#bicaracinta · enjoy life · husband-and-wife

Ro-man-tis

Kami, aku, ngga ngrayain Valentine’s Day. Tapi hari ini mau ngomongin romantisme karena pas lagi ngehadirin kelas Memelihara Hubungan dengan Pasangan. Di mana, setiap peserta kelas diminta menyampaikan definisi romantis menurut masing-masing.

Lucu-lucu lho. Yang mana menurutku kadang terasa kaya nonton TV atau baca buku. Hahahaaa… Iya, banyak diceritain orang-orang yang kaya indah-indah gitu. Apa aku sendiri pernah ngalamin? Ummm… Mungkin pernah. Tapi kayaknya ngga berkesan berkesan amat sih. Yang macam kirim bunga, gitu? Atau bukain pintu kendaraan buat wanita… Itu bukan romantis sih menurutku. Tapi sikap gentleman. Apa dia (si laki-laki) pake perasaan sayang cinta? Ummm, mungkin malah engga, kecuali dia cuma mau unjuk kejantanan aja. Hahahaaa… Ko gue sinis kayak netijen? 😂

Beberapa definisi sepertinya perlu dimurnikan lagi, mungkin itu gambar ideal dan harapan seseorang tentang hubungannya atau pasangannya. Beberapa yang lain, ada yang bener berkesan, seperti pengalaman tubrukan pandangan mata yang bikin salting, padahal usia pernikahan udah banyak dan biasanya malah saling ngga mau ngalah dalam hal berebut remote TV. Tapi selebihnya kayak masih khayali atau meromantisir situasi, macam jemput di tengah hujan deras, urus anak ketika istri sakit…

Ya bebas aja sih. Semua orang punya hak untuk membuat takaran romantisnya.

Lalu aku dan suami romantis atau engga? Jawabannya, ternyata, kami ngga romantis blassss. Hahahahaaa… Aku malah geli kayaknya kalau dia tiba-tiba kirimin aku rangkaian bunga, misalnya. Dia ngga tipe yang begitu. Akunya juga ngga ngarep dikirimin kembang. Mending isiin rekening bank aja deh, Yah. Ngga romantis, pastinya. Tapi setidaknya aku pasti senang. Hahahahaaa…

Apa kami perlu beromantis-romantis? Ummm kayaknya engga. Ya, Yah ya…? Yang penting ketika kami berduaan, kami bisa saling terbuka ngobrolin hal-hal yang hanya milik berdua. Perkara nanti berlanjut mesra-mesraan, ya begitulah roman seharusnya, ngga diganggu urusan dan kesibukan lain. Jadi, bukan si ayah abis mandiin anak (karena ibu sakit), trus anter sekolah, ajakin bikin PR, jadi roman-romanan kan? Yang ada si ayah malah capek, sementara istri masih tepar.

Tapi, ada nih hal yang bisa banget membuatku merasa kayak diguyur air sejuk dan jadi ngerasain gimana perhatiannya seorang pasangan, yaitu kalau lihat cara Pangeran Harry dan Duchess of Sussex bergandengan di publik. Wow! Ini lho romantis, ini lho yang jatuh cintanya ngga habis-habis.

Kalau udah dalam pernikahan, romantisme bukan yang paling utama, menurutku. Lebih penting tanggung jawab, komit sama ikrar pernikahan, dan kasih sayang. Romantis perlu? Ya perlu. Kalau bisa sparks yang dulu ada dipertahankan. Dihidupkan kembali, biar komitmen ngga jadi membosankan.

Tetap ya, jangan berharap aku jadi romantis. Kayaknya bukan aku tuh. Tapi, menurut Ayah romantis itu kayak apa sih? 😅 *Ayah, pls jawab di kolom komentar

#bicaracinta · ceritakeluarga · jurnal

#bicaracinta 01

lr_pentaxk2-php

Cinta itu…
seperti taneman
Bisa tumbuh mandiri, ga pake direncanain pun, kalau ada bibit yang jatuh di tanah cukup hara, ia akan tumbuh
Tumbuh sendiri. Seada-adanya.

Kalau mau tanemannya bagus, rapi, berbuah bagus… ya harus dirawat. Dipupuk, disiram,… disiangin dari godaan rumput-rumput liar dan gulma; diajak ngobrol dan berbincang-bincang…. Lama-lama ia bisa jadi pohon besar yang bisa kausandari, dicurhatin.

Kadang-kadang datang musim yang keras dan taneman cuma bisa menerima deraan. Bisa hujan badai berkepanjangan atau musim kering kerontang, meranggas, mengertakkan batang-batang. Di saat itu banyak-banyak berdoalah, mudahan taneman ga roboh, rusak, tercerabut dari tanah lalu musnah. O iya, selama ada akar yang kuat, sebenarnya tidak perlu putus asa karena taneman itu punya daya self-healing, self-curing. Tumbuh lagi, bertunas lagi. Selama Yang Maha Kuasa meridhoi.

Gitu ya?

Hahaaa… tulisan iseng semata. Kalau Ayah baca pasti dia ketawa. Senyum-senyum gag jelas gitu deh …

“Emangnya aku pohon apa?”, kira-kira dia akan tanya gitu.

Trus aku jawab,… “kamu pohon petai, Yah… sesuai menu kesukaanmu”. Wkwkwkwkwkkkk…

 

***

Catatan : kita bicara-bicara cinta lain waktu lagi ya 😉