enjoy life · husband-and-wife · life thought · perempuan

… just

Hasil merenung-renung beberapa waktu belakangan ini:

Apa kaupikir telah tahu apa itu ‘hidup’? Apa yang kaurancang tentang menikah, mengikatkan diri, dan berkeluarga? Pada kenyataannya itu tidak sederhana. Tak senaif yang diidealkan masa muda. Pada kenyataannya kita bisa lihat banyak sekali masalah di luaran sana yang tadinya dikira kita bakal steril dengan menjaga keluarga sendiri.

Dipikirkan. Dan singkirkan dulu soal perasaan.

Menikah itu membukakanmu pintu ke penjelajahan baru; Memahami hati dan keterbatasan sebagai insan. Apa ada pasangan yang terus-menerus rapi, mesra, … sepanjang masa? Tidak ada. Bahkan untuk orang biasa-biasa, rumah tsngga pasti melalui up setinggi-tingginya, lalu down sekaram-karam di palungan.

Apakah kau benar-benar telah cukup dengan yang ada? Semua dalam rangka usaha saja. Seagung-agungnya syukur kauunjukkan, Allah masih akan tetap memberimu tantangan yang menggelitik.

Kau menikah untuk belajar terikat dan memelihara ikatan. Kalau kauterpusat di ikatan itu hidupmu telah cukup sibuk. Pada hal yang menerus seperti itu akan ada masanya menepi, jenuh, lalu ingin pergi yang untuk kembali. Lari untuk tahu arti pulang dan rumah.

life thought

#30hbc1924

Waktu SD dulu aku berteman dengan seorang juara kelas. Saat teman-teman kami asyik berloncatan main karet, kami memilih mojok bertukar bacaan yang indah. Tadinya saling menceritakan buku bagus yang baru dibaca, lama-lama kami saling bertukar tulisan sendiri juga.

Mungkin seperti tantangan #30haribercerita ini juga, setiap hari kami seperti berlomba membawa karya. Bukan untuk apa-apa, karena kami hanya saling membahasnya. Kadang cerpen, bisa juga puisi. Aku sudah mulai mudah terpukau dengan tata bahasa dan diksi, waktu itu. Aku semakin ingin bisa menulis dengan bagus. Setiap saat yang mungkin, kubongkar pasang tulisanku kemudian kubawa untuk kami bedah bersama.

Suatu hari, temanku membawakanku sebuah tulisan di kertas bergaris biru. Sebuah puisi tentang negeri di awan. “Karanganku”, katanya. Oh, my God. Puisi itu sangat indah. Terdiri dari beberapa bait berisi empat larik. Tak pendek, tapi begitu mempesona, sampai di baris terakhirnya. Dari tulisan itu aku baru tahu kalau sebuah puisi bisa saja berupa imajinasi, bukan hanya hal-hal riil sehari-hari. Diam-diam aku iri padanya. Aku ingin bisa menulis sebagus itu.

Waktu berlalu, kami berpisah di akhir masa SD. Aku tak pernah lagi dengar kabar tentang temanku itu. Tetapi aku masih terus menulis dan membaca cerita-cerita bagus, di mana saja. Sampai pada suatu hari aku menemukan setumpuk majalah lama di perpustakaan. Majalah Gadis, namanya. (Pernah dengar? 😉). Sampailah aku pada halaman berisi kumpulan puisi. Lalu terkejut. Di antara puisi-puisi itu ada puisi Negeri di Awan! Ditulis oleh seseorang tak kukenal. Isinya sama dengan tulisan teman SD-ku waktu itu. Kata per kata.
Damn! – kataku dalam hati.

@30haribercerita #30hbc1924 #30hbc19slr

life thought

Debat

Debat tu jangan dibesar-besarkan.
Itu kata orang tua dulu.
Sekarang…
Debat harus digelarin karpet merah.

Dulu debat nyrocos aja. Kini, berdebat harus pakai skrip, bos.

Hindarilah perdebatan.
Sekarang, saksikanlah, debat abad ini.

Debat dulunya monopoli kusir dan sais.
Kini, capres dan cawapres!

Mudah-mudahan bukan lalu jagoan di podium debat saja ya. Tapi bicaranya bisa jadi kerja, tak hanya berbual supaya banyak dibela. Kalau begitu, apa bedanya dari kuda, yang melaksana apa dikata yang pegang tali kekang?

Sesungguhnya kusir atau presiden sama saja : pengendali wahana. Yang ditumpukan harapan agar membawa selamat bagi semua.
Ya, tidak?
Ya, tidak?

@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1917
#30hbc19slr
#debatcapres
#pemilu2019

life thought

TUBUH

* Penting sekali menuliskan 01/01/2019 … dalam arti, saya tak akan melewatkan satu hari pun dalam tahun ini dengan melakukan hal sia-sia. Setiap hari harus berarti.

TUBUH.
Tahun baruan kali ini judulnya capek. Lelah. Karena si mbak yang biasa mengasuh dan mengurus rumah di kala saya kerja, minta cuti dua minggu. Biarpun ada back up support system, tetap saya harus ‘membelah diri’ mengurus segala hal.
Semacam diingatkan kembali kalau diri kit a ini terbatas. Punya limitasi. Tahukah apa yang paling keras kepala? Kemauan. Kemauanlah yang memaksa diri kita melampaui batasnya. Badan sudah capek tapi kita tetap bisa memaksanya menyelesaikan hal yang tengah tanggung dikerjakan.

Flu. Adalah tanda pertahanan tubuh menurun sehingga infeksi kuman berhasil menyerang. Di saat flu tubuh sebenarnya mengirim isyarat untuk minta kita beristirahat, pemulihan daya. Tapi, biasanya, sebagai emak-emak tuh tetep aja kekeuh beberes sampai tuntas (padahal urusan rumah tangga kan memang never end yaw). Setiap saat tubuh selalu mengirim isyarat, berbicara kepada kita akan kebutuhannya. Pening-pening karena dehidrasi. Mata gatal karena mlototin gawai berkepanjangan. Semuanya permintaan agar kita lebih berhati, memperhatikan. Tetapi kita sering menganggapnya sepele.

Makanya, tak heran ya, banyak orang terkaget ketika seorang teman yang dikenal selalu sibuk bak kelinci energizer tetiba mendarat di ruang rawat RS. Musisi yang tak pernah kedengaran sakitnya tetiba berpulang dengan vonis sakit kanker stadium lanjut.

Baik. Saya jadikan saja ini target pribadi di tahun 2019 ini : lebih bijak dan mendengarkan tubuh dengan lebih seksama. Untuk menjadi lebih peka pada isyarat sehalus apapun tentang keadaan tubuhku.

Pembaca, semoga kita sehat selalu ya….

@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1901
#30hbc19slr

jurnal · life thought · lintas-kamis

[Lintas Kamis] Hari Kerja Mulai Kembali

Ini adalah permulaan hari kerja yang sesungguhnya … setelah cuti Idul Fitri yang maju mundur nambah hari, liburan mudik yang lalu jadi panjang, … kemudian baru 2 hari masuk ternyata ada ‘hadiah’ libur hari Pemilu 2018….

Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap hari awal setelah libur Lebaran, adalah hari yang chaotic. Setiap habis mudik, komuter ke Jakarta mengalami peningkatan dari jumlah tetap biasanya. Mungkin yang pada dari daerah kemudian hijrah untuk mengadu untung ke ibukota negara. Bersama para penghuni kost urban kembali ke pusat dekat kantor-kantornya.

Akoh… mengalami hari berangkat kerja yang cukup membuat latihan agar masuk seleksi Ninja Warrior. Bahkan strategi naik kereta balik sudah tidak menjanjikan kenyamanan seperti biasanya. Tetap aja yaaa…. penuhnya naudzubillah.

Anyway, I’m survive… Ngga pernah tahu kalau ternyata mampu ngadepin dan ngejalanin tantangan sedemikian.

Push your limit.