enjoy life · husband-and-wife · life thought · perempuan

… just

Hasil merenung-renung beberapa waktu belakangan ini:

Apa kaupikir telah tahu apa itu ‘hidup’? Apa yang kaurancang tentang menikah, mengikatkan diri, dan berkeluarga? Pada kenyataannya itu tidak sederhana. Tak senaif yang diidealkan masa muda. Pada kenyataannya kita bisa lihat banyak sekali masalah di luaran sana yang tadinya dikira kita bakal steril dengan menjaga keluarga sendiri.

Dipikirkan. Dan singkirkan dulu soal perasaan.

Menikah itu membukakanmu pintu ke penjelajahan baru; Memahami hati dan keterbatasan sebagai insan. Apa ada pasangan yang terus-menerus rapi, mesra, … sepanjang masa? Tidak ada. Bahkan untuk orang biasa-biasa, rumah tsngga pasti melalui up setinggi-tingginya, lalu down sekaram-karam di palungan.

Apakah kau benar-benar telah cukup dengan yang ada? Semua dalam rangka usaha saja. Seagung-agungnya syukur kauunjukkan, Allah masih akan tetap memberimu tantangan yang menggelitik.

Kau menikah untuk belajar terikat dan memelihara ikatan. Kalau kauterpusat di ikatan itu hidupmu telah cukup sibuk. Pada hal yang menerus seperti itu akan ada masanya menepi, jenuh, lalu ingin pergi yang untuk kembali. Lari untuk tahu arti pulang dan rumah.

#bicaracinta · enjoy life · husband-and-wife

Ro-man-tis

Kami, aku, ngga ngrayain Valentine’s Day. Tapi hari ini mau ngomongin romantisme karena pas lagi ngehadirin kelas Memelihara Hubungan dengan Pasangan. Di mana, setiap peserta kelas diminta menyampaikan definisi romantis menurut masing-masing.

Lucu-lucu lho. Yang mana menurutku kadang terasa kaya nonton TV atau baca buku. Hahahaaa… Iya, banyak diceritain orang-orang yang kaya indah-indah gitu. Apa aku sendiri pernah ngalamin? Ummm… Mungkin pernah. Tapi kayaknya ngga berkesan berkesan amat sih. Yang macam kirim bunga, gitu? Atau bukain pintu kendaraan buat wanita… Itu bukan romantis sih menurutku. Tapi sikap gentleman. Apa dia (si laki-laki) pake perasaan sayang cinta? Ummm, mungkin malah engga, kecuali dia cuma mau unjuk kejantanan aja. Hahahaaa… Ko gue sinis kayak netijen? 😂

Beberapa definisi sepertinya perlu dimurnikan lagi, mungkin itu gambar ideal dan harapan seseorang tentang hubungannya atau pasangannya. Beberapa yang lain, ada yang bener berkesan, seperti pengalaman tubrukan pandangan mata yang bikin salting, padahal usia pernikahan udah banyak dan biasanya malah saling ngga mau ngalah dalam hal berebut remote TV. Tapi selebihnya kayak masih khayali atau meromantisir situasi, macam jemput di tengah hujan deras, urus anak ketika istri sakit…

Ya bebas aja sih. Semua orang punya hak untuk membuat takaran romantisnya.

Lalu aku dan suami romantis atau engga? Jawabannya, ternyata, kami ngga romantis blassss. Hahahahaaa… Aku malah geli kayaknya kalau dia tiba-tiba kirimin aku rangkaian bunga, misalnya. Dia ngga tipe yang begitu. Akunya juga ngga ngarep dikirimin kembang. Mending isiin rekening bank aja deh, Yah. Ngga romantis, pastinya. Tapi setidaknya aku pasti senang. Hahahahaaa…

Apa kami perlu beromantis-romantis? Ummm kayaknya engga. Ya, Yah ya…? Yang penting ketika kami berduaan, kami bisa saling terbuka ngobrolin hal-hal yang hanya milik berdua. Perkara nanti berlanjut mesra-mesraan, ya begitulah roman seharusnya, ngga diganggu urusan dan kesibukan lain. Jadi, bukan si ayah abis mandiin anak (karena ibu sakit), trus anter sekolah, ajakin bikin PR, jadi roman-romanan kan? Yang ada si ayah malah capek, sementara istri masih tepar.

Tapi, ada nih hal yang bisa banget membuatku merasa kayak diguyur air sejuk dan jadi ngerasain gimana perhatiannya seorang pasangan, yaitu kalau lihat cara Pangeran Harry dan Duchess of Sussex bergandengan di publik. Wow! Ini lho romantis, ini lho yang jatuh cintanya ngga habis-habis.

Kalau udah dalam pernikahan, romantisme bukan yang paling utama, menurutku. Lebih penting tanggung jawab, komit sama ikrar pernikahan, dan kasih sayang. Romantis perlu? Ya perlu. Kalau bisa sparks yang dulu ada dipertahankan. Dihidupkan kembali, biar komitmen ngga jadi membosankan.

Tetap ya, jangan berharap aku jadi romantis. Kayaknya bukan aku tuh. Tapi, menurut Ayah romantis itu kayak apa sih? 😅 *Ayah, pls jawab di kolom komentar

ceritakeluarga · ceritarinjani · enjoy life · mamahood · parenting · perempuan · rumakita · weekend-mom

Ayah-Rinjani : Ditinggal Berdua (saja)

Kemarin, sehabis Imlek, mba pengasuh ga masuk kerja. Untungnya, ayah yang kerja di grup perusahaan warga keturunan, masih dapat libur satu hari lagi. Sementara aku, yang di perusahaan swasta nasional, sudah harus setor absen.

Rumah kutinggal dengan beberapa pasokan sehingga ayah dan bokril ngga bakalan kelaperan. Kutinggalkan pula uang belanja, kalau-kalau perlu tambah jajan. Dan berangkatlah aku dengan yakin ngga akan ada masalah. Ini bukan pertama kali mereka kutinggal berdua juga sih.

Menjelang tengah hari aku cek kondisi mereka lewat WA. … and I’m surprised. Ayah belanja dan masak. Bahkan bikin sambal! 😄

masak sup ceker, kesukaan anak kami…
Wow bangeeet…

Selama ini, kalau di rumah, aku yang take-in-charge dapur. Mungkin terbawa kebiasaan Mama di rumah yang pakemnya suami-harus-diurus-perutnya oleh istri. Hihihii. Aku lupa, si ayah juga punya kemampuan ini di masa lajangnya, di rumahnya sendiri dulu. Aku lupa, si ayah yang kutemuin di perjalanan gunung, kan emng punya modal biasa bergerak di dapur ya kan.

Nah, singkat cerita habis masak, mereka berdua makan siang. Rinjani dipersilakan ayah makan sendiri lho. Sesuatu yang belum pernah kucoba (untuk kupercayakan). Ayah langsung aja tuh memberinya ruang eksplorasi…

Menyantap dengan antusias, di meja sendiri…

Tambah lagi, ngga ada tekanan harus-makan-sayur, eh anaknya sendiri langsung nyamilin wortel. Good girl 😊.

Kata ayah, kontan abis makan lahap, dia ngantuk. Lancar sekali prosesnya.

Sore, aku cek lagi. Mereka pasti habis bangun dari siesta. Eh, ternyata, kata ayah, mereka udah di masjid. Rinjani seneng ikut ayah shalat jamaah. Biasanya dia duduk diam-diam sambil tutup telinga. Katanya, gag suka denger suara kencang muadzin dari loud speaker. Hmmm, …

Sore kemarin itu Rinjani didaftarin ke TPQ… Dia suka dan bersemangat belajar.

bergabung di TPQ, shalihah^^

Alhamdulillah, hari berjalan lancar ya. What a relief for me. Ayah bilang, capek sih, sambil mengasuh anak (soalnya lagi masa sangat aktif), sampai-sampai aku tiba di rumah, jam 8 malam, dia baru mau mandi 😆. Masakannya aku coba, enak lho. Layak tampil banget. Pantesan dia ga ragu kasih kritik kalau aku masak 😝.

Lain hari libur sepertinya ia akan kudapuk masuk dapur lagi deh. Hmmm…

ceritakeluarga · enjoy life · jurnal · perempuan

Cook Soto

Day-20 ngga punya ide mau nulis apa. Hampir tengah malam nanya Si Ayah deh, kali dia punya ide. Dan katanya nulis tentang memasak aja.

Hahaah… 😄 Dia terkesan sekali dengan masakanku hari kemarin rupanya, padahal aku lagi ga enak body banget tuh. Tapi selera makan masih besar siiih 😋. Dari hari sebelumnya ingin makan soto, kuah bersantan, dengan bihun dan tauge. Etapi, belum ada ayamnya, pun udah tanggal tuwa. Apa masih kebeli ya si ayam?

Pagi-pagi kami berdua tak sengaja mantengin Asian Food Channel. Eh pas lagi hidangan Vietnam gitu ada peragaan masak tumis pucuk labu bersama jamur shiitake. Menggiurkan sekali. Mana itu jamur tampangnya ga kaya yang di toko. Dia jamur petikan dari pinggir hutan. Bumbunya pun sederhana, ga neko-neko. Jamur kan udah umami juga ya. Wiiiii… Tastyyyy.

Akhirnya sepakat sama Ayah, bikin tumisan aja. Mumpung masih pagi, minta anter ke ATM, trus mampir ke warung. Elahhh, kata mamang sayur, “pucuk labu mah musim-musiman, teh, datengnya. Ga tiap hari ada.” Hmmmm… Cek-cek harga ayam deh. Eh, ternyata stengah kilo boleh delapan belas ribu. Jadiin aja deh nih menyoto idaman. Cari bihun, tauge, kemiri, laos, dan santan kemasan. Ayah tunjuk-tunjuk krupuk yang kaya koin, oke deh, mayan buat meramaikan.

Sampai rumah, kubikin teh panas manis dahulu, biar otot perut kuat menyangga aktivitas di dapur pagi itu. Ayam udah dipotong-potong oleh mamang, aku tinggal bilas dikit terus masuk panci rebusan dengan sepercik garam. Menggodok air pula untuk menyeduh bihun kering biar lembik. Kemudian mulai beraksi dengan bumbu. Ulek bawang merah, bawang putih, merica, ketumbar, sedikit jahe. Geprek serai, lengkuas, dan koyak lembar salam. Resep hasil menyontek internet. Hehehe… Ayam diangkat dan suwir. Kemudian kuah diberi santan 1 bungkus, garam dan gula. Tauge dibilas lalu tiriskan. Masih pula kubikin bawang goreng buat taburan, nanti hadir bersama irisan bawang kucai. Selesai.

Jam makan siang, hidangan kuracik dan saji. Ayah masih minta kecap lagi, mungkin kurang berwarna, maksudnya. Hahahaaa… Tapi dia suka sekali. Nasi sampai tambah lagi. Alhamdulillah.

@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1920
#30hbc19slr

enjoy life · feature

Dining Habit

Hooo… Jadi memang ada ya kebiasaan seputar meja makan yang viral. Seru juga. Dan lucu, soalnya yang begitu aja bisa jadi polemik. Ada pro dan kontra.

Selengkapnya udah pada tau kan? Atau cek sendiri aja di hashtag-hashtag terkait.
Aku sendiri merasa ngga dalam kapasitas kasih pendapat lalu menempatkan diri di blok mana, pro atau kontra. Berangkat dari dalem diri aja untuk memaksimalkan yang ada. Kalau tray rack disediakan di ruang depan, bukan di belakang, pasti ada maksudnya. Tersedia pula trash binnya yang segede gaban itu, tentu bukan sebagai pajangan yes? Maksimalkan aja kehadirannya.

Trus, ada tangan dan kaki aku nih, yang dengan penuh semangat masuk ke warung karena dorongan lapar. Pilih menu, bayar, lalu ke meja. Habis makan, pikiran dan hati terang lagi. Do little things sesederhana beberes dikit, seperti juga sudah jadi kebiasaan di rumah, harusnya ngga berat. Dan ngga ada kaitannya dengan pendapat orang-orang di sekitarku. Hanya memaksimalkan guna tangan dan kaki. Dan otak. Dan hati.

@30haribercerita
#30hbc1919
#30haribercerita
#30hbc19slr