Archive for August, 2009

ujian ramadhan

menyedihkan

puasa hari ini aku banyak tersenyum
walaupun cuaca panas dan gerah
kepada pak ucup yang usil dan biasa aku jutekin pun
banyak hal kami obrolkan bersama
kugenapi shalat dhuha dengan sepenuh hati
juga shalat sunnah lainnya

namun… satu jam menjelang berbuka

aku kesal didera keadaan
kereta depok batal berangkat – penumpangnya ditumpuk ke bogor ke ekpress
aku terjepit di sela ketiak bapak-bapak yang sama pulang kerja ingin berbuka di rumah
aku mengumpat orang yang tersandar ke punggungku karena tak kuat menahan kantuk sambil bergelantungan
aku mendeliki orang yang menyenggolku di tengah kepadatan

cacat sudah ibadahku… menyedihkan

Add comment August 29, 2009

5 Ramadhan

Plak!
huh,… *(^#@!!!!
nyamuk-nyamuk menggigitiku!…
… sudah waktunya sahur

Add comment August 26, 2009

[RP-Reunited] blast from the past

Gue orang yang bisa dibilang jarang menengok dan menimang-nimang hari lalu… sesekali saja, seperlunya.

Lalu, gara-gara terkoneksi kembali di sebuah komunitas dunia maya, bertemulah kembali dengan teman-teman lama. Terikut dalam grouping yang disusun berberapa teman yang antusias… gue cenderung jaim. Jarak pernah membentang luas, waktu sudah begitu lama berjalan… segala hal sudah berubah. Gue ga tau seperti apa gue dinilai di masa lalu – sehingga gue ga paham seberapa penting gue mereka tunggu. Dan gue ga tau apakah mereka masih orang-orang yang sama seperti yang gue ingat.

Tiba-tiba… gue ditunjuk jadi koordinator kelas untuk mengumpulkan dan menggalang teman-teman sekelas untuk menghadiri reuni angkatan Sekolah Menengah Atas. Gue dan 24 teman gue adalah ‘produk’ tahun 1994 jurusan Biologi (hampir semua cita-citanya jadi dokter! hihihi) dari sebuah sekolah yang punya seragam lurik tercantik yang pernah ada di Indonesia (hehe) – SMA Regina Pacis Bogor. Semboyannya : Ad Veritatem Per Caritatem. Artinya… lupa! :-P

Agak bersyukur, kelas gue anggotanya cuma 25 orang dan 80% sudah connected. Kalau engga, itu PR gue untuk mencari mereka2 yang ‘hilang’ bakal berat. hehehe. Tinggal beberapa lagi harus gue cari.

Sampai detik tadi, gue belum aktif di milis… hanya melihat, memantau respon teman-teman… dan sedikit canggung karena alasan2 yang gue kemukakan di awal tadi.

Di detik berikutnya… koq tiba-tiba gue terharu,… mau nangis… Kayaknya tiba-tiba gue sampai ke titik emosional dari ingatan-ingatan yang terkubur lama dari episode kehidupan lalu. Aih! Ternyata gue kangen sekali kepada masa itu, … kepada teman-teman gue… yang pernah sama-sama menghabiskan banyak waktu dengan belajar, main,… melakukan kenakalan-kenakalan kolektif, …juga barengan ‘berjuang’ menggalang identitas kelompok – sebagai komunitas paling mungil di angkatan kami dulu (Bayangkan, 25 orang – laki-lakinya cuma 5 orang (!) – dalam satu kelas mungil dibanding 3 kelas Fisika dan 2 kelas Sosial berkapasitas 35 orang…). Gue jadi inget, kami dulu adalah keluarga terdekat kedua setelah keluarga inti di rumah kami masing-masing.

Ahhh…. tiba-tiba gue jadi membayangkan, gimana nanti ketika ketemuan di Bulan Desember… gue pasti ga segan-segan bakalan memeluk Si Inyo yang gembul gede, yang kata gue keringetnya berbau keju. Gue pasti bakalan ga brenti-brenti bertukar cerita sama Chika… yang selain merupakan teman SMA juga teman masa kecil gue di Balikpapan… Gue pasti… ga kenyang-kenyang memandangi wajah mereka satu per satu – kembali membaca kisah-kisah kami di masa lalu – melihat diri gue sendiri yang menjadi bagian dari kenangan mereka.

Sudah jadi apa gue sekarang? Apa yang bisa gue ceritakan kepada mereka ketika mereka bertanya?

Teman-teman… gue kangen :-(

Add comment August 20, 2009

bulan di celah Jakarta

sedikit empati ketika melewati celah sempit kumuh di tengah Jakarta. Padahal lingkungan ini diapit jalan-jalan protokol yang berdandan kemegahan

Tidak mudah ternyata… untuk menjadi optimis di sini
ketika hidup begitu keras, perut lapar, kesenjangan terlalu besar, dan rasa peduli sudah mati

Tak mudah untuk menjadi orang yang berpandangan positif … terutama kalau kita harus bekerja (tanpa kegembiraan) melakukan suatu keharusan dan imbalannya tak seberapa… hanya cukup dibagi dalam sehari habis untuk makan sementara keinginan bertumpuk-tumpuk diasapi janji-janji dunia yang gemerlap

Jadi tidak aneh kalau kemudian…
sesegar dan sewangi apapun kita membasuh diri tak lagi jadi soal karena toh akhirnya ditelan busuk prasangka, berbaur di tengah bau sampah dan parit yang mampet;
perangai jadi mudah gusar dan wajah keras berkerut… tak cukup daya untuk membeli pendingin udara yang mungkin bisa menyejukan hati, atau pemulas wajah menutupi guratan getir;
iri dan dengki membakar hati dan menghilangkan rasa kasih

Aku juga ga tau, apa yang bisa aku lakukan untuk mengupas kesadaran yang begitu rupa
kenapa orang masih mau bergelut dengan kekerasan dunia
bergempet-gempet berebut sesuap nasi dari lahan yang semakin kurus
terlelap dalam selimut debu jalanan dan naungan beton kaku dan kasar, tak ada kesejukan..?

Apa yang dicari?

Semoga… secuil Ramadhan bisa membangkitkan kesadaran
bahwa menghindar tidak selalu sama dengan mengalah pada keadaan, tapi berarti melihat peluang yang lebih lapang

Semoga… selintas Ramadhan berhasil dimaknai sebagai pembawa kesejukan,
bahwa keteduhan hidup itu berawal dari hati yang ikhlas, tidak serakah menginginkan lebih dari yang mampu diusahakan

Semoga… cahaya Ramadhan membertikan kekuatan terdalam dari hati kelam
bahwa kepedulian dan kasih sayang itu dimulai dengan seulas senyum tulus tanpa syak wasangka

Add comment August 19, 2009

a midnight thought

Three minutes to the 00:00

I feel it… it is very easy for all those things to fall into the dark side and at another second it could be the great things and could make me live even better.

Dunno why… bisa jadi karena udara panas hari-hari belakangan ini. This city I hate, Jakarta… tidak juga dikunjungi curah hujan. (Mungkin hanya daerah ini yang terlalu patuh terhadap takaran musim yang pernah kukenal di bangku sekolah dasar. Yea, harus menunggu Oktober tiba untuk menjadi sejuk!). Belum lagi jalan-jalan sempitnya yang disesaki pangkalan ojeg, kendaraan roda empat yg memaksa menembus demi mencuri waktu yang terbuang mengantri di jalan protokol… bikin suasana gang makin rusuh dan berdebu. Pondokan yang sempit tempat melarikan diri, tempat menjadi diri sendiri seutuhnya, tanpa campur tangan pihak luar.
This city I hate…. aku tidak melihatnya sebagai sebuah kota yang menjanjikan semua yang aku inginkan. Terlalu keras, terlalu tidak peduli… comberan bau, minta-minta pinggir jalan yang dengan sadar melakukannya laksana profesi (damn! how come?!), sampah kering dan basah buangan para penjaja makanan, debu, lagi-lagi debu yang mengabutkan pandangan, melapisi tiap jengkal kulit, memasuki lorong udara ke paru-paru.
Jakarta is not that beautiful, my friends…
… dan itu mampu melumpuhkan semangatku, kalau aku memilih untuk terlalu peduli.

Tetapi aku memutuskan untuk memikirkan hal lain saja.
Itu, insan yang bersembunyi di dunia kecil kamar sempit di tengahnya belantara Jakarta, …aku.
Sedang kerusuhan dengan pikiran-pikiran tentang kehidupan praktis yang tuntutannya segunung
Sedang rindu pada lautan, pasir pantai, makhluk-makhluk penghuni samudra yang warna-warni indahnya.
Aku pikir, apa yang absolut menjadi milikku hanyalah hidupku sahaja. Sesuatu yang bisa aku akui dan bisa aku kendalikan. Semua materi di luar sana hanya pendukung. Sedangkan orang lain, tidak akan pernah menjadi milikku… karena mereka memiliki kebebasannya sendiri. Jadi, kenapa harus ripuh-ripuh mengatur orang lain? LET IT BE…

I really wish… menjelang Ramadhan tahun ini, akan ada banyak waktu aku berpikir seperti ini… untuk aku menemukan jalan kembali kepada my-self-contentment yang tidak tergantung materi

Apa yang bisa buatku terus maju menjalani kehidupan?
Pencarian. Ya, pencarian, an endless ones… makna di balik semua peristiwa – fisik dan psikis. Aha! betapa menyenangkan mencerna semuanya di dalam sini, di benak, di hati. Dan jemari yang mengolah semuanya jadi kalam, bacaan,… mungkin tidak ditafsirkan dengan benar. Tapi aku melihat diriku bertumbuh, berkembang dari satu titik ke titik lain.
Entah, manusia seperti apa aku ini, menurutmu? Membingungkan mungkin? Terlalu filosofis? Ah, aku ga pernah bercita-cita jadi filsuf.

Ini semua pembacaanku sahaja tentang dunia, tentang hidup. Endless…. sampai tarikan nafas paling penghujung. Yea, hidup ini fana. Mortal.

Tiga puluh menit, lewat dari 00:00. Time to sleep…

*esok hari terang, dunia ini memerlukan keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan praktikal. Enjoy it!*

Add comment August 17, 2009

Getting Old…

for the first time in my life, I’m starting old. hehehehe
I found one…, two…., and three pieces of white hair…
wonderful.

1 comment August 17, 2009

marah

sebelum marah
pikirkan dahulu
……….
kenapa marah?
dan
apakah memang perlu untuk marah?

hhhhhh….

Add comment August 7, 2009


Recent Posts

Blogroll

Archives

Recent Comments

kembangbakung on pagi malas
kembangbakung on My Physical Fact : r e v e a l…
andry on My Physical Fact : r e v e a l…
andry on pagi malas
kembangbakung on Female behind the Wheel…