Menemukan Ayu February 24, 2009
Posted by kembangbakung in d-blog.add a comment
Luar biasa, itu komplimenku untuk kiprah seorang teman.
Aku jadi inget beberapa tahun lalu, tahun 1996, kami mengadakan reuni dengan teman-teman satu kelas jurusan biologi di sebuah vila di kawasan Cisarua.
Acaranya sendiri meriah, bisa dibilang itulah reuni terlengkap yang pernah kami buat setelah lulus dari bangku menengah atas di tahun 1994. Baru dua tahun. Namun bibit-bibit ‘luar biasa’ itu sudah nampak pada dirinya. Sedangkan aku? dan mungkin kebanyakan teman-teman yang lain juga… sedang dalam masa bandel-bandelnya menikmati bangku kuliah yang mana hidup diisi dengan giat belajar, banyak main dan jalan-jalan, punya gebetan di angkatan yang lebih tinggi
… main dan jalan-jalan lagi dengan teman-teman kost… seperti itu lah…
Pilihan jurusan kuliah mungkin memang sudah pernah dicitakan sejak lama, baik itu lewat UMPTN (waktu itu) maupun di universitas swasta. Tetapi kuliah pada waktu itu mungkin umunya berada pada titik “well, this is the age of being a college student, so have fun…“. Berbeda dari teman yang satu ini, yang akrab kami sapa dengan nama Ayu.
Di reuni tersebut, ia sudah menyuarakan apa yang disarikannya di bangku kuliah… misi-misi beraroma politis dan feminis. Dalam lingkup obrolan besar dan kecil, sesudah awal yang berisi dengan “apa kabar? … di mana sekarang? … sudah punya pacar…?”
… ia dengan gencar menyuarakan bujukan (kalau ga bisa disebut – karena terlalu canggih – indoktrinasi) bahwa kita harus menjauhi kapitalisme. Ha?! binatang apa tuh? – demikian sebagian besar teman-teman berpendapat. Yang lain, ga jauh beda “C’mon Yu… santai ajaaa… nikmati asyiknya jadi mahasiswa. Elu serius amat sih?” diiringi dengan tawa dan mimik yang berkata “ini anak sinting!”. Tapi Ayu sendiri dengan gayanya yang ‘ndablek’, kukuh, menetapkan identitasnya sebagai penyeru aspirasi politik, sesuatu yang membuat banyak orang alergi untuk membicarakan atau bahkan bersinggungan. Bahkan, setelah aku pikir-pikir, pada saat itu aku yang mengambil studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, masih belum sampai pada kesadaran beridealisme setajam itu.
Pengalaman reuni itu aku ga pernah lupa…
Dan hari ini aku pun ga akan lupa… waktu aku terkonfirmasi dengan bukti-bukti yang aku dapatkan di mesin pelacak, bahwa namanya selalu dikaitkan dengan tulisan-tulisan berbau politis, feminis, mengkiritisi praktek Pemilu, jadi pembicara di sejumlah forum nasional tentang kebangkitan perempuan… Wow! Luar biasa, sekali lagi…
Terus kenapa aku repot2 ngomongin dia di sini? Mungkin lebih termotivasi oleh kegembiraanku menemukannya kembali. Tapi aku ingin bagi-bagi cerita tentang orang yang merintis cita-cita dan berjalan ke arahnya. Dan juga tentang perempuan bernama Ayu itu sendiri.
Konsistensi… mungkin itu dulu yang aku ingin bicarakan… Seberapa besar kita memahami hal-hal yang kita jalani dan tulus berusaha untuk mencapai cita-cita. Sejak kapan kita benar-benar sadar dan menentukan langkah yang kita ambil. Aku belajar dari sosok Ayu, bahwa idealisme itu bukan omong kosong. Ketika dia bilang “A” atau “B” – she meant it, bukan cuma ikut-ikutan, bukan karena trend – mengingat seorang public figure cantik pd masa itu sedang naik daun karena banting setir dari dunia gemerlap entertainment ke arena politik & intelektual. Kesadaran penuh, diucapkan dengan segenap hati dan pikiran. Namun rupanya itu bukan gejala umum – menilik situasi teman-teman yang lain pada saat yang sama… kami berada di state of mind yang berbeda, di mana sebagian besar kami belum menaruh perhatian pada hal yang ditekuni Ayu. Pada saat itu, kalau boleh mengaku (sorry yah, Jeng), kami justru apriori dan bersikap under-estimate, bahwa yang Ayu alami ini cuma euphoria sesaat, bahwa politik itu ruwet, ga asyik, ga ‘kita’ banget, dan bahwa Ayu mungkin sedang ‘kesasar’ dalam pencarian jati dirinya. Nyatanya pada saat itu setitik bibit sedang bertumbuh. Telah jatuh ia di lahan yang gembur dan sarat hara. Sang Benih sudah bertumbuh menjadi sekuntum pucuk muda yang nanti menjadi sesosok pohon besar dengan kepribadiannya. Konsistensi.
Lebih jauh tentang Si Benih,… Buatku dia adalah teman yang sangat unik karena punya kemiripan denganku dalam hal nama
. Kami sama-sama memilik 3 kata dalam nama lengkap kami yang kejawa-jawan, dimulai dengan kata ‘Sri’ pada kata pertama, kata kedua diawali dengan huruf “L” dan berakhir dengan akhiran “-ningrum” di kata ketiga. Hehehhe,….
Aku kenal Ayu sebagai seorang pendatang dari daerah (Sumatra ya, Yu?) dengan tekad besar untuk belajar lebih banyak di jenjang pendidikan lanjut, menaklukan lingkup sosial yang lebih riuh, dan terjun menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Ayu, yang meskipun penampilan fisiknya sangat wanita sebenarnya seorang gadis yang tomboy. Kegemarannya pada kecepatan di sirkuit – dia pengagum Chandra Alim lhooo
, bahkan ia pernah coba-coba mengendarai truk raksasa pengangkut sawit di daerahnya dulu (hahaha…, I always remember your story, Yu), dan ketidakrisiannya untuk mengobrak-abrik perut amphibi di lab biologi, turun berbecek-becek menjadi tenaga cuci kendaraan pada saat kami bikin program donasi, atau pun dengan gagah beraninya memprakarsai liburan kelas kami mendaki ke curug di Kebun Raya Cibodas (Gunung Gede). Aku menganggapnya sebagai seseorang yang lahir dari keluarga kecukupan, dari orang tua yang cukup berpengaruh di struktur organisasi PN daerah. Namun itu tidak membuatnya jadi anak manja dengan memanfaatkan fasilitas. Sepanjang SMU ia jadi anak kost di sebuah kediaman di Jalan Jalak Harupat, ke sana kemari dengan menumpang kendaraan umum, dan itu diperkuatnya dengan kemauan untuk bersusah-susah menggeluti dunia yang tidak favorite buat kebanyakan orang di saat itu.
Aku ga ragu deh, kalau besok-besok tampangnya akan terpampang di salah satu spanduk kampanye jadi caleg (ga daftar, Yu? Hehehe) atau mungkin nanti jadi pembicara yang lantang di forum-forum yang lebih besar, internasional mungkin, untuk meneriakkan aspirasinya, idealismenya, cita-citanya untuk kebaikan umum.
Untuk Ayu, it’s very nice to see you again. Keep up the good work
. . February 4, 2009
Posted by kembangbakung in Uncategorized.Tags: d-blog
add a comment
mungkin juga bukan jatuh cinta
cuma rasa ingin
untuk mengerti, memahami
alangkah kayanya kehidupan…