Tuesday, Lunch Time : Re-visit June 16, 2009
Posted by kembangbakung in d-blog, me.trackback
An interesting day…
Most of people di departemenku pada males keluar kantor untuk makan siang. So, semua order bungkus masakan kaki lima belakang kantor… Good decision, ternyata hujan turun tepat pada jam makan siang.
There we were… sambil menyantap menu pilihan, kami mulai ngobrol hal-hal non formal. Keluarga, acara liburan, sampai akhirnya cita-cita pribadi. Tak menyangka… segala hal yang ada saat ini bener-bener sebuah bahan kesyukuran buat kami, … buatku.
Sedikit freak-out dengan sebuah kejadian yang menimpa seorang teman… Dunia yang terasa baik-baik saja ini ternyata menyimpan cerita-cerita kerdil dan memprihatinkan. Betapa beruntungnya aku duduk di sini, menimbang dan mencerna hal itu. Jadi buat apa aku mengeluh dengan kesulitan-kesulitan yang kuhadapi…? Itu semua tak seberapa ternyata…
Saling bercerita tentang pasangan masing-masing… Hahaha, ternyata adjustment itu proses yang cukup panjang dan berat ya… Buktinya, belakangan semakin banyak orang gagal dan menyerah dalam proses itu. Mereka-mereka yang bertahan memang pembelajar yang kuat, tekun dan sabar. It’s for the rest of your life… it’s true. Aku surprise juga… setelah beberapa tahun berlalu, proses itu tetap berlangsung. Apakah terus jadi mudah? Ternyata tidak, karena hidup sendiri menawarkan hal-hal unik setiap harinya… bahkan perubahan, termasuk perubahan pada pelaku-pelakunya. Konsep sederhana yang abadi.
Buat aku yang masih melajang… itu adalah sebuah pilihan cara yang lain untuk memaknai kehidupan. Tanpa menihilkan pilihan cara yang satunya lagi. Tapi, semuanya punya resiko-resiko… Tidak sama, tapi tetap menuntut keberanian dan keteguhan yang sama besar.
Cita-cita… masih ada berkait dengan topik pilihan hidup. Apakah kita sudah mengikuti the best passion in our life? Terkadang pilihan-pilihan hidup membuat kita melupakannya. Mungkin juga ini hanya karena manusia tidak pernah terpuaskan,… tapi toh di dalam hati kecil selalu ada bisikan yang memanggil-manggil kita untuk meraihnya. Mungkin hanya ingin sederhana… lebih sering memasak – daripada terus harus belajar dan jadi psikolog handal. Lebih punya waktu berbagi ilmu kecantikan, membuat orang lain jadi ikut cantik,… bukannya hanya jadi orang kantoran yang sadar penampilan dan selalu chic….
Hmmm… jadi aku mau apa? (Jadi ingat, kadang aku berbisik pada diri sendiri “Aku tidak ingin yang lain, tidak lebih, tidak kurang”) ; Apa iya semuanya sudah cukup bagiku?
Aku ga banyak bicara soal apa mauku… I’m figuring out
… but then, temen2 bilang “Elu tuh harusnya jadi kontributor foto… jalan-jalan…” … Waaaaahhhh^^, ya mau bangeddd laah… tapi aku baru sedang bermimpi nih. Dan mau terus menggenggam mimpi itu, sambil aku merintis jalur ke sana.. Yes, I will. That’s why I’m thinking and doing of travel a lot. Tetap saja bagiku masih banyak hal perlu dipelajari dan ditingkatkan… di luar sana, aku belum seberapa – ketika menurut teman2 yg asing dgn duniaku beranggapan aku akan mampu.
Ngobrol-ngobrol siang ini membuatku merasa hangat dan penuh kesyukuran… Sejenak melupakan penat dan berbagi dengan teman-teman tentang hal positif, melihat kehidupan dengan segala warna-warninya yang kaya.
Ketika aku sampai di sudut mushala… upf, aku teringat telah agak berjarak dengan-Nya. Terlalu sibuk aku dengan dunia. Kewajiban jadi hanya kewajiban… padahal, ketentraman itu ada di dekat sini. Betapa rindunya mendengar tajwid yang merdu… mendecap sepenuh harapan, hati dan pikiran…
Apa yang akan ada nanti… sebenarnya ridho-Nya saja yang memampukan…
ikutan dooong….
mau punya temen2 yang positif..