jump to navigation

Ordinary Mom June 11, 2009

Posted by kembangbakung in feature.
trackback

Pukul delapan kurang sepuluh menit. Ia muncul dengan wajah tegang tapi tak bersemangat. Hei, it’s a new day. Lihat, aku menanti tantangan datang.

Angkat telepon, ia menjawab sekenanya. Telepon lain, ia berbohong bahwa dirinya sedang keluar kantor. Sedikit merutuk ia lanjutkan merapikan berkas dan menyusun katalog.

Seorang klien datang… Belum lagi si klien selesai menyampaikan maksut, ia menyambar “Yaaa, peraturannya memang begitu. Take it or leave it…”. Si klien langsung terdiam, takut-takut ia melirik ke arahku. Apa yang bisa kuperbuat – di sini dia yang punya kuasa.

Lagi,… telepon dari klien. Menjawab sekenanya. Tanpa basa-basi memberi solusi yang empuk. Huh! kesal aku mendengarnya… dimana penegakan service excellence? Apa tak ingat dia orang lain juga punya hati, rasa, kecemasan…

Mengomel lagi ia… diposisikan membuat keputusan… “Siapa gue?!”. Oh my God! Tidakkah kita ingin punya wewenang terhadap sesuatu? Tidakkah ia melihat itu sebagai peluang inovasi yang bisa ia cetuskan? Tidakkah ia punya ambisi untuk membentuk lingkungannya – bukan dikendalikan lingkungannya? Pesimist!

Jam makan siang…. Ah, ia berkata lembut kekanak-kanakan akhirnya… bicara di telepon kepada gadis kecilnya yang baru belajar bicara. Huh! pakai fasilitas kantor pula – kataku dalam hati. Eh, baby-sitter kena semprot. Instruksi keras ini itu tak ada ampun. Fiuhhhh…

“Gih, elu aja sana. Males gue hadir-hadir undangan begitu…”, katanya tanpa menghentikan kesibukan di meja, ketika aku mengajaknya menyambangi seorang kolega yang berulang tahun.

Sore, jelang usai waktu kerja. Ia buru-buru ingin segera selesai. Telepon masuk dibiarkan, malah ia kata-katai “Ih, udah sore ah,… besok aja…”. Asisten datang minta petunjuk lagi-lagi kena sindir sinis “Yaaa, masak lupa lagi gimana menindaklanjuti itu? Udah ah besok aja… makanya….” – dan masih serangkai kata-kata tegas dan pedas kunikmati dari kubik sebelah.

Akhirnya, menegurku … “Dear, gue duluan ya… jangan lama-lama di kantor ah!”

……

Aku pikir… ia cuma seorang Ibu yang rindu untuk segera pulang menemui anak-anaknya yang manis.

Comments»

1. Putie - June 22, 2009

Ibu baru emang gitu lil.. kerjaan nomor sekian… kalo perlu nggak kerja ;p

pasti baru banget punya anak ya dia..? :D

kembangbakung - June 23, 2009

engga baru sih… tapi memang harusnya begitu ya normalnya seorang ibu^^

2. Putie - June 25, 2009

Kadang terjepit juga antara anak dan kerjaan..
pusing.. pusing..pusing..