Uncategorized

[weekend-mom] Timeless Adjustment

Ayah sekarang domisili Bogor. Yeay. Itu artinya, penyesuaian lagi ya, buat rutinitas gue.

Ya masa sama aja? Walopun Ayah ga keberatan gue menjalankan sebiasanya aja…

Bersama itu, next level of building a (business) foundation. Setelah awal yang dragging, clueless age, ups-and-downs… Kurasa memang perlu banyak nekat dan darah dingin supaya ngga mandeg.

Lebih tegas juga memutuskan prioritas. Ngga mengedepankan ego berbalut me-time lagi. Udah cukup ya sementara ini. Udah tau juga kepuasannya sampai mana. Masih bisa nanti-nanti lagi lah. Syukur-syukur akan tergantikan dengan target-target baru ini : keluarga/rumah, maintain yang di kantor saat ini, dan my oil store.

Jadi, ya inilah tingkat-lanjutan itu. Gue akan menyepak menerjang…

I’m excited. It keeps me awake at 02.00 …

jurnal · life thought · lintas-kamis

[Lintas Kamis] Hari Kerja Mulai Kembali

Ini adalah permulaan hari kerja yang sesungguhnya … setelah cuti Idul Fitri yang maju mundur nambah hari, liburan mudik yang lalu jadi panjang, … kemudian baru 2 hari masuk ternyata ada ‘hadiah’ libur hari Pemilu 2018….

Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap hari awal setelah libur Lebaran, adalah hari yang chaotic. Setiap habis mudik, komuter ke Jakarta mengalami peningkatan dari jumlah tetap biasanya. Mungkin yang pada dari daerah kemudian hijrah untuk mengadu untung ke ibukota negara. Bersama para penghuni kost urban kembali ke pusat dekat kantor-kantornya.

Akoh… mengalami hari berangkat kerja yang cukup membuat latihan agar masuk seleksi Ninja Warrior. Bahkan strategi naik kereta balik sudah tidak menjanjikan kenyamanan seperti biasanya. Tetap aja yaaa…. penuhnya naudzubillah.

Anyway, I’m survive… Ngga pernah tahu kalau ternyata mampu ngadepin dan ngejalanin tantangan sedemikian.

Push your limit.

 

life thought · parenting · reminder

Anak Saleh

Kalau ditanya dan kalau berdoa pasti terucapkan “berilah kami anak-anak yang soleh/solihah”. Kalimat kojo. Mengandung banyak arti. Patuh sama orang tua (terutama sama ibu). Suka mendoakan orang tua. Taat beribadah. Bertingkah laku sopan santun. Pemberani. Penolong. bla bla bla….

Tapi sebenernya apa yang sudah dilakukan untuk menjadikan anak kita soleh atau solihah? Ga mungkin kan, anak-anak langsung tau tata krama? Ga mungkin juga dia langsung tau kebesaran Ilahi tanpa dihantarkan kepada konsep ketuhanan dan kemanusiaan?

Trus, gue punya apa untuk mengenalkan anak gue pada sekian banyak hal yang harus dia punyai dan dibelanya sebagai nilai-nilai kehidupannya kelak? Menyampaikan harapan dalam doa kepada Allah lalu berharap tiba-tiba hujan kebisaan turun deras, gitu? Wew.

Menjadi orang tua memang tidak gampang.

Yang sudah pasti anak-anak akan mulai belajar dengan meniru setelah dia memperturutkan naluri basic survivalnya. Lalu, apakah kita sudah pantas menjadi teladannya?

Menjadi orang baik saja, menurut gue sekarang, sudah tidak cukup. Harus ada jangkar yang kuat untuk menghindarkannya dari kehilangan motivasi ketika dunia tidak lagi menjawab pertanyaan-pertanyaannya; Ketika perbuatan baiknya tidak lagi berbalas kebaikan dari orang lain atau lingkungannya.

Sungguh gue merasa menjadi sangat kecil. Ketika membaca huruf hijaiyah aja masih terbata-bata. Ketika doa-doa harian ngga banyak yang hafal. Ketika pengetahuan gue tentang Nabi begitu minim. Apalagi mau mengantarkan begitu banyak ilmu fiqih sejak dini? Gimana mungkin gue yakin bisa mendidik Rin menjadi anak solihah kesayangan Allah?

Okeh. Mulai hari ini gue juga harus belajar lagi agama dengan benar. Banyak-banyak menyimak dan membaca lagi kitab-kitab kuning. Besok-besok, kalau mengantarkan kepada Rin kenapa kita perlu bersikap manis dan menyampaikan senyum tulus, sudah tidak sedangkal demi meraih respon baik dari orang lain, tetapi karena senyum itu bernilai sedekah; bahwa Allah menyukai senyum yang tulus itu dan akan diganjar kebaikan di Hari Akhir.

 

 

ceritakeluarga · ceritarinjani · life thought · parenting

Halo Buk, how’s everything?

3years5mos

sebuah gambar yang buram ini…

Oh, alangkah inginnya aku memiliki gambar terbaik dari acara di hari itu. Waktu itu Rinjani tampak sangat cantik. Seharian dia main dengan gembira, sampai lupa makan, sampai dia benar-benar kelelahan. Aku juga begitu sibuknya mengurus ini itu sampai-sampai ngga sempat membuat gambar dengannya. Mungkin belakangan ini aku memang terlalu abai…

Ketika malam hari aku rebah di sampingnya dan memperhatikannya terlelap… aku tersadar pada keberuntunganku dan juga kekacauanku. Bagaimana mungkin selama ini aku berpikir hal-hal lain di luar dirinya lebih penting? Aku terlalu sibuk mencari-cari waktu untuk melakukan banyak hal yang tidak terhubung langsung dengannya. Bahkan sibuk berkhayal untuk hal-hal yang tidak akan pernah menjadi hakku…

Sekarang aku tahu… bahwa sekadar ada dan hadir saat ini sudah tidak lagi cukup baginya. Sudah waktunya aku memikirkan dia akan menjadi apa dengan tangan yang kurang cukup bekal ini. Dia sudah ingin sekolah… apa aku sudah siap dengan uang pendaftaran? Dia sudah semakin bisa berpikir sendiri… apa aku sudah mampu memberi bimbingan yang tepat agar dia tak salah langkah dan berbuat? Apa aku sudah mengenalkannya kepada Tuhannya…?

I’m so selfish. Aku kasih segala yang ia mau… tapi apa aku benar-benar telah memikirkan apa yang dia perlukan?

Sungguh-sungguh berharap aku belum terlambat….

 

beauty · feature · life thought

Four Weddings and A Funeral

Foto edit dari karya Alexi Lubomirski (@alexilubomirski)

Oh yes, I want to talk about that royal wedding of the year…

Sebagai yang lahir di tahun 1970-an kisah Kerajaan Inggris adalah sebuah menu utama. Tapi gue baru sadar kalau dari keseluruhannya, pernikahan Prince Harry dan Ms. Markle adalah yang paling mengena di hati.

Terlepas dari segala hal yang dikatakan mereka mendobrak tradisi dan aturan Kerajaan, pernikahan mereka adalah kemenangan cinta. Love rules. Mereka memang ngga biasa. Lebih daripada segala yang gemerlap dan megah, justru kehangatan di antara merekalah yang berpancaran dan memikat perhatian. Seolah menegaskan bahwa cinta itu milik siapa saja, tak memandang kriteria buatan manusia. Mereka membuatnya jadi membumi. Yang kecil dan sederhana bisa terlihat indah karenanya. Juga menghidupkan harapan bahwa dunia ini bisa menjadi lebih baik.

Tajuk yang dipetik National Geographic (sama dengan judul tulisan ini) adalah untuk menggambarkan perjalanan seorang Prince Harry sampai dengan hari penting itu. Bukan hanya tentang pencarian cinta sejati, tetapi juga jati dirinya. He’s the one who deserves happiness, dari seorang anak yang kehilangan sosok ibu sampai akhirnya tumbuh kuat dan berani. Bersama perjalanannya ia membawa banyak perubahan baik.

Congratulations, you two…