Doa untuk Para Penjagal

11:35

waktunya istirahat makan siang.

I ran to catch a queue at Hokahoka Bento. This and that. Then found a seat. Pas madep dinding bermural dan ada logo halal MUI yang besssaaar di sana.

Hap! hap! hap! Sekejap saja nasi, acar, ayam teriyaki masuk ke perut. Lalu tetiba terpikirkan olehku. Betapa banyak orang Muslim, termasuk diriku sangat tergantung pada apa yang dilakukan para juru jagal di pangkal rantai produksi sana. Ngga cuma yang terkait dengan resto cepat saji macam ini, tetapi juga di rumah-rumah tangga. Alangkah abainya kami selama ini mengenai apa-apa yang kami masukkan ke dalam perut kami, ke darah kami… Halalkah? Layakkah? Kita terlalu sibuk dengan kosmetik luar, sampai lupa memikirkan kepantasan makanan, kebutuhan primer kita.

Sebaik-baiknya hewan yang dijadikan makanan, maka haruslah disembelih dengan menyebut nama Allah; lebih sempurna lagi kalau dilakukan sendiri. Apa daya, waktu dan kemampuan tidak dimiliki. Perlu keterampilan khusus untuk melakukannya. Sayang sekali pekerjaan ini lebih sering dipandang, maaf, sebelah mata. Padahal profesi ini menentukan kemaslahatan umat. Logo itu, lambang kepastian kelayakan. Tetapi, siapa sebenarnya yang bisa menjamin keabsahan pelaksanaannya? Siapa yang bisa memastikan para penjagal itu dalam keadaan baik dan sadar di setiap saatnya dalam menjalankan tugas? Sungguh, belas kasihan Allah saja yang menjadi pegangan kita.

Sejenak aku termenung dan menyelipkan sebaris doa, semoga mereka yang berwenang selalu dalam rahmat Allah, selalu dalam keadaan baik, sehat, sadar sehingga amanah menjalankan perannya. Aamin.

halal-mui

Gantung Pompa

dua puluh satu bulan sudah berlalu.

Rinjani sekarang ogah minum ASI perah lagi, walaupun masih sangat demanding sama ‘nenen’. Akibatnya, ibuk mulai pikir-pikir tuk gantung pompa. Dia juga ngga terlalu hobi sama susu pengganti, baik bubuk maupun cair, apalagi kalau rasa plain. Akibatnya, Rinjani minum susu dengan cara lain… minum susu cokelat, dicampur di pudding, nyamil keju, makan ice cream (eikem, kata dia), dan makan yang lain-lain sehingga kenyang dan merasa ngga perlu nyusu lagi,  walaupun masih tetap demanding sama ‘nenen’ (yang cuma ada satu rasa, rasa ibuk).

Saya syukuri saja, ini masih tahapan perkembangan yang baik. Saya malah bisa kembali punya waktu untuk melakukan hal-hal lain yang sempat tertinggal, yaitu konsentrasi kerja (di  kantor) dan kembali membaca.

Thanks to Book Club juga… Tiba-tiba sekarang saya kembali kalap membaca dan membeli buku!

Berikut list bacaan terkini :

 

yourjob
Your Job Is Not Your Career

 

 

konm
muslim-pra

kda

eo

Lalu, kembali revisit alias baca ulang koleksi lama sbb :

billbr

101

pc

kiplings

small

 

bahkan, masih mau menyempatkan cuci mata dengan ulik-ulik
Where’s Wally? – The Totally Essential Travel Collection. Hahaha…

wally

 

A little return to my passion, yeay!

Selamat ulang tahun 21 bulan, Rin kesayangan Ibuk. Terus tumbuh sehat dan ceria yaaa… Terima kasih untuk waktu-waktu menantangnya selama ini, dan sekarang ayo kita membacaaa…

dsc_0037

People (truly) Change… Me Too.

Yes. It happens. Karena seiring berjalannya waktu hanya perubahan itu sendiri yang abadi.

Bahkan kepada orang-orang yang kaupikir telah menemukan wujud sejatinya, waktu tetap membawanya kepada kebaruan. Kita tetap dikejutkan dengan sesuatu yang berbeda. Lagi dan lagi.

Makanya aku bilang, seperti pernah aku bilang, kita tidak bisa judging seseorang berdasarkan sesuatu pengalaman yang pernah kita tahu atau alami sesaat bersamanya. Apalagi kalau hanya sekadar tahu atau dengar dari orang lain.

Sudah sering sekali kualami berkesempatan bergaul karib dengan mereka yang diadili sebagai ‘obyek buah bibir’, ‘public enemy’, oleh orang lain, lalu aku menemukan intisari dari pribadi mereka yang ternyata jauh berbeda dari persangkaan orang. Dulu pernah aku begitu menjaga jarak hanya karena persangkaan orang (yang aku tidak pahami betul motifnya), nyatanya sekarang aku menemukan kenyataan dan kebenaran lain pada diri seseorang itu. Kita memang benar-benar terlalu sering terpenjara pada subyektivitas kesan pertama, pengadilan sesaat; yang kalau pun memang benar, insan-insan ‘obyek’ itu tetap punya hal prerogatif untuk menanggapiku dengan berbeda (tidak seperti yang dilabeli oleh khalayak umum), bukan? Kalau pun memang benar yang dituduhkan orang, mereka yang tertuduh ini juga punya hak untuk mengubah dirinya, bukan?

Tidak hanya orang lain. Aku juga merasakan banyak perubahan terjadi pada diriku sendiri. Dulu, dalam pemandanganku, pemeriksaan di gerbang masuk kantor adalah sebuah penghinaan, penistaan, sehingga aku selalu pasang tampang angker dan terhina jika petugas mengorek-orek tasku. Sekarang, bahkan aku rela membukakan retsleting tas dan membiarkan mereka melongok ke dalamnya. Pun lalu aku berterima kasih atas perlakukan mereka.

Dulu aku orang yang pemarah, yang tak segan memperlihatkan kegeramanku. Dari mengutuk sampai banting gayung. Dulu aku ringan dan tajam lidah, kata-kata sering sekali melukai; dan aku masih bisa mengingat siapa-siapa saja yang pernah tersakiti. Memikiran pembenaran pada saat itu sudah tak berguna lagi di saat ini. Karena kenang-kenangan telah diukir. Kebaikan waktu saja yang akan mengubahnya menjadi souvenir tak berarti dari memori seseorang.

Sekarang, herannya, orang banyak bilang kalau aku orang yang paling ‘tidak kedengaran’ meledak atau sumpah serapah. Kenapa dalam pikiranku, tetap saja, ada banyak sekali kosa kata buruk yang berlintasan setiap saat, mulai dari hewan berkaki sampai hewan yang terbang? Apakah memang sudah sejauh itu aku berubah?

Sebenarnya, aku masih tetap seorang yang penggeram. Tetapi aku sudah mencoba mengubah medan peperangan ke dalam diriku sendiri. Memang perlu jam terbang untuk berlatih agar bisa menarik diri sebelum membakar keadaan. Memang perlu banyak pengetahuan tentang baik-buruk, memberi ruang untuk orang lain terhadap situasi yang dihadapi bersama, sebelum melontarkan reaksi. Dan itu tidak mudah. Sangat memakan banyak pemikiran dan tenaga. Sungguh beruntung mereka yang tidak pernah banyak berpikir tetapi juga tidak mengambil hati pada banyak hal timpang di sekitarnya. Ach, buat apa pula iri hati.

Perubahan. Selalu berarti ada kesempatan dan harapan. Semoga selalu ada masa untuk itu.

Apa yang akan membawa pada kebaikan — memerlukan kemauan untuk banyak-banyak belajar dan berlatih.

 

Soap Opera

Siapa bilang gue keren dan ngga nonton sinetron? Haha (memangnya kalo nonton sinetron ngga keren?)

Gue keren sih, tapi juga nonton sinetron. Yasudalah.

Bahasa asalnya adalah ‘opera sabun’ terjemah dari soap opera. Kalau di Negara-Negara Latin sana, sebutannya telenovela. Sama saja dengan sinema elektronik (sinetron), umumnya berisi tentang konflik berkepanjangan, berlarut-larut, tak tahu kapan akan berujung. Hiyaaaa… emang gitu sih kenyataannya.

Disebut opera sabun karena, awalnya dulu, di tahun 1930-an, ketika drama televisi pertama dibuat dan siar, selalu ada selingan iklan sabun. Yang mana itu berarti adalah penyumbang dana produksi terbesar, alias sponsor iklan utama, di prime time.Kalau sekarang, iklannya ngga cuma iklan sabun. Malah lebih sering iklan sos*s atau kendaraan roda dua. Produsen berlomba-lomba pasang iklan di jam semua orang nongkrong depan tipi.

Lebih tepatnya, gue penonton soap opera sih. Bukan penonton sinetron.Tapi cukup tahu lah sinteron-sinteron yang hits saat ini.

Dulu, waktu saluran televisi hanya ada TVRI, gue nonton tuh serial Dynasty, dengan pemeran-pemeran wanitanya yang pake padding seperti pemain rugby.

Ketika akhirnya ketemu sama tivi burung rajawali, gue juga penonton setia Another World dan Sunset Beach. Mulai di tengah-tengah jalan ngga mengurangi keasyikan mengikuti jalan cerita. Tapi akhirnya gue lupa, apa ujung cerita dari kedua serial itu.

Sekarang, dengan teknologi TV cable yang mutakhir, rumah-rumah produksi tetap memakai resep ini untuk meraup keuntungan komersial. Bedanya, temanya sudah sangat bermacam-macam. Mulai dari drama perselinkuhan sampai zombie kawin lari. Hanya sinetron yang temanya masih meluluuuuu tentang konflik pelik keluarga kaya dan tokoh cantik yang teraniaya. Iyes.

Serial yang gue ikutin sekarang adalah Once Upon A Time. Udah tau dong, tentu saja karena latarnya adalah fairy tale popular dunia. Lucuk banget, Putri Salju bisa kongsian sama Red Riding Hood untuk melawan Hades. Di mana lagi bisa terjadi kalau ngga di sinteron?

Gue juga suka dengan Empire. Ceritanya tentang imperium black music yang didirikan Lucious Lyon dan keluarganya. Konflik keluarga musisi berlatar Afro-America, yang tentu saja menyebut kisah ketika mereka masih orang susah dan tinggal di lingkungan yang keras. Daya tariknya adalah di setiap seri selalu ada lagu-lagu hip hop yang seru. Tak kurang Alicia Keys pernah tampil sebagai bintang tamu. Ditemani raut tampan Jussie Smollet yang berperan sebagai Jamal Lyon, salah satu calon putera mahkota yang berbeda idealisme dengan ayahnya, dan kisah pun mengalir, belum kunjung kelihatan ujung perhentiannya. Kalau cerita sudah mau basi, tinggal insert bintang tamu (biasanya jadi monster yang hadir dari masa lalu).

Gue nonton lah sinetron. Tapi bukan yang jualan bubur.

 

empire-20

 

 

It’s A Sin…

Senang.

Sudah menyelesaikan sebuah buku lagi. Kali ini sebuah buku yang menjadi referensi klasik di kalangan literasi Amerika.

HL

Pertamanya kesulitan untuk memulai membaca (seperti biasa). Apalagi cerita ini dituliskan dengan latar bahasa dan dialek Selatan. Tetapi berkat balutan misteri dengan suasana gothic yang dimulai sejak halaman-halaman awal, akhirnya berhasil mengantarkan perhatian sampai ke jantung penulisan buku ini, dan kemudian menggiring rasa penasaran untuk mengungkap akhir kisah dan mengupas simbolisme dari si burung bulbul.

Bagus. Dan menyentuh. Jadi ingat membaca tulisan sastra yang terbit di tahun-tahun 60-an di mana topiknya berkisar pada rasa kemanusiaan, hakikat dalam kehidupan, bangunnya kesadaran. Serunya, To Kill A Mockingbird diceritakan dari sudut pandang tokoh seorang anak, Scout Finch, dengan segala keluguan dan keterusterangannya. Sebagai anak, ada banyak hal yang sulit sekali dipahaminya berkaitan dengan menjadi orang dewasa dan hidup dalam sebuah masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu dan dengan kasih sayang dari sang ayah, Scout belajar tentang hal-hal itu. To Kill sendiri ditulis oleh Harper Lee berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap isu kemasyarakatan sewaktu ia kecil. Bisa dikatakan Scout adalah kacamata Mrs. Lee di masa kanak-kanak. Dan menggambarkan sebuah masyarakat dengan isu serius (kesetaraan ras dan perjuangan kelas, pada waktu itu) dalam bahasa kanak-kanak bukanlah hal yang mudah. Kepiawaiannya ini yang kemudian diganjar Pulitzer Award pada tahun 1961, setahun setelah penerbitan pertama.

HL2To Kill A Mockingbird kemudian difilmkan juga… Sayangnya belum ada versi terkini. Jadi penasaran siapa saja yang bisa lulus casting jika ada produksi baru.

 

peck

HL3

The Lovely Bones (2009)

Susie Salmon: [voiceover] When my mother came to my room, I realized that all this time, I’d been waiting for her. I had been waiting so long, I was afraid she wouldn’t come.

Abigail Salmon: [whispering] I love you, Susie.

Susie Salmon: [voiceover] Nobody notices when we leave. I mean, the moment when we really choose to go. At best you might feel a whisper, or the wave of a whisper, undulating down. My name is Salmon, like the fish. First name: Susie. I was 14 years old, when I was murdered, on December 6, 1973. I was here for a moment. And then I was gone. I wish you all a long and happy life.

tlb

Tidak pernah sebelumnya, ketika membandingkan film dari sebuah buku (naskah asli), gue merasa lega jika interpretasi filmnya tidak seperti bukunya, selain ketika membaca dan menonton The Lovely Bones.

Begitu saja, terlewat di 2009 untuk menyaksikan film ini, akhirnya, tahun ini, hanya karena a quick pick di bazaar buku dalam rangka Kemerdekaan, gue mencomot novel tulisan Alice Seabold ini dari tumpukan yang menggunung.

Senang, karena dorongan membaca sedang meninggi lagi. Dalam seminggu tuntas. Sesudahnya langsung mencari file film ke kine klub di kantor. Dan dapat. Gue sampai bener-bener mencari waktu yang aman, menghilang sejenak dari sekitaran si Bocah Kecil, supaya khusyuk nontonnya. Ngga berani malem-malem. Takut.

Now, ke ceritanya ya…

Tadinya kepikiran it’s quite similar with The Bone Collector, gitu? Ternyata memang ngga jauh-jauh dari suspense pembunuhan dengan modus mutilasi. Di tahun 2009 itu, akhirnya gue malah nonton Up In The Air. Yang tentunya lebih ‘ringan’ karena tidak melibatkan darah.

Tapi The Lovely Bones sebenarnya adalah drama keluarga. Kisah yang dibawakan, dari sisi si mati korban mutilasi, tentang melihat kehidupan setelah ia tak ada di dunia. Bukan sekadar drama biasa, tetapi juga berunsur supranatural. Kalau boleh mencari kesamaan, ini seperti nonton The Life Of Pi. Ada penggambaran sisi-sisi pengembaraan psikis, pencarian jawaban, dan perubahan cara pandang.

Sekali lagi gue mau bilang, gue bersyukur filmnya diterjemahkan sehingga menjadi seperti sekarang. Karena kalau membaca bukunya, scene kejadian pembunuhan terhadap Susie Salmon digambarkan begitu intense dan bikin bulu kuduk mrinding (bahkan kata imdb, Tucci dan keluarga Saoirse Ronan sempat menolak scene pembunuhan Susie). Di buku, pemandangan tentang ‘rumah hijau’ Mr. Harvey terasa lebih angker. Dan pelarian Abigail terasa lebih brutal. Film ini lebih menghibur, melegakan. Sayangnya, kalau hanya melihat tanpa membaca, sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai film aneh yang surreal.

Bagaimanapun, ini layak disaksikan. Ada nilai kasih sayang orang tua yang tak teperhitungkan oleh binatang buas semacam serial killer. Ada kelegaan yang mau disampaikan pengarang, mungkin kepada banyak keluarga korban di luar sana, bahwa sakit itu tidak ada lagi di Semesta Tuhan yang tak terjangkau nalar manusia. A happy end.