It’s A Sin…

Senang.

Sudah menyelesaikan sebuah buku lagi. Kali ini sebuah buku yang menjadi referensi klasik di kalangan literasi Amerika.

HL

Pertamanya kesulitan untuk memulai membaca (seperti biasa). Apalagi cerita ini dituliskan dengan latar bahasa dan dialek Selatan. Tetapi berkat balutan misteri dengan suasana gothic yang dimulai sejak halaman-halaman awal, akhirnya berhasil mengantarkan perhatian sampai ke jantung penulisan buku ini, dan kemudian menggiring rasa penasaran untuk mengungkap akhir kisah dan mengupas simbolisme dari si burung bulbul.

Bagus. Dan menyentuh. Jadi ingat membaca tulisan sastra yang terbit di tahun-tahun 60-an di mana topiknya berkisar pada rasa kemanusiaan, hakikat dalam kehidupan, bangunnya kesadaran. Serunya, To Kill A Mockingbird diceritakan dari sudut pandang tokoh seorang anak, Scout Finch, dengan segala keluguan dan keterusterangannya. Sebagai anak, ada banyak hal yang sulit sekali dipahaminya berkaitan dengan menjadi orang dewasa dan hidup dalam sebuah masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu dan dengan kasih sayang dari sang ayah, Scout belajar tentang hal-hal itu. To Kill sendiri ditulis oleh Harper Lee berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap isu kemasyarakatan sewaktu ia kecil. Bisa dikatakan Scout adalah kacamata Mrs. Lee di masa kanak-kanak. Dan menggambarkan sebuah masyarakat dengan isu serius (kesetaraan ras dan perjuangan kelas, pada waktu itu) dalam bahasa kanak-kanak bukanlah hal yang mudah. Kepiawaiannya ini yang kemudian diganjar Pulitzer Award pada tahun 1961, setahun setelah penerbitan pertama.

HL2To Kill A Mockingbird kemudian difilmkan juga… Sayangnya belum ada versi terkini. Jadi penasaran siapa saja yang bisa lulus casting jika ada produksi baru.

 

peck

HL3

The Lovely Bones (2009)

Susie Salmon: [voiceover] When my mother came to my room, I realized that all this time, I’d been waiting for her. I had been waiting so long, I was afraid she wouldn’t come.

Abigail Salmon: [whispering] I love you, Susie.

Susie Salmon: [voiceover] Nobody notices when we leave. I mean, the moment when we really choose to go. At best you might feel a whisper, or the wave of a whisper, undulating down. My name is Salmon, like the fish. First name: Susie. I was 14 years old, when I was murdered, on December 6, 1973. I was here for a moment. And then I was gone. I wish you all a long and happy life.

tlb

Tidak pernah sebelumnya, ketika membandingkan film dari sebuah buku (naskah asli), gue merasa lega jika interpretasi filmnya tidak seperti bukunya, selain ketika membaca dan menonton The Lovely Bones.

Begitu saja, terlewat di 2009 untuk menyaksikan film ini, akhirnya, tahun ini, hanya karena a quick pick di bazaar buku dalam rangka Kemerdekaan, gue mencomot novel tulisan Alice Seabold ini dari tumpukan yang menggunung.

Senang, karena dorongan membaca sedang meninggi lagi. Dalam seminggu tuntas. Sesudahnya langsung mencari file film ke kine klub di kantor. Dan dapat. Gue sampai bener-bener mencari waktu yang aman, menghilang sejenak dari sekitaran si Bocah Kecil, supaya khusyuk nontonnya. Ngga berani malem-malem. Takut.

Now, ke ceritanya ya…

Tadinya kepikiran it’s quite similar with The Bone Collector, gitu? Ternyata memang ngga jauh-jauh dari suspense pembunuhan dengan modus mutilasi. Di tahun 2009 itu, akhirnya gue malah nonton Up In The Air. Yang tentunya lebih ‘ringan’ karena tidak melibatkan darah.

Tapi The Lovely Bones sebenarnya adalah drama keluarga. Kisah yang dibawakan, dari sisi si mati korban mutilasi, tentang melihat kehidupan setelah ia tak ada di dunia. Bukan sekadar drama biasa, tetapi juga berunsur supranatural. Kalau boleh mencari kesamaan, ini seperti nonton The Life Of Pi. Ada penggambaran sisi-sisi pengembaraan psikis, pencarian jawaban, dan perubahan cara pandang.

Sekali lagi gue mau bilang, gue bersyukur filmnya diterjemahkan sehingga menjadi seperti sekarang. Karena kalau membaca bukunya, scene kejadian pembunuhan terhadap Susie Salmon digambarkan begitu intense dan bikin bulu kuduk mrinding (bahkan kata imdb, Tucci dan keluarga Saoirse Ronan sempat menolak scene pembunuhan Susie). Di buku, pemandangan tentang ‘rumah hijau’ Mr. Harvey terasa lebih angker. Dan pelarian Abigail terasa lebih brutal. Film ini lebih menghibur, melegakan. Sayangnya, kalau hanya melihat tanpa membaca, sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai film aneh yang surreal.

Bagaimanapun, ini layak disaksikan. Ada nilai kasih sayang orang tua yang tak teperhitungkan oleh binatang buas semacam serial killer. Ada kelegaan yang mau disampaikan pengarang, mungkin kepada banyak keluarga korban di luar sana, bahwa sakit itu tidak ada lagi di Semesta Tuhan yang tak terjangkau nalar manusia. A happy end.

Repackaging

Kehebohan dan penularan terjadi ketika barbershop alias tukang cukur di-bawah-pohon (dipo) berganti penampilan. Kini terlihat lebih gahar, lebih laki (ngga dicat sembarang warna biru). Sentuhan tetap vintage dengan polesan baru, dan sekaligus lebih enak dipandang. Menarik pandangan mata pelintas jalan. Yang tadinya “Asgar” diganti jadi “Gentlemen”, “D’Men”. Okey. Para pria seperti, akhirnya, mendapat tempat layak karena selama ini hanya salon-salon perempuan dan laki-kemayu aja yang kelihatan mentereng dan pasang harga ‘layak-mahal’.

barber2
kekinian
barber3
masih ada contoh pangkas model Herman Felani gini ga ya?

 

 

Lalu… warung indomi. (maaf sebelumnya, merk mie instan Indomie telah menjadi nama generik, sehingga tak terhindarkan menyebut seperti adanya). Daripada hanya menjadi warung indomi biasa yang nyempil-nyempil di gang sekitaran tempat kos atau perkantoran, warung indomi kini menggeliat untuk tampil ‘wah’ di jalan besar. sebut saja “What’sUP”… lalu ada “UP Normal”… keduanya di sekitaran Tebet. Entah kenapa semua namanya pakai “UP”. Apakah mereka dari satu grup pengusaha, atau memang mau menyampakan pesan bahwa mereka telah upgraded.  Warung indomi berdandan lebih kekinian, membawanya ke tingkat yang lebih tinggi. Mungkin nanti saya juga akan bikin warung mie yang sama dengan nama UP-A2 NYADONG. Di sana juga masih ada sajian pilihan seperti roti bakar atau bubur-kacang-ijo-ketan-item. Belum disurvei, apakah harganya masih sama bersahabat seperti di warung emperan asalnya dulu…?

mie

 

Hmmm… Can you see the red line above all…? Ngga ada lagi yang orisinil di dunia ini. Semua adalah pengulangan. Cuma soal membuatkan bungkus baru, atau hanya mengkondisikan atmosfer penerimaan yang lebih segar. Sama dengan trend fashion, demikian pula makanan yang kita makan.Masih indomi indomi juga… tapi mangkoknya ganti. Ngga bergambar ayam jago lagi. Masih warung makan juga tapi datengnya udah ga pantes pake sandal jepit lagi, tapi harus well-dressed & wangi.

Andal*

Perempuan bicara-bicara tentang perempuan.

Di tengah minum-minum cantik kopi atau teh. Dan makan gahar.

Apa masalah perempuan yang mengemuka sekarang, sebagai yang boleh mencicipi kehidupan berkarir di kantor dan di rumah? Ternyata sama saja. Bahkan untuk perempuan  Amerika sekelas COO Facebook, Sheryl Sandberg sekalipun.

Book Club kali ini digelar di kafe di Lower Ground gedung kantor. Setelah bersusah-susah maju mundur jadwal, masalah pinjem-pinjeman buku karena keharusan mengerjakan PR membaca, on dan off nya peserta berkenaan kesibukan kerja atau cuti ngantor, dibuka dengan kritis kalau tokoh (penulis) dalam buku kali ini ngga punya masalah dengan latar belakang dan masa lalunya. Ia memulai kehidupan di level yang cukup tinggi yang mana kebanyakan kita masih harus mengais-ngais kesempatan. Tentu saja dia punya keberanian untuk bicara lantang memperjuangkan keperempuanan. Dan bahkan kemudian membukukan memoir perjuangannya dalam Lean In.

Jadi, buku ini mau bilang, Feminist itu masih punya banyak pekerjaan rumah karena masalahnya memang datang dari diri perempuan juga sih. Entah karena norma dan preferensi masyarakat (tapi koq terjadi di belahan dunia maju, (masih) sama dengan fenomena di dunia-non-maju?) atau… kalau kata saya, ‘udah-dari-sononya’ dikasi sifat begitu sih. Sandberg memaparkan problematika di karir kantoran dan di rumah, berharap kita (perempuan) sanggup mengubah cara berpikir dan mengeliminir posisi-posisi tradisional yang dengan sadar kita pilih dengan alasan gender.

Seperti halnya perempuan ingin berusaha berdaya dan bisa diandalkan di dunia profesional, perempuan juga harus bisa memberdayakan dan mengandalkan partnernya dalam rumah tangga. Karena selama ini, dengan rasa tanggung jawab penuh akan fungsi domestik, perempuan sering terjebak dalam yang disebut ‘maternal gatekeeping’ – kita sendiri yang merasa insecure dan gelisah dengan kehadiran peran gender lain di bawah atap rumah kita. Bukannya membagi rata tanggung jawab, kita mendelegasikannya dan berarti masih ketat melakukan supervisi. Ujung-ujungnya tetap perempuan yang kerepotan. Ini harus dibereskan dengan rapi. Sandberg bilang segalanya akan jauh terasa lebih ringan ketika partnermu setara. Dia bilang, dia tak akan sampai ke kondisi sekarang kalau ia menikah dengan yang bukan suaminya sekarang. Fakta membuktikan menyeimbangkan karir profesional dan rumah tangga itu adalah kemustahilan. Terimalah keadaan itu dengan lapang dada sambil berusaha menyiasatinya tetap proporsional.

Di sebagian besar bab lain ia memaparkan pemetaan dan tips sukses di kantor. Salah satunya adalah mentoring atau punya sponsor dalam berkarir. Masalah kita di sini, boleh jadi mentorship diarahkan oleh program dari divisi Human Resource, tetapi lebih daripada itu, mentorship yang bersifat natural dan berkesinambunganlah yang ideal; tidak hanya didasari proyek-proyek sesaat.

Nah. Apakah kamu telah pantas diandalkan dan siap mengandalkan?

 

Lean1
Book Club, 9 Agustus 2016

*terjemahan bebas dari saya atas frasa Lean In.

20 months Old

Sungguh, kepandaian itu datangnya dari Allah semata.

Semakin rintik rambutnya

Semakin banyak gayanya

Sudah dengan jelas menyebut i-b-u …

dan yang paling Ibuk bangga, udah bisa pupita di closet. Ngga tau gimana bisa dia segera ngerti. Apa iya hanya dibilang-bilangin aja terus dia langsung nangkep gimana maunya orang tua…? Tapi Ibuk siap aja sih, kalau-kalau dalam masa potty training ini dia tiba-tiba lupa dan kembali unloading di popok. hehehehe…

 

cucu yayyaa… cucu mammaaa…

DSC_0305

Bocah kriwil ini semakin pintar dan lucu aja. I’m a proud mom watching her growing.

Suka nyanyi-nyanyi dan punya banyak perbendaharaan lagu untuk didendangkan.

cica cica dingdingding | biyam biyam mayayappp… | atang ekong maamut | hap! alu itangkap

koq jadi maamut? hahahahaaa

Atau, kalau lagi inget pengen minum susu botol / kotak atau ingin menyusu, dia akan bersenandung “cucu yayyaa… cucu mammaaaa…” – plesetan dari “susu saya susu bendera”.

Suka bercanda, cilukbaa… kejar-kejaran.

Kalau lagi exciting dia akan lari-lari kecil cepet-cepet sambil mengepak-epakkan tangan.

Kebiasaan barunya sekarang adalah marah-marah kalau lagi mules mau poop. Hahahaaa… Mungkin sudah mulai merasa malu dan ngga nyaman sehingga dia ngga mau diganggu, disentuh, atau ditanyain. Repotnya kalau mulesnya masih jauh dari unloading… karena perasaannya ga karuan, apa-apa dijadiin bahan jengkel. Ngga paruguh mau ngapain. Diikutin maunya tapi ngga jelas dia ngomong apa… Tapi kalau ngga diikutin / ngga ditanggapin dianya jadi BT.

Oh my baby… ^^

Gelitik

Aaarghh!!

Ini pasti sesuatu!

Entah kenapa hari ini rasanya begitu tergelitik dan menggebu-gebu. Padahal aku sedang tidak memikirkan apa-apa. Padahal selama ini ngga pernah jelas dan runut mau merencanakan sesuatu. Tiba tiba ini… comes out of the blue! Katanya, demikianlah hasrat bekerja.

Kepada yang jauh di Timur sana, kucolek ia untuk menjawab cetusan dari dalam benakku ini. Aku tahu, dia sebenarnya menyokong ide apapun yang pernah kulontarkan. Tetapi kami tahu, kami akan ketemu lagi dengan setan permodalan. Tetapi gelitik ini seperti tak mau pergi. Aku… harus melakukan sesuatu. Riset kecil-kecilan, mungkin…? Ada apa di kota kecilku ini? Apa yang bisa kusentuh dan kemudian seperti labu Upik Abu ia akan menjelma menjadi kereta kencana? Apa yang kelak akan meninggalkan kesan walaupun itu bukan sesuatu yang megah atau spektakuler?

Aku… membayangkan sebuah pojok yang mungil dan hangat, tempatku tenggelam dalam keasyikan ditemani secangkir teh hangat, pisang goreng; dan sekitarku sibuk  riuh rendah karena perdebatan cerdik tentang ide-ide gila, sementara di sudut lain untuk berandai-andai tempat kata-kata bebas meluncur dan diterakan. Harusnya ada tempat perhentian seperti itu di sini… ketika tak seorang pun sempat berhenti untuk mengerti bahwa kerinduan itu selalu ada di dalam hati. Aku ingin menyediakan jawaban. Sebuah perhentian yang akrab.

Saat ini aku tengah berdoa… semoga disampaikan-Nya langkahku ke sana; dimampukan-Nya tangan dan kakiku berkarya… Amin.