job-profesi · jurnal · perempuan

VA

Hari itu sebuah topik purba menjadi trend. Trending.
Koq purba? Iya, prostitusi itu udah dari jaman dulu adanya, kali. Sejak hukum permintaan dan penawaran berlaku (bukan sejak dirumuskan).

Ramai kan? Bukan cuma ramai membicarakan bagaimana kasusnya terkuak, tapi juga seru nyinyir-nyinyiran. Tetiba kita jadi gampang memilah suci dan tidak suci, benar dan tidak benar. Eh, emang ada orang paling benar?

Bagaimana ya jika kasus ini ngga terbongkar? Mungkin para mama dan papa merasa anak-anaknya hidup baik-baik saja, ngga pernah terekspos ke dunia saru. Mungkin kita selalu yakin kalau artis, selebritas itu hidupnya dari honor manggung, nampil di layar kaca, nyanyi, jadi bintang iklan atau endorse jualan s a j a.

Bagaimana jika kasus ini ngga mengemuka? Mungkin kita ngga pernah tahu kalau jualan jasa seperti ini bisa dilakukan secara online. Tuh, kan… Jadi cari-cari gimana cara transaksinya? ūüėč
Mungkin, generasi kekinian ngga pernah tahu kalau dunia ini sudah sedemikian… apa ya… bobrok, kata yang pantaskah?

Yang jelas, jika kasus ini ngga terkuak, gue ngga pernah tau ada artis namanya mba VA ini. Maklumlah, kurang gaul.

@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1912
#30hbc19jika
#30hbc19slr

job-profesi · jurnal

Hello November…

Thank God, perjalanan masa selalu punya titik-titik parsial. Kita jadi punya kesempatan untuk mulai lagi setiap kali melewati gelombang pasang dan surut. Sebut saja ada jam, hari, minggu, bulan, tahun… Semua ada satuannya. Kapan kita mau mulai lagi, pilih saja. Diet? Biasanya mulai minggu depan. Hahahhaaa….

Demikian pula denganku, sesuai dengan peran-peran yang diemban. Kali ini sebagai wanita pengusaha. Womenpreneur, katanya … Usaha, biar kecil, kalau urusannya terkait modal dan how-to-make-it berkembang, beranak-pinak, boleh lah ya disebut sebagai bisnis. Entah perlu skill tinggi maupun a la kadarnya ūüėČ. Karena di dalam usaha itu ada komitmen dan tanggung jawab agar sesuatu bernilai ekonomis dan layak diperjuangkan. Ahey.

Baiklah, ini hanya momen pengungkapan. Karena sebenarnya setiap kali selalu ada agenda, target, dan evaluasi. Beberapa hal di sini mungkin baru sebagiannya, master plan, mungkin sekali akan diterjemahkan ke banyak langkah dan tindak lanjut.

Ini tentang November…

1. Group Management – check my members

– Gift for Achiever ( certain PV, recruitment with Premium Kit)

– class schedule (online)

– find Legs & Groom the potential

2. Setup for “Prenatal Yoga” event

– namecard & flyer

– presentation & material

– display

– Leave request for 30/11

3. Internal

– positive affirmation

– training

– dreambook ~ impikan dan buatkan sketsanya. Beranilah untuk mengangankannya. Insyaallah akan sampai.

job-profesi · jurnal · life thought

An Independent Distributor

Belakangan hari ini kesibukanku betul-betul menyita waktu. Hal yang tadinya dimulai dengan keisengan, ternyata kini beranjak serius, dan aku terserap ke pusarannya.

Sama sekali bukan mengeluh. Walaupun kadang aku merasa jadi ngga ¬†fair kepada aspek-aspek lain dalam kehidupanku, heheheee… Aku justru menikmati, bersemangat, dan termotivasi untuk melakukan kreasi serta terobosan. It’s like a new world full of enchanting matters to be explored. It’s my new life as an independent distributor.

Ngga kebayang juga aku sampai pada titik bisa dengan yakin menyebut diri dengan predikat itu. Pertama, karena aku merasa ngga punya darah bisnis, (dulunya) ngga pernah tertarik terjun berdagang, dan … pada satu masa malah seperti alerkhi sama sistem penjualan dalam jaringan. Kedua, kalaupun aku mencoba, aku ngga berangan-angan untuk demikian seriusnya. Sampai akhirnya aku bertemu dengan komunitas yang demikian bersemangat dan membawaku ikut termotivasi. Ketiga, … boleh dibilang karena digiring-keadaan. Bahwa ada kesadaran kita perlu punya mental dan rintisan kewirausahaan; yang kemudian jadi seperti keharusan ketika menjadi-pegawai-saja sudah tidak lagi menjanjikan kecukupan masa depan.

Lalu, bertemulah aku dengan produk Young Living Essential Oils ini. Semua mental-blocks, pembenaran-pembenaran untuk say-no, luruh. Semua diawali dengan pembuktian dari pengalaman pribadi dan kepercayaan. Trust.

Enam bulan berlalu. Bertepatan Young Living, akhirnya, membuka kantor cabangnya di Indonesia. Di Jakarta tentunya. Semacam kesempatan baik bagiku untuk tahu lebih jauh ke pusat Perusahaan, aku dan komunitasku bersepakat menghadiri seremonial Grand Opening.

Demi menghadapi awal baru pemasaran di Indonesia yang menantang pula, kami mengerahkan upaya yang kami bisa. Kami meluncurkan website yang tujuannya meraih pangsa lebih luas, menyediakan kemudahan informasi, serta sosialisasi dan edukasi tentang produk yang kami usung. Silakan tengok ke http://www.theheartyoil.com … Kenali, selami, beri kami masukan dan tantangan agar kami semakin berkembang. Young Living sendiri secara infrastruktur infromatika sangat unggul. Memiliki website dan virtual office, sangat memudahkan para distributornya bekerja dan meraup informasi terkini. Customer Service lines -nya juga tanggap dan efisien.

Acara Grand Opening memberiku banyak kesan dan keyakinan. Bahwa perusahaan ini bonafide. Bahwa keunggulan produk adalah komoditi yang utama, bukan semata-mata membesarkan jaringan,  atau demi struktur multilevel marketing yang banyak tuntutan kepada pelaku-pelakunya. Ini bikin aku merasa menjadi bagian dari elite perusahaan dan punya tanggung jawab.

cerah
Langit cerah di Hari Pembukaan

Tidak berhenti di sini. Dalam 2-3 minggu ke depan, komunitas menugaskan kami untuk menggelar Oil Class di Bogor. Acara semacam ini bertujuan memberikan edukasi dan wawasan baru tentang bagaimana menjalani hidup dengan lebih sehat dan dengan produk yang baik.

Cannot stop now. Tidak lagi iseng-iseng.

id
an independent distributor

 

a mon avis · feature · job-profesi · life thought

Cute Nasty Business

Ini nih, satu lagi profesi yang membuat gue kagum. Para juru cukur rambut tubuh — apa sih sebutan resminya? Terlebih lagi mereka yang harus mengurus daerah pribadi. *You know what I mean, don’t you?

Mungkin gue yang rada ‘shock’ dengan keberadaan mereka. Tapi rasanya tetap saja, daerah ‘private’ kan bukan konsumsi umum ya. Maka, yang punya profesi juru cukur ini perlu integritas diri yang tinggi, sebagai pribadi maupun sebagai tenaga¬†professional. Ya ngga?

Coba bayangin kalau para juru cukur ini orangnya ember… Bah, malu-nya konsumen bisa tersebar ke mana-mana tuh.

Menurut gue, nomor satu, harus itu dulu sih persyaratan utamanya. Baru kemudian keterampilan mencukur. Yang mana ini juga perlu penanganan serius karena yang diurusi adalah kulit, anggota tubuh yang fungsinya sebagai pertahanan pertama sehingga sangat sensitif terhadap invasi benda maupun aksi eksternal. Apalagi di bagian yang sangat pribadi ya.

Jelas ini¬†bukan pekerjaan yang luks. Apalagi menjanjikan karir keren. Bahkan, dilihat dari apa yang diurusi, ini tergolong ‘nasty business’. Hehehheee… Tapi, kebayang kan, nona cantik tinggi semampai, atau bos gede perusahaan multinasional… kalo ngga ada yang urusin bulu-bulu rambutnya, piye?? Ke tangan para juru cukur inilah kebersihan dan kerapian diri kita terletak.

Kekaguman gue berikutnya adalah karena ada orang yang demikian percaya diri dan menjadikan ini sebagai peluang usaha. Hal kecil tetapi diperlukan. Ada konsumennya. Kalau dilihat secara umum, outlet tempat terapinya ngga pernah gede dan wah kayak salon atau spa. Hanya memanfaatkan pojok-pojok secukupnya. Biarpun kecil tetapi perlu penanganan yang serius soal skill, hygiene, service…¬†kalau bisa menyenangkan konsumen lebih bagus lagi (seperti rumah cukur ini). Remeh-temeh¬†yang menentukan¬†kenyamanan hidup. Tidak mewah tetapi dibutuhkan. It’s super cool.

Be te we… harus ngga sih rambut-rambut ini dihilangkan? Engga juga sih. Ngga wajib. Itu pilihan.¬†Sepanjang kebersihannya terjaga. Tetapi jangan lupa, ada hadis-hadis tentang kebersihan diri yang menyebutkan bahwa rambut-rambut tubuh perlu dihilangkan. (Dan ada rambut-rambut yang tidak boleh dihilangkan).¬†Silakan gali lebih jauh. Dan karena kebersihan adalah sebagian dari iman.

.

Kepada para mbak cukur di manapun berada, terimalah salam hormat dan kagum saya.

waxhouse

feature · job-profesi · life thought · reminder · way-to-iman

Doa untuk Para Penjagal

11:35

waktunya istirahat makan siang.

I ran to catch a queue at Hokahoka Bento. This and that. Then found a seat. Pas madep dinding bermural dan ada logo halal MUI yang besssaaar di sana.

Hap! hap! hap! Sekejap saja nasi, acar, ayam teriyaki masuk ke perut. Lalu tetiba terpikirkan olehku. Betapa banyak orang Muslim, termasuk diriku sangat tergantung pada apa yang dilakukan para juru jagal di pangkal rantai produksi sana. Ngga cuma¬†yang terkait dengan¬†resto cepat saji macam ini, tetapi juga di rumah-rumah tangga. Alangkah abainya kami selama ini mengenai apa-apa yang kami masukkan ke dalam perut kami, ke darah kami… Halalkah? Layakkah? Kita terlalu sibuk dengan kosmetik luar, sampai lupa memikirkan kepantasan makanan, kebutuhan primer kita.

Sebaik-baiknya hewan yang dijadikan makanan, maka haruslah disembelih dengan menyebut nama Allah; lebih sempurna lagi kalau dilakukan sendiri. Apa daya, waktu dan kemampuan tidak dimiliki. Perlu keterampilan khusus untuk melakukannya. Sayang sekali pekerjaan ini lebih sering dipandang, maaf, sebelah mata. Padahal profesi ini menentukan kemaslahatan umat. Logo itu, lambang kepastian kelayakan. Tetapi, siapa sebenarnya yang bisa menjamin keabsahan pelaksanaannya? Siapa yang bisa memastikan para penjagal itu dalam keadaan baik dan sadar di setiap saatnya dalam menjalankan tugas? Sungguh, belas kasihan Allah saja yang menjadi pegangan kita.

Sejenak aku termenung dan menyelipkan sebaris doa, semoga mereka yang berwenang selalu dalam rahmat Allah, selalu dalam keadaan baik, sehat, sadar sehingga amanah menjalankan perannya. Aamin.

halal-mui