Female behind the Wheel… November 10, 2009
Posted by kembangbakung in life thought.trackback
Pengalaman kedua kali
Disupiri seorang wanita
Tidak bermaksud menyinggung gender-sensitivity. Toh, aku juga seorang perempuan.
Tapi dari pengalaman ini aku jadi mengerti kenapa banyak kaum adam sering memendam kesal kepada pengendara wanita.
Pertama, contoh klasik tentang mapping lintasan. Selain kedua pengalaman ini, aku cukup sering mengalami perihal memeta lokasi yang terus terang memang kita amat lemah. Bahkan untuk seseorang yang menghuni sebuah kota sejak lahir, perempuan memang susah kalau ditanyai tentang suatu lokasi, apalagi kalau membaca peta.
Herannya kekacauan ini tidak berlaku jika diminta memetakan salah satu counter garmen branded di mall seluas 5 kali lapangan bola. Hahaha, lebay gue
Sedikit saran – untuk mudahnya saja, kalau memang susah untuk mapping suatu daerah apalagi kalau harus pake penunjuk arah mata angin, setidaknya pakai tanda-tanda lingkungan bisa dijadikan referensi kasar, misalnya “… gedung A itu letaknya di sebelah bank X setelah simpangan lalalala… itu lho, yang ada pohon jamblangnya..”,…. contoh.
Itu satu hal
Hal berikutnya adalah cuek dalam hal penanganan kendaraan maupun ketika membaca tanda-tanda lalu lintas. Misalnya pengaturan kecepatan yang sesuai dengan peruntukan jalur, jadi sering dijumpai ada mobil melaju santai di jalur cepat. Pengalamanku sebagai penumpang, biasanya ibu/mbak driver teteup cuek atau ngomel “Sana! Loncat aja kalau mau, …safety first tauuuuu…!” hehehhe. Padahal safety first itu juga bermakna kewaspadaan lingkungan. Artinya, kalau memang mau berjalan santai, ya pindahlah ke jalur yang semestinya.
Kalau soal tanda lalu lintas… seperti contoh dalam sebuah iklan televisi, tanda dilarang putar balik (U-turn) yang dilanggar, ketika ditanya petugas dijawab dengan tampang sok-manis-tidak-bersalah “‘kan ga ada yang lihat?”…. Menyebalkan ya? Hehehe
Lagi-lagi tentang safety… berkendara sambil ngobrol dengan teman perjalanan memang seru tapi sudah pasti bisa mengganggu konsentrasi, apalagi kalau sambil teteleponan, kita jadi tidak terpusat pada kendali kemudi. Boro-boro mau lihat tanda dan marka jalan?
Terus terang, meskipun perempuan dikenal berkemampuan multitasking, aku pribadi sangat tidak bisa melakukan kedua hal ini di saat bersamaan. Ruang kemudi saja sudah cukup kompleks untuk diperhatikan, belum lagi harus mengimbangi situasi jalanan dan para pengguna jalan lainnya…
Terlepas dunia ini mungkin memang dibangun oleh gender yang menjujung logika dan keteraturan proses… yuk kita jadi kaum cantik yang cerdas, tangkas & mawas lingkungan. Jangan mau lagi diumpat “Huh! ini pasti yang nyetir perempuan deh!”
salam.
“Herannya kekacauan ini tidak berlaku jika diminta memetakan salah satu counter garmen branded di mall seluas 5 kali lapangan bola. Hahaha, lebay gue”……………hehehehehehe
hahaha… iya, gue lebay soal “mall seluas 5 kali lapangan bola”-nya…