a mon avis · feature · job-profesi · life thought

Cute Nasty Business

Ini nih, satu lagi profesi yang membuat gue kagum. Para juru cukur rambut tubuh — apa sih sebutan resminya? Terlebih lagi mereka yang harus mengurus daerah pribadi. *You know what I mean, don’t you?

Mungkin gue yang rada ‘shock’ dengan keberadaan mereka. Tapi rasanya tetap saja, daerah ‘private’ kan bukan konsumsi umum ya. Maka, yang punya profesi juru cukur ini perlu integritas diri yang tinggi, sebagai pribadi maupun sebagai tenaga professional. Ya ngga?

Coba bayangin kalau para juru cukur ini orangnya ember… Bah, malu-nya konsumen bisa tersebar ke mana-mana tuh.

Menurut gue, nomor satu, harus itu dulu sih persyaratan utamanya. Baru kemudian keterampilan mencukur. Yang mana ini juga perlu penanganan serius karena yang diurusi adalah kulit, anggota tubuh yang fungsinya sebagai pertahanan pertama sehingga sangat sensitif terhadap invasi benda maupun aksi eksternal. Apalagi di bagian yang sangat pribadi ya.

Jelas ini bukan pekerjaan yang luks. Apalagi menjanjikan karir keren. Bahkan, dilihat dari apa yang diurusi, ini tergolong ‘nasty business’. Hehehheee… Tapi, kebayang kan, nona cantik tinggi semampai, atau bos gede perusahaan multinasional… kalo ngga ada yang urusin bulu-bulu rambutnya, piye?? Ke tangan para juru cukur inilah kebersihan dan kerapian diri kita terletak.

Kekaguman gue berikutnya adalah karena ada orang yang demikian percaya diri dan menjadikan ini sebagai peluang usaha. Hal kecil tetapi diperlukan. Ada konsumennya. Kalau dilihat secara umum, outlet tempat terapinya ngga pernah gede dan wah kayak salon atau spa. Hanya memanfaatkan pojok-pojok secukupnya. Biarpun kecil tetapi perlu penanganan yang serius soal skill, hygiene, service… kalau bisa menyenangkan konsumen lebih bagus lagi (seperti rumah cukur ini). Remeh-temeh yang menentukan kenyamanan hidup. Tidak mewah tetapi dibutuhkan. It’s super cool.

Be te we… harus ngga sih rambut-rambut ini dihilangkan? Engga juga sih. Ngga wajib. Itu pilihan. Sepanjang kebersihannya terjaga. Tetapi jangan lupa, ada hadis-hadis tentang kebersihan diri yang menyebutkan bahwa rambut-rambut tubuh perlu dihilangkan. (Dan ada rambut-rambut yang tidak boleh dihilangkan). Silakan gali lebih jauh. Dan karena kebersihan adalah sebagian dari iman.

.

Kepada para mbak cukur di manapun berada, terimalah salam hormat dan kagum saya.

waxhouse

a mon avis · life thought

Galaunya Status

Gue tuh ternyata ngalamin juga yang namanya galau. Yeayalah.

Terutama nih kalo buka-buka socmed. Dalam hal ini facebook. — Sekarang ini socmed gue yang aktif cuman facebook dan twitter. Path, tewas. Facebook cuman bisa buka di PC di rumah. Twitter, tempat nyampah sehari-hari. Sudah susah manage nya juga karena cuma bisa diakses di mobil phone yang udah lemot.

Galaunya tuh kalo lihat-lihat status orang-orang, terutama kalo lagi pada sharing beautiful atau happy moments. Gue merasa terintimidasi, huueee, orang-orang hidupnya hepi amat yak? Wow, beruntung amat mereka? Gue kapan posting ya? Kebahagiaan gue apa sik, ko gue ga sharing-sharing di fb?? Hehee…

Ngga berarti hidup gue susah mlulu. Gue malah banyak bersyukur, alhamdulillah, sampai saat ini gue sehat dan baik-baik aja. Kebahagiaan gue juga ga heboh-heboh. Bisa nyruput secangkir teh melati panas legit aja udah huwooooww banget rasanya. Trus, apa iya gitu aja gue musti sharing ya? Kalo engga, gue ketinggalan apdet ya di antara para pelaku socmed?? Galau.

Aseliknya gue sekarang pemales sih. Dulu mungkin sempet niat banget, mau apdet status aja harus set time & place bikin fotonya dulu yang ‘bercerita’. Sekarang, males boookk. Terakhir-terakhir, gue malah bilang sama diri sendiri, orang kayak gue tuh, bisa mengekspresikan keindahan, ketakjuban, dengan permainan dan perbendaharaan kata. Sebenernya karena males aja kudu nyiapin pose atau portrait. Hehehee… Tapi makin ke sini, ngeluarin dan ngrangkai kata-kata aja udah jadi males duluan. Males mikirnya. Apa yang dirasakan di dalam sini (nunjuk dada. Dada siapa??) sepertinya ngga selalu dengan mudah dikata-katain. Makanya, trus brenti lagi apdet status.

Itu baru soal sharing pengalaman diri. Apalagi mau ikut-ikut komentar soal hot issues yang lagi marak dewasa ini. Atau sharing pikiran (sok dalem) tentang suatu fenomena… Alah, capek amat. Kayak kurang repot aja hidup gue, mau komen-komen urusan orang pulak?!

Katanya sih, kalau lu mau kaya, berbagilah dengan sesama. Tapi bagi-bagi status perasaan dan pikiran gue….? Apa iya sepenting itu? Atau bakalan berefek segitu besar? Yang ada malah repot berbalas komen dan semakin-makin ngga bisa lepas dari mantengin timeline. Ya atau ya?

My life is my life. Rasanya ngga perlu seluruh dunia tahu-tahu banget apa-apa yang terjadi sama gue. Cukup orang-orang terdekat aja, dan ngga harus di socmed. Kan? Kan?

Godaan banget lihat-lihat status orang. Godaan untuk gue berlomba-lomba memamerkan kebahagiaan, rasa kebersyukuran gue terhadap sesuatu. Kalau dipikir keperluannya, ternyata ngga perlu-perlu banget. Ya udah deh, ga usah sering-sering kepo status orang dengan manteng dan stalking timeline socmed.

Sinis ya gue? Satire? Tapi itu beda lho dari nyinyir.

 

a mon avis · life thought · parenting

I Believe in… Parenting

Kiranya inilah jawaban untuk kegalauan atas keadaan dunia yang sudah semakin carut marut. Ingin berbuat sesuatu tapi tak berdaya karena sudah terlanjur larut.

Saya hanya tau segalanya harus dimulai dari skala kecil, oleh & pada diri sendiri, dan bisa dilakukan sekarang juga…

Mungkin saya sudah ketinggalan trend atau informasi. Mungkin karena saya baru benar-benar sadar karena harus terlibat ketika saya menyandang status sebagai orang tua (dari seorang anak)… saya seperti melihat titik terang. Akhirnya saya punya sesuatu yang bisa dilakukan. Ya, membentuk manusia, memperbaiki segalanya, saya bisa mulai dengan keluarga dan anak saya. Menjadikannya orang baik. Mengharapkannya beroleh kebaikan. Dan mengharapkan dirinya akan membawa kebaikan kepada dunia. Mulai dari lingkungan yang kecil tapi semoga mempunyai magnitude yang cukup untuk membawa orang lain dan hal lain ikut menjadi baik. Amin.

Sekali lagi, saya sudah ketinggalan trend. Topik pendidikan dan pengasuhan anak sebenarnya sudah jadi bahan pemikiran, pembahasan besar dan luas di luar sana. Saya saja yang telat terlibat. Berbagai-bagai model pengasuhan, contoh, pengalaman telah terpampang, diujikan, dibahas, dirumuskan. Tetapi dulu saya tidak terlalu ambil peduli.

Baru ketika jadi orang tua saya memperhatikan banyak wacana. Termasuk ketika bertemu dengan Ibu Elly Risman dan barisan Yayasan Kita dan Buah Hati -nya yang setiap kali membawakan tema selalu menggedor-gedor kesadaran dan mengobrak-abrik kenyamanan karena selama ini kita (saya, lebih tepatnya) telah salah tafsir dan salah langkah dalam melihat anak dan pengasuhannya. Saya juga jadi bisa melihat kesalahan yang terjadi dalam proses menjadi diri saya sendiri. Sesuatu yang tidak boleh terjadi lagi.

Banyak. Akan ada banyak yang bisa dikisahkan dan dibagi. Nanti. Saya ingin dan akan membagi pemahaman saya sehingga, semoga, bisa dipahami dan berguna bagi lebih banyak orang. Kali ini saya hanya ingin bilang, kita tidak bisa main-main lagi. Pengasuhan adalah sebuah proses yang digdaya untuk membentuk manusia. Kelak akan sampai untuk memperbaiki keadaan di luar sana.

Mungkin akan sangat terlambat? Tapi setidaknya saya tidak berhutang pada kehidupan anak saya. Dia harus menjadi mampu untuk memasuki dunia yang tidak lagi muda dan mudah ini.

_parenting

a mon avis · way-to-iman

Kenapa Berjilbab?

Tulisan ini akhirnya gue angkat juga di blog.
Gue gag yakin, rasanya pernah nulis somewhere… kalau reproduced mohon maap ya, Pembaca 🙂

Berawal dari merespon tulisan temen gue, Putie di blognya… trus gue pikir perlu juga membuat statement sendiri atas kenapa akhirnya gue memilih berjilbab. Kalau kemudian ga relevan lagi, at least gue punya memorabilia bahwa pernah mengalami perkembangan dari taraf ini.

Terus terang, motif-motif gue ga begitu relijiusnya atau dapat pencerahan wangsit dalam mimpi setelah puasa mutih 7 hari. Engga. Semuanya serba practical, berdasarkan pengalaman, sepele aja. Tetapi karena itu gue setuju kalau berjilbab itu pilihan yang personal.

Pertama, gue berjilbab karena dulunya sering banget disalahidentifikasi sebagai non-muslim. Ketambahan lagi gue emang toleran terhadap paham ‘liberal’ akibat selalu bersekolah di bawah yayasan Katolik. Gue mungkin bisa sangat mengerti ajaran Katolik tetapi lama-lama gue ingin dikenal sebagai muslim yang ga cuman di KTP. Jadi, jilbab itu memudahkan gue memilih simbol identitas.

Kedua, karena alasan keamanan. Gue, sebagai perempuan aja, sebenarnya udah kurang pantas keluyuran ke mana-mana sendiri. Jalan-jalan ke tempat jauh. Sendirian atau sama teman-teman yang ga hanya muhrim. Yes, I enjoy travelling with boys. Menurut Al Quran, anjuran berjilbab salah satunya adalah supaya perempuan tidak diganggu. Dan menurut pengalaman gue itu benar dan terbukti. Sejak gue berjilbab, ga ada lagi orang-orang di tikungan yang usil suit-suit. Kadang gue merasa jadi invisible di saat-saat diperlukan (misalnya pas nglewatin daerah-daerah rawan). Mengurangi pandangan laki-laki dari menyorot fisik. Entah kenapa gue sepaham bahwa seluruh tubuh perempuan itu semuanya mengandung godaan. Mulai dari rambut yang wangi dan ukel-ukel cantik, kuku jemari yang rapi dan lentik, sampai sibakan betis atau lekuk tumit. Jilbab membuat faktor fisik itu terlindung. Chance untuk dinilai secara inner side jadi lebih terbuka daripada harus terbias karena ada lekukan pinggul, misalnya.

Ketiga. Walaupun ini dituliskan terakhir bukan berarti kalah penting ya. Jilbab adalah tanda kepatuhan minimum kepada Allah, yang gue pilih karena gue pikir paling mampu dilakukan. Perintah-perintah dan larangan-larangan lain tentu diusahakan terpatuhi, tetapi gue tau banget ko, godaan bergossip itu susssaaaaah banget ditinggalkan. Sering sekali tergelincir. Jadi, apa dong yang bisa gue andalkan? Semoga pilihan berjilbab ini setidaknya diterima Allah sebagai itikad untuk tunduk dan patuh; mau mengusahakannya.

Gue berjilbab baru aja ko, tahun 2005 kalau ngga salah. Kalau ada yang bilang gue berjilbab karena sudah puas nyoba segala macam (gaya) mungkin benar – rambut cat merah, potong cepak, celana pendek, jeans robek… Tapi gue lebih suka melihatnya sebagai proses untuk sampai kepada pilihan yang sekarang.

Gue bilang juga dalam respon gue bahwa berjilbab itu ngga serta merta membuat penataan penampilan jadi mudah dan praktis. Jadi alasan kepraktisan itu ga valid karena rambut dan kulit kepala yang sering tertutup tetap perlu dirawat dengan seksama bahkan lebih khusus. Menjaga kerapihan tataan, lipatan, sisipan rambut (supaya tidak nongol-nongol) seharian, itu juga bukannya praktis. Lebih-lebih lagi ketika shalat dan penting melakukan wudhu sesuai sunnah, jilbab harus lebih dulu dibuka. Lalu, apakah itu jadi penghalang untuk berjilbab…? Justru menurut gue itu menjadi ladang perjuangan seorang muslimah, sanggupkah menjadi istiqomah?

Oh ya, godaan dan ujian itu selalu ada atas keputusan/pendirian yang kita tetapkan. Kalau kaupikir selama ini gue jalan lenggang aja terhadap ujian, itu ga benar. Biasanya gue berdalih keringkesan (praktis) dan kemodisan untuk memilih gaya jilbab yang gue anut. Sebenernya style pilihan gue sederhana aja sih dan memang lebih suka pakai scarf bujursangkar lebar dengan draperi di dada. Tetapi untuk gaya jilbab panjang dan sangat menutup, gue belum sampai. Apalagi kalau gue harus beraktivitas fisik seperti hunting atau naik gunung. Mungkin kalau nanti ada motif eksternal berupa ‘anjuran suami’, gue ga akan gamang lagi untuk menjadi lebih syar’i, hehehhe…

Pada kesimpulannya, setiap muslimah perlu menemukan motif personalnya yang tulus yang datang dari hati dan menentramkan diri. Kalau sekadar mengikut mode, niscaya itu akan berakhir. Kalau sekadar pencitraan, semua juga tau sepandai-pandai tupai melompat – kapan-kapan akan ketahuan belang perilakunya. Kita tidak sedang berpolitik, kan? Ini tentang keimanan pribadi. Diri sendiri.

sketch by annakoutsidou
sketch by annakoutsidou
a mon avis · life thought

I Hate Jakarta

Saya tak pernah benar-benar menginginkan jadi orang Jakarta, apalagi berbangga berdomisili di sana.
Ketika akhirnya tahun 2009 saya dimutasi, menduduki sebidang ruang kantor di lantai delapan saja sudah melampaui bayangan.
Saya memang belum juga terbiasa dengan hiruk-pikuknya, … macet? Oh, apalagi! Seperti tak pernah akan ada akhir. Dan saya dengan keras kepala tidak akan mau bersikap permisif – beradaptasi terhadap kemacetan. Benci. Tak ada empati sedikit pun.

Tinggal di Jakarta… adalah kemustahilan bagi saya. Tidak akan pernah ingin. Dan tak pernah habis pikir kepada siapa pun, bahkan yang memilih tinggal di unit megah dengan fasilitas lengkap, yang memutuskan untuk tinggal dan bertahan di tengah keruwetan.

Di Jakarta memang serba ada. Tetapi saya tidak butuh kesemuanya. Beberapa sahaja cukuplah.

Sekarang, lihat… diriku ini sudah seperti sebagian besar kaumnya saja. Pagi-pagi ngantor bersama segerombolan besar makhluk-makhluk industri. Tas sandang di kiriku. Kopi panas dalam tumbler pilihan. Langkah bergegas. Mungkin terlihat utopis bagi mereka yang bermimpi menyerupai. Sungguh, saya tidak bangga dengan itu.


Demikian.
Rejeki untukku diturunkan-Nya di tengah-tengah Jakarta yang rusuh. Seberat-beratnya jalan yang ada, takdir sudah membawa saya ke situ. Ya dijalani…

Tetap saja,
untuk jatuh cinta rasanya tidak dalam waktu dekat.

Maaf ya….