jump to navigation

Kembang Kantil Pengantin October 19, 2009

Posted by kembangbakung in enjoy life.
trackback

Mungkin sudah ga banyak orang yang tahu tentang ini…
Hal-hal takhyul, mitos,… yang hidup di sekitar tradisi suku bangsa kita. Khususnya dalam acara pernikahan, dan dalam hal ini, aku lihat banyak hidup dalam tradisi suku Jawa atau Sunda…

Misalnya saja…

- Tentang kembar mayang yang menandakan apakah si pengantin masih ‘ting-ting’ atau ‘tong-tong’ (lawannya kan? hehehhe). Kata takhyul, kalau kembang bakal buah Pinang ini segar dan semerbak sepanjang acara berarti si pengantin masih ‘murni’. Belakangan aku jarang melihat kehadiran bunga tanaman ini lagi mendampingi pelaminan pengantin. Sudah pasti karena sudah semakin langka juga mencari tanamannya. Jadi bukan karena empunya acara sengaja menyembunyikan status ke-ting-ting-an pengantin.

- Rebut Bakakak Ayam – di tradisi Sunda, tentunya – menandakan pihak mana di antara pria atau wanita yang ‘rejekian’ kelak dalam berumah tangga… tentunya yang mendapat bagian ayam panggang terbesar. He he he… ga usah jauh-jauh nanti kalau rumah tangga sudah berlangsung, di depan mata langsung kelihatan siapa yang paling gigih merebut ayam (karena pengantin sebenarnya kelaparan, sudah puasa sejak sehari sebelumnya :-P )

- Juga ada keyakinan begini : acara pernikahan dibagi dua sesi, akad dan resepsi. Nah, pada jeda acara pengantin akan berganti pakaian. Setelah akad yang merupakan acara formalisasi ikatan, pasangan sudah boleh berganti pakaian di ruang yang sama. Di sinilah kedudukan seorang istri ditentukan. Jika ia mendahului pasangan prianya melepaskan keris dari balutan stagen pakaian pria… katanya, dalam berumah tangga nanti, Sang Suami akan selalu mendahulukan mendengar aspirasi Istri dalam menghadapi masalah-masalah bersama. Wow! – Ditentukan oleh kecepatan melepas keris ya? Bukan membina tradisi komunikasi yang setara? Hehehehe…

Masih banyak sekali hal-hal unik yang dipercaya dan hidup di masyarakat kita, terutama dilestarikan oleh penganut aliran tradisional, para pemaes adat, dan orang-orang tua dulu… Sebetulnya kita bisa belajar banyak hal tentang kemasyarakatan kita dari hal kecil ini.

Koq aku dapet aja ya? He he, tidak sengaja mencari-cari… Semuanya tersimak tanpa niatan ketika berada dekat-dekat dengan pelaku tradisi, ketika acara berlangsung.
Buatku, perlu dicerna makna di baliknya… bisa jadi itu hanya takhyul kosong belaka tapi bisa juga ada nilai kebenarannya.
Yang jelas, terlepas untuk dipercaya atau tidak, bisa memperkaya pengetahuan dan bisa untuk lucu-lucuan serta bahan obrolan… :-)

Satu mitos tradisi yang aku sering tergelitik melakukannya lebih karena keunikan, lucu, dan mengandung unsur tantangan adalah… mencuri kembang kantil pengantin^^.
Katanya, untuk para lajang nih, kalau mau cepat tertular menikah… harus bisa mencuri kembang penghias konde pengantin itu. Namanya mencuri, ya harus diam-diam, jangan bilang-bilang, apalagi minta sama pengantinnya… Paling mungkin ya waktu bersalaman dengan si pengantin. Coba, siasat apa yang harus digunakan? Membawa gunting kecil di lipatan kipas? Hahahaha… :D .
Lucunya, ya ini dia bagian dari ketahyulan yang ga perlu dipercaya… sudah puluhan kali aku mencuri si kembang kantil (cempaka), sampai hari ini belum juga sampai giliranku naik ke pelaminan. Hi hi hi…

Mungkin akhirnya aku malah akan jadi terkenal sebagai pencuri kembang kantil pengantin…? Ha ha ha ha…

Comments»

1. best abduh - October 27, 2009

hahaaaaa….
asal ga maling pengantinnya