang itu… Setelah aktivitas yang melelahkan seperti tadi, makan malam sederhana jadi nikmat rasanya. Menunya tentu ikan laut! Digoreng dengan garam, didampingi sayur sop yang isinya mayoritas kubis (hehe) dan pedas sambal terasi, wahhhhh…. adem benerrrrrr (meminjam seruan Mas Puput – si “model FHM” gondrong – yang ikut dalam perjalanan ini). Seusainya, kami bergerak menyusur pantai untuk mencari penyu-penyu yang mendarat untuk bertelur. Nah, ini cerita lain lagi.

Kami terpecah menjadi beberapa kelompok. Akhirnya aku berombongan dengan Rian, Mas Nanang, Mas Puput, Mas Dwi, dan Beben menyusur ke arah timur tanpa tahu sebenarnya di spot mana bisa menemukan situs peneluran dimaksud!. kami melintasi resort mewah yang sepi dan setelah menanyakan arah, kami meneruskan ke timur. Pake nyasar dulu ke daerah pergudangan sebelumnya! Hehe. Kami melintasi daerah pantai pasir yang rapi dan tertata. Di hadapan kami berdiri kerangka kayu membentuk tribune penonton. Dan benar, tempat ini rupanya sedang dalam pembangunan fasilitas tournament volley pantai untuk PON XVII !! Kami sempat diteriaki untuk tidak menginjak pasir yang baru diayak itu (katanya!) padahal di beberapa titik tribune situ sudah ada muda-mudi mojok – kalau ga lewat di pasir situ trus dari mana datangnya mereka?! Aneh!

Kami sempat bertemu lagi dengan 2 orang pemuda dan kepada mereka kami menanyakan lg arah tujuan kami. Rupanya mereka adalah petugas kepolisian yang pekerjaannya berpatroli di kawasan itu – untuk menangkap pencuri telur penyu! Dengan nada sopan mereka menelepon rekan lain dan mengatakan “ada banyak tamu yang ingin melihat penyu”. Pada saat itu kami belum sadar kalau kegiatan eksplorasi malam ini sebenarnya tidak terlalu baik untuk para penyu itu. Tanpa menunggu komando, kami pamit dari kedua pemuda tersebut dan meneruskan pencarian. Hampiiiir aja kami putus asa, karena tahu-tahu kami sudah sampai di ujung resort dan area di depan kami terhalang semak pantai. Kami masih meneruskan langkah sampai di belakang konstruksi pagar ulin 2 meteran yang berbentuk bujursangkar bertepi seng dan kawat duri. Kami masih saja kasak-kusuk celingukan, karena katanya mencari penyu itu lebih mudah kalau sudah menemukan jejaknya dari laut.

Rian sudah berada lima langkah di depanku ketika aku mendapati seonggok batu licin dalam sebuah petak seperti hasil cangkulan di antara pohon-pohon kelapa “eh, ini bukan penyu kan? Coba Ben, sorot pakai hape…” dan begitu cahaya mengarah ke onggokan, ternyata batu itu bergerak dan mendesis! Walah! Itu penyunya boook! Gede bangeeeeddd… Di tengah kekagetan itu kami langsung membeku dan bisu. Katanya ga boleh ribut2 deket penyu… Jadi kami mengambil jarak 2 meteran di sekitarnya. Diam… duduk bersila, menyandari di batang kelapa… menyaksikan… mendengarkan si penyu itu beraktivitas. Rupanya dia tengah menggali dengan keempat siripnya (yang disebut fase ‘body-fitting’ oleh para pelestari). Lama juga kami nongkrong sampai Mas Puput akhirnya menyerah karena ngantuk… Dua teman yang menyusul melewati kami di garis pantai (ternyata itu Garonk dan Arief yang juga lagi mencari jejak) tak kami kenali dan tidak kami panggil demi menjaga ketenangan. Sampai kira-kira setengah jam seorang pemuda berjaket merah menghampiri kami dan menanyakan asal dan tujuan kami. Ternyata dia adalah salah satu petugas lapangan dari WWF yang bermarkas di kawasan ini. Mungkin agak kesal juga dia ketika akhirnya dengan setengah berbisik memerintahkan kami untuk menjauhi area itu. Hehehe… akibat sok tahu nih.

Akhirnya dari tempat yang lebih jauh dan agak lebih terang kami ngobrol-ngobrol dengan si pemuda – lagi-lagi aku lupa ga nanya siapa namanya. Kami dapat penjelasan banyakkk sekali tentang penyu-penyu Derawan. Hari-hari itu rupanya adalah musim-musim peneluran utama setelah periode 3 tahun sekali untuk penyu yang sama. Dalam masa peneluran itu si penyu akan bertelur tiga kali dalam periode 11 hari kunjungan ke pantai. Banyak di antara penyu itu adalah pelayar jarak jauh – Buku Coral Reef menyebutnya The Ancient Mariners. Kebanyakan mereka berasal dari Malaysia bahkan dari Samoa! Bisa dikenali dari tanda pengenal yang terpasang di sirip. Penyu-penyu ini sudah dipantau dan diregister di lembaga pelestarian. Proses penelurannya juga tidak mudah. Biasanya mereka sangat-sangat peka dan mudah terganggu oleh cahaya dan getaran langkah kaki. Untungnya penyu temuan kami malam itu agak sedikit budeg atau mungkin udah kebelet mau nelor juga ya?.. hehe. Yang jelas perlu waktu 3 jam penuh dari pendaratan, penggalian lubang tubuh, lubang peneluran, penguburan, dan akhirnya kembali ke laut. Itu pun kalau keadaan sekitar mulus-mulus selalu. Sedikit aja dia merasa terganggu atau dalam penggaliannya terhalang akar pohon, maka ia akan meninggalkan galian itu dan memulai proses dari awal di tempat yang lain. Fiuh! Dan itulah yang terjadi ketika tanpa terasa obrolan makin seru dan makin banyak petugas lapangan WWF yang datang – si kuya meninggalkan lubang galiannya! Oops! Akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan di kuya beserta para pengasuhnya. Mereka harus menunggui penyu itu bertelur sampai selesai karena rawan pencurian! Mereka harus memindahkan telur-telur itu segera ke dalam penangkaran yang rupanya adalah bangunan pagar ulin yang kami sandari tadi. Untungnya saja… kami tidak sampai merusak ritual penyu besar itu… karena keesokan harinya di kantor WWF (yg ternyata bersebelahan dengan pangkalan dive operator Danakan Putra) aku dapet konfirmasi bahwa malam itu telah dipindahkan 107 butir telur! Jumlah yang tidak sedikit, namun, kalau mempelajari siklus hidup penyu lebih jauh, dari sekian jumlah itu, mungkin cuma 2 atau 3 anak penyu yang bisa bertahan hidup. Soalnya selepas mereka keluar cangkang dan terjun ke laut… para predator biasanya sudah menanti. Whatta tough-life.

Aku lebih-lebih kuatir lagi dengan persiapan pesta olahraga negara ini di Derawan. Ini adalah musim2 utama… sementara mereka – penyu-penyu itu – sangat peka. Bagaimana nanti? Sementara resort itu sangat dekat dengan area peneluran. Dan sialnya lagi sisi pantai tempat dibangunnya tiga tribune besar itu semula adalah tempat2 favorite penyu mendarat dan bertelur! Belum lagi setelah pesta pora itu, apakah Derawan akan kembali tetap tenang dan asri? Ga ikhlas rasanya kalau akhirnya komersialisme menguasai pulau ini. It is a lost paradise… Apakah akhirnya harus benar-benar hilang?! Have to do something ’bout this… tapi sementara baru bisa memantau dan mencari informasi…

Day-3 : The Walls & Jellyfish…. Pagi itu kami berangkat agak siang, menunggu ombak sedikit reda. Penyelaman dimulai di sekitar Derawan, kira-kira 15 menit melingkar ke timur pulau. Kami menuruni sebuh coral reef yang mengelilingi pulau dalam dua kelompok, boat kuning beranggota 5 orang dan kelompok 8 orang yang mostly beginner. Kali ini aku di-buddy oleh Bang Syamsuddin dari operator lokal. Ga nyangka belakangan temen-temen malah meledek kalau ‘ada apa-apa’ di antara kami. Yeee, plis deh… ga usah dibahas! Hehehe…

Di sini aku belajar sesuatu tentang diriku… bahwa aku punya kecenderungan untuk curi-curi memegang komunitas dasar laut. Akibatnya, aku dapat oleh-oleh sengatan karang api (Aglaonema cupressina) waktu mau mengagetkan sekelompok Christmas-tree worms. Rasain! He he he… Begitu aku baca-baca lagi buku-buku tentang makhluk laut… aku baru menyadari bahwa boleh dikatakan sebagian besar mereka memiliki sistem pertahanan diri sejenis. Wah, cantik-cantik koq galak ya?! Boleh dilihat dipegang jangan, dong?!… Tapi aku jadi belajar sesuatu di balik itu… bahwa kehidupan di bawah sana sebenarnya rapuh dan rentan kerusakan… hanya dengan karunia kemampuan semacam itu mereka bertahan hidup dari predator dan keisengan makhluk lain.

Selesai menjelajah tembok Derawan, kami diajak ke Pulau kakaban… 45 menit dari Derawan dalam keadaan ombak sedang. Pulau Kakaban adalah sebuah pulau karang dengan garis pantai yang langsung menghujam ke perairan dalam. Hanya di bagian cekungan yang memiliki sedikit garis pantai pasir dan karang di mana kami mendapat pengalaman menyakitkan. Hahaha… Jadi ceritanya, tujuan lain hari itu adalah mengunjungi sebuah danau air asin purba Kakaban. Untuk sampai ke sana, boat kami tidak bisa menyandar ke dermaga, karena pada saat itu sedang surut. Maka terjunlah kami di bagian yang agak dalam untuk berenang ke tepian. Dasar kurang berpengalaman dengan pengamatan selintas, kami tidak ada yang aware kalau pantai landai itu penuh dengan bunga-bunga karang dan coral. Ketika akhirnya kami sampai di daerah datar, kami harus berjuang melewati karang tajam tersebut. Belum lagi repotnya harus mengganti fin dan menahan hempasan ombak yang datang. Dan… jadilah kami penuh dengan luka-luka goresan di tangan, kaki,… malang buat mereka yang mengenakan tropic wetsuit… jadi lebih banyak dapet luka-luka di daerah terbuka… Hard-landing, perjuangan… Sesampainya di pantai, masih harus menaiki sejumlah anak tangga kayu menuju puncak bukit. Fiuh, … akhirnya sebagian teman memilih untuk membuka bekal makan siang yang dihanyutkan dari boat siang itu daripada langsung menuju danau.

Pemda rupanya sudah menyiapkan infrastruktur secukupnya di pulau ini. Jalan setapak mendaki dan menurun bukit terbuat dari kayu ulin… beberapa tempat peneduhan, dan papan penunjuk. Hutan sekitarnya juga cukup terjaga … rimbun dan, aku pribadi sedikit merasa ciut dengan, suasananya yang tenang tapi seolah-olah menyembunyikan sesuatu (ga tau itu apa). Rasa takjub itu semakin menjadi begitu menuruni tangga di sisi lain dan langsung membuka pandang ke arah danau hijau kebiruan yang sangat tenang, rindang, dilingkungi tanaman mangrove. Sudah sejak terjadinya danau ini berair asin tanpa terlihat satu pun akses langsung ke laut lepas, sehingga kami menduga-duga bahwa danau ini terhubung oleh sebuah terowongan kecil dasar laut. Meskipun ditumpahi hujan tropik, derajat salinitasnya tidak banyak berbeda dari perairan sekitar. Demikian kecil dan rahasianya terowongan penghubung itu… sehingga habitatnya juga jauh berbeda dari laut di luar sana. Danau ini dihuni sejumlah besar ubur-ubur tidak bersengat – hasil evolusi ribuan tahun untuk hidup di tempat tanpa predator alam. Penghuni lainnya adalah aneka ganggang hijau – bersimbiosis dengan para ubur-ubur yang asik ‘tidur terlentang’ di hamparan ganggang tersebut. Ada juga sejumlah hewan lunak seperti cacing-cacing, lintah, mungkin juga teripang… yang berada di daerah tepi berpasir di bawah akar-akar bakau. Katanya di sini ada 4 jenis ubur-ubur… namun aku hanya menemui 2 jenis… yang merah kecoklatan dengan bagian sulur gemuk keriting – sebagai warga mayoritas, dan yang beningngngng… berbentuk seperti payung. Seru juga ketemu makhluk-makhluk ini, memenuhi kepenasaranan untuk tahu bagaimana teksturnya, reaksinya (apakah mereka buta atau tidak?) hehehe… Di sini kami tidak diperbolehkan melakukan penyelaman, jadi kami hanya snorkeling ke sana ke mari menjelajahi sebagian kecil dari sisi danau yang luas itu, foto-foto, adu terjun ke air… menghabiskan surface time sebelum penyelaman berikutnya. Jadi lupa sama perih-perih luka pendaratan tadi… :-)

Puas menikmati ‘daratan’ kami kembali ke laut, melalui akses yang sama… kembali berjuang menghindari lebih banyak goresan. Fiuh…. Sedikit kejutan, karena rombongan kami bertambah dengan hadirnya sebuah perahu kayu milik penduduk sekitar. Ternyata perahu tersebut sudah terkatung-katung 2 hari di lautan gara-gara kerusakan motor. Naasnya, perahu tersebut dihuni oleh sebuah keluarga, dengan anak mereka yang masih balita… dan selama dua hari dua malam itu mereka tidak makan! karena tidak ada perbekalan. Untunglah akhirnya bisa berjumpa rombongan kami… Setelah penyelaman nanti, kami akan membawa si ibu & si anak kembali ke Derawan dan selanjutnya akan memberi tahu warga untuk menarik perahu rusak tersebut.

Penyelaman selanjutnya, mungkin penyelaman paling berkesan dalam perjalanan kali ini… kami menuruni tebing curam di sekeliling Kakaban. Kedalaman dasarnya tidak terkirakan. Henky yang sudah advance dan turun sampai 30 meter bilang dari situ pun dia belum bisa melihat dasarnya! Aku juga tidak tersadar tersedot oleh suasana kedalaman itu sampai 20 meter, melewati batas maksimal yang diperkenankan untuk kelas OWD. Derawan Wall memiliki visibility sangat bagus, 20 meter mungkin lebih… Airnya jernih, biruuuu… saking dalamnya. Kemiringannya mengingatkan aku pada penyelaman menyusur shipwreck di Tulamben. Sepanjang penyusuran kali ini aku ga berani jauh-jauh dari buddy-ku, takut tenggelam lebih ke dasar! Eh, ternyata… memang ada masalah dengan weighting ku kali itu… over 2 kilo! BCD-ku mengantongi 2 timah ternyata! Hehehehe… Pemandangan di sini lebih berwarna. Mungkin karena hari sudah mulai sore dan berarti sudah semakin banyak ikan warna warni yang keluyuran. Setelah 50 menit menyusur kami menutup penyelaman dengan duduk tenang-tenang di perahu yang membawa kami pulang ke Derawan. Selain karena masih takjub juga agak shock dengan sebuah insiden yang menimpa salah seorang rekan yang terserang panik karena problem di regulatornya. Pelajaran besar terutama untukku… bahwa kenikmatan melakukan kegiatan ini bergantung pada pengetahuan dan kemampuan kita menguasai semua aspek… Teori, peralatan, ketenangan, self-confidence… Setiap penyelaman memang dianjurkan selalu menggunakan buddy-system, tapi itu tidak boleh membuat kita jadi ‘ketergantungan’… kalau diri sendiri ga menguasai, nanti malah akan menyusahkan buddy kita, … boro-boro mau menolong balik rekan sepetualangan kita?

Sepulangnya dari Kakaban, insiden masih menjadi topik obrolan. Malam ini beberapa teman mulai jenuh dengan hidangan sajian restaurant, jadi kami berniat mengunjungi warung sate yang kami temui di perkampungan. Sayangnya, beberapa hari ini belum ada supply daging unggas dari Berau! Hehehe, akhirnya temen2 tadi berganti menu ke mie ayam (dari warung yang lain… dan tentunya tanpa ayam! :-P ). Aku memutuskan untuk menyantap hidangan di hotel saja, tapi sebelumnya, menyeruput kelapa muda tentu saja akan mengurangi kekecewaan. Hehehe, dan kami pun ‘ngdeprok’ di sebuah pelataran rumah tempat warung kelapa muda berada. Nikmat benerrrrr…

Day 4 : Diving the Pure Shores… Hari penjelajahan dasar laut terakhir… Keadaanku semakin membaik. Laut juga semakin reda, sejak pagi gelombang sepi… Buat beberapa orang, pengalaman hari lalu berada jauh dari daratan rupanya cukup ‘menakutkan’ … Untungnya hari ini kami ga pergi jauh-jauh, masih kelihatan tanah lah hehehe… Jadi kami berangkat agak siang ke sebuah buoy mercu suar… Hal yang cukup mengagetkan adalah begitu kami turun ke dasar, terhamparlah bentangan koral dan karang yang luas dan tajammm! Jujur saja, aku pribadi masih miris inget pendaratan Kakaban kemarin, dan perihnya luka-luka belum lagi sembuh. Dengan agak-agak panik aku berusaha segera menyeimbangkan diri dan melayang di atas hamparan karang itu. Visibility kurang begitu baik… karena mungkin di sini memang daerah lalu lintas yang cukup ramai. Tapi penghuni dasar laut sini cukup menarik untuk diintip… Ada hiu, sotong, dan banyak sekali nudibranchs…

Setelah 50 menit penjelajahan, kami kembali ke pantai. Boat perlengkapan menukar persediaan tanki. Lumayan, kami bisa beristirahat kira-kira satu jam, mengembalikan pressure group ke posisi zero Nitro… Setelah itu kami berangkat lagi ke arah berlawanan dari titik penyelaman pagi hari. Di sini kami disodori pemandangan taman koral yang lebih indah, lebih jernih dan lebih berwarna. Senangnyaaa… akhirnya aku sudah bisa lebih enjoy dengan aktivitas individual. Meluncur ke sana, berhenti mendadak di sini,… mengintip ikan-ikan yang bersembunyi di kolong karang… Aku juga sudah bisa lebih rileks mengamati teman-teman lain, yang biasanya aku tinggalkan karena akunya takut ketinggalan.. hehehe… Jadi aku udah ga terlalu berpatokan ke arah Dive master. Kadang-kadang aku melebarkan daerah jelajah menyamping dari arah barisan, sepanjang masih dalam batas pandangan. Sumpah deh, aku takut banget kalo sampe misah dari rombongan, hehehe…. Mungkin karena lebih santai, kali ini aku juga bisa lebih hemat bernafas… jarak penyelaman jadi lebih panjang, sampe pegelll… bahkan kayaknya akhirnya kami mengakhiri penyelaman ini setelah tankiku menunjukkan angka 40!!!. Nekat juga, sebuah tindakan yg ceroboh ya?! hehehe

Itulah penyelaman terakhir… dan sebagai penutup, kami dibawa ke sebuah gosong di sisi timur laut Pulau Derawan. Areanya luas sekali… tentunya dengan hamparan pasir putih dan bersih. Wuaaah, kami semua berseru kesenangan begitu semakin mendekati gosong tersebut. Matahari sedang bersinar cerah tapi tidak terlalu menyengat. Langit biru cerah dihiasi awan putih berarak… Kontan kami rebutan melompat dari boat begitu bersandar di air dangkal. “Wooooo, welcome to paradise!”… Kami berlarian ke bagian yang agak tinggi untuk melihat ke sekitar gosong… Tidak terlalu tinggi mengingat pada saat pasang naik, bagian ini tidak nampak secuil pun. Beberapa segera melakukan penyusuran ke ujung barat gosong… umm, mungkin jauhnya sampai setengah kilometer.. (???)… sebagian besar tentu segera bergaya di depan kamera dengan aneka pose. Pose (standar) melompat ke udara, pose berjemur di pantai, pose kura-kura timbul tenggelam… dan pose cover FHM – dibawakan dengan sempurna oleh Mas Puput.. hihihihi… Selebinya adalah acara berenang & snorkeling (tentunya tidakbanyak yg terlihat – mengingat perairan sekitar sini dangkal saja), lari-larian, iseng-isengan misalnya mengubur Garonk dengan pasir, dan menikmati siraman sinar matahari di atas hamparan pasir hangat. Allohu akbar… tempat ini indah sekali, sehingga rasanya berat sekali ketika setengah jam ke depan kami harus angkat kaki dan kembali ke Pulau. Hu hu… pengen lagi ke sana :-(

Sepulangnya kegiatan hari ini… kami mengembalikan segala perlengkapan selam pinjaman dan pulang mandi. Pukul 5 sore kami sepakat untuk bertemu kembali di kantor operator untuk mengisi log-book. Saling contek isi temuan, mencocokan dive time, temperatur, dst, dsb…. sampai akhirnya setelah beres tidak lupa berfoto bareng. So far, this arrangement is OK for me… tentu dengan beberapa catatan teknis untuk perbaikan, misalnya mengenai safety dan diving procedure yang kayaknya koq jauh ya dari teori yang aku dapet waktu sertifikasi dulu?! Hehehe… (Begini deh susahnya kalo udah kebiasaan cerewet soal safety di perusahaan! :-P ).

Bermalam terakhir… kami habiskan untuk ngobrol lebih banyak. Yang foto-foto… sibuk mindah-mindahin file, meng-copy, sambil ribut mengomentari. Ada juga yang masih kekeuh mencari sate ayam… malangnya, drop-dropan daging unggas belom juga tiba hari itu! hehehehe… Untungnya di penginapan malam itu kami dapet menu istimewa. Bakar ikan besar-besaaaaar…. Ikan Ayam yang gurih dan empuk! Sambal tomat pedasssss, mantapppssss… dan ujungnya, ditutup teh panas dan wangi.

Yang aku ingat lagi, malam itu aku tidur telat,… jam 1 dini hari waktu akhirnya tersadar harus masuk kamar. Asyik mengobrol sama Mas Dwi, Mas Yoyon, dan Mas Nanang di bawah langit malam yang cerah. Lampu-lampu bungalow kami matikan… terus, kami berebah di udara terbuka menonton pertunjukan bintang-bintang. Tapi boooo, topik obrolannya sih soal belanja-belanja peralatan selam sampai rencana pergi ke panti pijet sesampainya di Balikpapan. hehehe… sounds good idea, eh?   Good night, anyway.

…..

Lima hari di kepulauan terpencil cukuplah sudah. Pengalaman yang seru dan memuaskan. Pagi itu, hari Selasa, selesai sarapan kami segera mengemas bawaan. Speedboat kuning yang sudah begitu kami akrabi empat hari ini sekali lagi menampung kami bertiga belas menyebrangi selat menuju Tanjung Batu. Pagi itu laut berada pada titik ketenangan yang menakjubkan… sepanjang perjalanan kami semua hening menikmati ayunan dan kecipak ombak, desau angin, dan hangat matahari.

Perjalanan kembali via darat tidak banyak menggangguku kali ini. Begitu nempel di jok (dan teman-teman berbaik hati menempatkanku di kursi depan)… langsung deh molor! ditemani lantunan suara Ariel Peter Pan yang bolak-balik (mungkin lebih dari 5 kali) diputar di player. Gak banyak juga yang dibicarakan dengan teman-teman seperjalanan… karena mereka juga langsung ‘tewas’ … capek dan puas dengan liburan kali ini.

Perjalanan udara pun berlangsung lancar meskipun harus berhadapan dengan kerepotan-kerepotan kecil birokrasi di meja Check-In dan pembayaran airport tax. Ruang tunggu hari itu ramai sekali, kayak di pasar. Di pojok ruangan terdapat rolling banner mengenai promosi wisata Berau… of course it shows Diving activity and adventure in Kakaban Lake.. hmmm. Akhirnya penerbangan kami tiba… dari perut kabin berhamburan kontingen-kontingen Pekan Olahraga Nasional cabang olahraga kebaharian. Well,… they will make a crowd at the islands. Sesaat kemudian, pesawat pun lepas landas, menuntaskan perjalanan kami.

Kapan yah… kembali lagi? Mau bangeeeettt…

kesempatan July 4, 2008

Posted by kembangbakung in me.
add a comment

apakah kita akan selalu punya waktu untuk memperbaiki diri? Sering kali rasa menyesal menyergap sesaat setelah dengan kesadaran kita melakukan kesalahan… membenci, menghujat orang lain, berkata-kata tidak baik,… hal-hal remeh temeh, dengan mudahnya membuat kita tergelincir ke dalam dosa…

seberapa sering kita dengan sadar memelihara diri, pikiran, perkataan, perbuatan ? justru pada saat kita merasa berada di masa-masa sehat, beruntung, serba cukup, serba bisa… lalu kita menjadi lupa

Malam ini aku takut… seseorang telah tersakiti hatinya, orang lain menjadi enggan menegur karena sungkan… Aku takut, tidak berkesempatan bertemu di esok hari … dan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu.