kata Pak Pram… September 22, 2009
Posted by kembangbakung in life thought.5 comments
kilas berita nasional di televisi :
- kemacetan di arus balik… para pemudik berebut jalur
- perpu KPK pro dan kontra
- ponari tetap praktek saat lebaran di jombang
- pembagian zakat oleh pemkot berakhir ricuh dan jatuh korban ibu – anak
- pulang shalat Ied, rumah kebobolan maling, satu terbunuh
bangsa kita masih harus belajar, bangkit, dan membangun harkatnya…
koq sejak Pak Pram mengisahkan mentalitas bangsa kita di “Anak Semua Bangsa” sampai dengan hari ini… ga banyak kemajuan ya?
Daku September 20, 2009
Posted by kembangbakung in me.add a comment
(udah sadar sih dari dulu)
mengkonfirm hari ini…
ternyata lebih sering memilih jalan berliku… even to let anybody getting to know me more. Hhhhh…
udah bawaan orok kali yah…
Mudik September 17, 2009
Posted by kembangbakung in enjoy life, me.add a comment
Gue bisa feel home di mana saja
Mungkin karena dari kecil kami sekeluarga sudah jauh ‘merantau’ ke tempat yang mungkin di tahun 70-an dianggap tidak popular… Borneo.
Kebetulan juga orang tua gue tergolong jenis survivor yang, at least, tidak memperlihatkan ketergantungannya kepada kampung atau rumah orang tua (kakek nenek gue dari kedua belah pihak)
Maka ketika lebaran tiba, tradisi ‘mudik’ tidak menjadi sebuah keharusan. Kalau tidak salah semasa kecil gue, paling tidak tiga tahun sekali kami baru mudik ke Banten.
Setelah gue dan adik-adik dewasa, kami malah semakin jarang pulang ke kampung orang tua gue itu. Kami lebih sering berlebaran di rumah sendiri, open-house terima tamu dari kantor Bapak di Balikpapan, atau,… kalau lagi males, kami ‘ngabur’ jalan-jalan ke Samarinda, he he he.
Ketika akhirnya gue merantau saja lah kebiasaan mudik kembali menjadi jadwal rutin.
Sejak 2005 gue mencari nafkah sendiri, masih, di Balikpapan. Sedangkan bapak ibu gue menetap di Bogor, Si Kota Hujan.
Gue mudik bukan sekadar demi alasan romantisme historis mengejar suasana lebaran masa kecil, tetapi lebih untuk ‘pulang’ ke tempat ternyaman di dunia – dekat kedua orang tua.
Lebaran sendiri meskipun menyimpan keasyikan yang khusus sebenarnya bisa tercipta di mana saja, tidak harus di ‘udik’ (yang menjadi kata dasar dari ‘mudik’).
Life goes on… seperti gue udah pernah cerita di blog ini, akhirnya gue mendapat penugasan kerja di Jakarta. Yang berarti aku pulang, ‘back-for-good’…. (saat ini aku mengganggap Bogor adalah rumah, dan kita anggap jarak Jakarta-Bogor is not a matter la yaa…)
Dan pertanyaan teman-teman jadi terasa ganjil di saat ini ketika mereka bertanya “Ga mudik?”…
Dengan tersenyum lebar, sepenuh bibir dan hati,… gue bilang “Engga, di sini aja. Gue sudah di udik…”
just perfect… September 9, 2009
Posted by kembangbakung in d-blog, enjoy life.1 comment so far
aaaiiiieeee…
hari kerja yang cukup melelahkan. banyak urgent request…. selisih pendapat (biasa lah)… limited time…
ga taunya sudah waktu berbuka
berhubung udah lama ga jajan (namanya juga lagi puasa)… aku memilih nongkrong di warung donat sebelah kantor. rencananya seporsi croissant sandwich dan segelas latte. nyammm…
biar manteub, maghriban dulu
….
nah, pesanan akan di antar. aku memilih meja kaca bundar yang agak jauh dari ventilasi pendingin (anti AC!)
sambil menunggu, buka novel baru (dipinjemin supervisorku^^)… baru delapan belas halaman, ternyata seru banget.
jadilah membacanya berlanjut, sambil menyantap hidangan.
mengunyah pelan-pelan… menyeruput latte dengan hikmat… sluuurps… (waduh, ceritanya sampai pada deskripsi seorang cowok ganteng pula! hahaha…)
melupakan pekerjaan sejenak (yang setelah santap malam ini aku akan balik lagi memelototi monitor)
baca – baca – baca – baca…. suap – suap – suap – suap…..
sekelebat ekor mataku menangkap bayangan diri di pantulan kaca restaurant. malam sudah gelap, cahaya ruang berpendar hangat kekuningan, membuat jendela laksana cermin karena di luar lebih gelap.
Hey, whatta cool me… (maaf, sekali ini harus mengaku agak narcistic)
looks agak langsingan…? (setelah puasa sembilan belas hari?? hehehe)
dengan jilbab donatello kesukaanku (karena jatuh bahannya bagus di kepala dan bahu)
duduk seorang menikmati makan dan buku
bersantai sejenak
membiarkan waktu berlalu
just a perfect break…
Astagfirullah… September 4, 2009
Posted by kembangbakung in poem.1 comment so far
bulan ini
Iblis dan balatentaranya dipenjara
dibungkam
musuh kita
tinggal manusia
hanya manusia…
h a n y a manusia…
hanya…
nafsu manusia
dapatkah terlihat ufuk kemenangan
jika detik ini kau dapati
sedang diam
mata, telinga, hanya memperturutkan daging dan dunia…?
Astagfirullah….
Bangun, pemalas!
rencana Lebaran tahun ini September 2, 2009
Posted by kembangbakung in d-blog.1 comment so far
meskipun aku merasa puasa tahun ini agak kurang ‘bermutu’ dibandingkan tahun lalu (sigh!)… memikirkan Lebaran kembali membuat aku, dan siapa pun kurasa, menjadi bersemangat. Walaupun bagiku Lebaran itu tidak selalu berarti baju baru, mukena-sajadah baru, atau makan ketupat seminggu penuh.
Lebaranku tahun ini menjadi istimewa karena :
- aku ga harus merencanakan jadwal cuti khusus (yang biasanya menghabiskan jatah cuti tahunan) karena harus pulang kampung (dari Kalimantan ke Jawa)! Horey!! – inilah enaknya kalau bekerja dekat dari rumah…^^
- dengan demikian aku ga harus menyisihkan biaya untuk belanja tiket mudik (yang selalu mahal!)…
So…,
Siang ini aku kepikiran mau ngapain Lebaran nanti… salah satunya aku pengen bikin kue^^.
Biasanya, kalau mudik, sampai rumah… semua hidangan sudah ada.
Hidangan lebaran dari lauk sampai kerupuk sudah siap tersusun. Aneka kue kering sudah siap bertoples-toples, hasil buatan tangan Mamahku (dibantu juga oleh Papah – karena beliau punya banyak waktu setelah pensiun).
baca juga catatanku berjudul ‘Nastar’ di www.elratna.multiply.com.
Nah, berhubung tahun ini aku sudah di rumah… artinya ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk sekeluarga^^. Kebetulan Mamah bilang tahun ini dia mau absen membuat kue-kue kering. Sudah capek, mungkin, mengingat usia dan ketahanan fisiknya yang sudah menurun.
Dan dengan dihapuskannya budget tiket, berarti ada dana yang bisa kugunakan untuk rencana kali ini.
Aku langsung telepon rumah dan menyatakan niatku. Lebih persisnya lagi aku bilang akan menggantikan tugas Mamah menyiapkan kue besar untuk berlebaran… maksudku, bukan kue-kue kering.
Untuk pemula seperti aku, membuat kue kering, meskipun sederhana tetap besar tantangannya. Soalnya, di bulan puasa ini pasti harus menghadapi rasa kantuk! Padahal membuat kue kering kan perlu konsistensi tinggi untuk mengerjakan detail yang berulang. Jadi inget ngantor! hehehe… alasan!
Anyway,… semoga Alloh ridho akan niatku ini. Sudah terbayang beberapa resep yang aku ingin buat. Mungkin nanti juga aku tambah dengan membuat punch atau salad. Kalau ngikutin keinginan yang ga ada habisnya sih aku pengen juga masak hidangan utamanya. hehehe…
Ummm… ga berani promosi. Kalau nanti sudah ada hasilnya, aku kabari lagi ya…^^
ujian ramadhan August 29, 2009
Posted by kembangbakung in feature, me, poem.add a comment
menyedihkan
puasa hari ini aku banyak tersenyum
walaupun cuaca panas dan gerah
kepada pak ucup yang usil dan biasa aku jutekin pun
banyak hal kami obrolkan bersama
kugenapi shalat dhuha dengan sepenuh hati
juga shalat sunnah lainnya
namun… satu jam menjelang berbuka
aku kesal didera keadaan
kereta depok batal berangkat – penumpangnya ditumpuk ke bogor ke ekpress
aku terjepit di sela ketiak bapak-bapak yang sama pulang kerja ingin berbuka di rumah
aku mengumpat orang yang tersandar ke punggungku karena tak kuat menahan kantuk sambil bergelantungan
aku mendeliki orang yang menyenggolku di tengah kepadatan
cacat sudah ibadahku… menyedihkan
5 Ramadhan August 26, 2009
Posted by kembangbakung in Uncategorized.add a comment
Plak!
huh,… *(^#@!!!!
nyamuk-nyamuk menggigitiku!…
… sudah waktunya sahur
[RP-Reunited] blast from the past August 20, 2009
Posted by kembangbakung in d-blog.add a comment
Gue orang yang bisa dibilang jarang menengok dan menimang-nimang hari lalu… sesekali saja, seperlunya.
Lalu, gara-gara terkoneksi kembali di sebuah komunitas dunia maya, bertemulah kembali dengan teman-teman lama. Terikut dalam grouping yang disusun berberapa teman yang antusias… gue cenderung jaim. Jarak pernah membentang luas, waktu sudah begitu lama berjalan… segala hal sudah berubah. Gue ga tau seperti apa gue dinilai di masa lalu – sehingga gue ga paham seberapa penting gue mereka tunggu. Dan gue ga tau apakah mereka masih orang-orang yang sama seperti yang gue ingat.
Tiba-tiba… gue ditunjuk jadi koordinator kelas untuk mengumpulkan dan menggalang teman-teman sekelas untuk menghadiri reuni angkatan Sekolah Menengah Atas. Gue dan 24 teman gue adalah ‘produk’ tahun 1994 jurusan Biologi (hampir semua cita-citanya jadi dokter! hihihi) dari sebuah sekolah yang punya seragam lurik tercantik yang pernah ada di Indonesia (hehe) – SMA Regina Pacis Bogor. Semboyannya : Ad Veritatem Per Caritatem. Artinya… lupa!
Agak bersyukur, kelas gue anggotanya cuma 25 orang dan 80% sudah connected. Kalau engga, itu PR gue untuk mencari mereka2 yang ‘hilang’ bakal berat. hehehe. Tinggal beberapa lagi harus gue cari.
Sampai detik tadi, gue belum aktif di milis… hanya melihat, memantau respon teman-teman… dan sedikit canggung karena alasan2 yang gue kemukakan di awal tadi.
Di detik berikutnya… koq tiba-tiba gue terharu,… mau nangis… Kayaknya tiba-tiba gue sampai ke titik emosional dari ingatan-ingatan yang terkubur lama dari episode kehidupan lalu. Aih! Ternyata gue kangen sekali kepada masa itu, … kepada teman-teman gue… yang pernah sama-sama menghabiskan banyak waktu dengan belajar, main,… melakukan kenakalan-kenakalan kolektif, …juga barengan ‘berjuang’ menggalang identitas kelompok – sebagai komunitas paling mungil di angkatan kami dulu (Bayangkan, 25 orang – laki-lakinya cuma 5 orang (!) – dalam satu kelas mungil dibanding 3 kelas Fisika dan 2 kelas Sosial berkapasitas 35 orang…). Gue jadi inget, kami dulu adalah keluarga terdekat kedua setelah keluarga inti di rumah kami masing-masing.
Ahhh…. tiba-tiba gue jadi membayangkan, gimana nanti ketika ketemuan di Bulan Desember… gue pasti ga segan-segan bakalan memeluk Si Inyo yang gembul gede, yang kata gue keringetnya berbau keju. Gue pasti bakalan ga brenti-brenti bertukar cerita sama Chika… yang selain merupakan teman SMA juga teman masa kecil gue di Balikpapan… Gue pasti… ga kenyang-kenyang memandangi wajah mereka satu per satu – kembali membaca kisah-kisah kami di masa lalu – melihat diri gue sendiri yang menjadi bagian dari kenangan mereka.
Sudah jadi apa gue sekarang? Apa yang bisa gue ceritakan kepada mereka ketika mereka bertanya?
Teman-teman… gue kangen
bulan di celah Jakarta August 19, 2009
Posted by kembangbakung in Uncategorized.add a comment
sedikit empati ketika melewati celah sempit kumuh di tengah Jakarta. Padahal lingkungan ini diapit jalan-jalan protokol yang berdandan kemegahan
Tidak mudah ternyata… untuk menjadi optimis di sini
ketika hidup begitu keras, perut lapar, kesenjangan terlalu besar, dan rasa peduli sudah mati
Tak mudah untuk menjadi orang yang berpandangan positif … terutama kalau kita harus bekerja (tanpa kegembiraan) melakukan suatu keharusan dan imbalannya tak seberapa… hanya cukup dibagi dalam sehari habis untuk makan sementara keinginan bertumpuk-tumpuk diasapi janji-janji dunia yang gemerlap
Jadi tidak aneh kalau kemudian…
sesegar dan sewangi apapun kita membasuh diri tak lagi jadi soal karena toh akhirnya ditelan busuk prasangka, berbaur di tengah bau sampah dan parit yang mampet;
perangai jadi mudah gusar dan wajah keras berkerut… tak cukup daya untuk membeli pendingin udara yang mungkin bisa menyejukan hati, atau pemulas wajah menutupi guratan getir;
iri dan dengki membakar hati dan menghilangkan rasa kasih
Aku juga ga tau, apa yang bisa aku lakukan untuk mengupas kesadaran yang begitu rupa
kenapa orang masih mau bergelut dengan kekerasan dunia
bergempet-gempet berebut sesuap nasi dari lahan yang semakin kurus
terlelap dalam selimut debu jalanan dan naungan beton kaku dan kasar, tak ada kesejukan..?
Apa yang dicari?
Semoga… secuil Ramadhan bisa membangkitkan kesadaran
bahwa menghindar tidak selalu sama dengan mengalah pada keadaan, tapi berarti melihat peluang yang lebih lapang
Semoga… selintas Ramadhan berhasil dimaknai sebagai pembawa kesejukan,
bahwa keteduhan hidup itu berawal dari hati yang ikhlas, tidak serakah menginginkan lebih dari yang mampu diusahakan
Semoga… cahaya Ramadhan membertikan kekuatan terdalam dari hati kelam
bahwa kepedulian dan kasih sayang itu dimulai dengan seulas senyum tulus tanpa syak wasangka