enjoy life · husband-and-wife · life thought · perempuan

… just

Hasil merenung-renung beberapa waktu belakangan ini:

Apa kaupikir telah tahu apa itu ‘hidup’? Apa yang kaurancang tentang menikah, mengikatkan diri, dan berkeluarga? Pada kenyataannya itu tidak sederhana. Tak senaif yang diidealkan masa muda. Pada kenyataannya kita bisa lihat banyak sekali masalah di luaran sana yang tadinya dikira kita bakal steril dengan menjaga keluarga sendiri.

Dipikirkan. Dan singkirkan dulu soal perasaan.

Menikah itu membukakanmu pintu ke penjelajahan baru; Memahami hati dan keterbatasan sebagai insan. Apa ada pasangan yang terus-menerus rapi, mesra, … sepanjang masa? Tidak ada. Bahkan untuk orang biasa-biasa, rumah tsngga pasti melalui up setinggi-tingginya, lalu down sekaram-karam di palungan.

Apakah kau benar-benar telah cukup dengan yang ada? Semua dalam rangka usaha saja. Seagung-agungnya syukur kauunjukkan, Allah masih akan tetap memberimu tantangan yang menggelitik.

Kau menikah untuk belajar terikat dan memelihara ikatan. Kalau kauterpusat di ikatan itu hidupmu telah cukup sibuk. Pada hal yang menerus seperti itu akan ada masanya menepi, jenuh, lalu ingin pergi yang untuk kembali. Lari untuk tahu arti pulang dan rumah.

ceritakeluarga · ceritarinjani · enjoy life · mamahood · parenting · perempuan · rumakita · weekend-mom

Ayah-Rinjani : Ditinggal Berdua (saja)

Kemarin, sehabis Imlek, mba pengasuh ga masuk kerja. Untungnya, ayah yang kerja di grup perusahaan warga keturunan, masih dapat libur satu hari lagi. Sementara aku, yang di perusahaan swasta nasional, sudah harus setor absen.

Rumah kutinggal dengan beberapa pasokan sehingga ayah dan bokril ngga bakalan kelaperan. Kutinggalkan pula uang belanja, kalau-kalau perlu tambah jajan. Dan berangkatlah aku dengan yakin ngga akan ada masalah. Ini bukan pertama kali mereka kutinggal berdua juga sih.

Menjelang tengah hari aku cek kondisi mereka lewat WA. … and I’m surprised. Ayah belanja dan masak. Bahkan bikin sambal! πŸ˜„

masak sup ceker, kesukaan anak kami…
Wow bangeeet…

Selama ini, kalau di rumah, aku yang take-in-charge dapur. Mungkin terbawa kebiasaan Mama di rumah yang pakemnya suami-harus-diurus-perutnya oleh istri. Hihihii. Aku lupa, si ayah juga punya kemampuan ini di masa lajangnya, di rumahnya sendiri dulu. Aku lupa, si ayah yang kutemuin di perjalanan gunung, kan emng punya modal biasa bergerak di dapur ya kan.

Nah, singkat cerita habis masak, mereka berdua makan siang. Rinjani dipersilakan ayah makan sendiri lho. Sesuatu yang belum pernah kucoba (untuk kupercayakan). Ayah langsung aja tuh memberinya ruang eksplorasi…

Menyantap dengan antusias, di meja sendiri…

Tambah lagi, ngga ada tekanan harus-makan-sayur, eh anaknya sendiri langsung nyamilin wortel. Good girl 😊.

Kata ayah, kontan abis makan lahap, dia ngantuk. Lancar sekali prosesnya.

Sore, aku cek lagi. Mereka pasti habis bangun dari siesta. Eh, ternyata, kata ayah, mereka udah di masjid. Rinjani seneng ikut ayah shalat jamaah. Biasanya dia duduk diam-diam sambil tutup telinga. Katanya, gag suka denger suara kencang muadzin dari loud speaker. Hmmm, …

Sore kemarin itu Rinjani didaftarin ke TPQ… Dia suka dan bersemangat belajar.

bergabung di TPQ, shalihah^^

Alhamdulillah, hari berjalan lancar ya. What a relief for me. Ayah bilang, capek sih, sambil mengasuh anak (soalnya lagi masa sangat aktif), sampai-sampai aku tiba di rumah, jam 8 malam, dia baru mau mandi πŸ˜†. Masakannya aku coba, enak lho. Layak tampil banget. Pantesan dia ga ragu kasih kritik kalau aku masak 😝.

Lain hari libur sepertinya ia akan kudapuk masuk dapur lagi deh. Hmmm…

ceritakeluarga · perempuan · rumakita

#30hbc19darisini

“Pasti ada apa-apanya nih di Rinjani” – tuduhan clichΓ¨ kepada kami.

Bagi yang belum tahu, aku dan suami, memang penyuka jalan-jalan naik gunung. Anak perempuan kami dinamai Rinjani, gunung tinggi Indonesia yang paling cantik. Tetapi sungguh tak tepat jika dibilang cinta kami bersemi di sana. Walaupun saat kami mendaki bersama di 2010, kami masih sama-sama lajang. Dia tak tahu siapa aku seaslinya. Aku juga sedang punya gebetan di lokasi lain. Issssh….

Sampai hari ini pun, aku tak 100% setuju kalau kami dipertemukan di perjalanan. Aku yang paling tahu apa peristiwa spesifik yang akhirnya membuatku bilang “oke, ini dia orangnya”. Tetapi baiklah, … Ada satu pendakian, dari sekian banyak perjalanan, yang boleh dibilang, mengesankanku dengan adanya dia saat itu. Bukan hal-hal yang intim. Lagipula kami berdua tuh ternyata ngga romantis blasss, hahahhaaa…

Tapi ada, suatu saat kau akan paham juga, situasi itu. Di tengah keramaian teman-temanmu, saat kau menikmati menjadi dirimu, hadir sepenuhnya jiwa dan raga dalam suatu kegiatan yang kau suka: ada seseorang yang terasa istimewa. Dia bisa jadi tak banyak tingkah, tak pernah menyolok (atau bersaing cemerlang dengan dirimu). Yang ia lakukan pun tak istimewa, tak heroik, bahkan kadang malah clumsy; tapi kau percaya padanya, tak ragu mempercayakan keselamatanmu di tangannya. Bisa jadi kau tetap tak merasa pasti. Tetapi hari itu akan menjadi penting untuk kauingat suatu saat.

Tempat. Apakah perlu dan sangat berarti? Seperti lamaran harus di bawah minaret Eiffel, gitu? Engga juga. Tetapi, di manapun beradanya, akan ada jejak-jejak yang menjadi tanda. Entah diukir kasar atau direkam oleh Semesta.

Demikian pula pada suatu perjalanan itu, yang bukan ke Rinjani, mengawali cerita kami. Dari sini lalu semua bergerak, berkonspirasi menjadi hari ini. Di kehidupan kami.

Bisa tebak, dari mana? *lihat gambar.

@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1921
#30hbc19darisini
#30hbc19slr

ceritakeluarga · enjoy life · jurnal · perempuan

Cook Soto

Day-20 ngga punya ide mau nulis apa. Hampir tengah malam nanya Si Ayah deh, kali dia punya ide. Dan katanya nulis tentang memasak aja.

Hahaah… πŸ˜„ Dia terkesan sekali dengan masakanku hari kemarin rupanya, padahal aku lagi ga enak body banget tuh. Tapi selera makan masih besar siiih πŸ˜‹. Dari hari sebelumnya ingin makan soto, kuah bersantan, dengan bihun dan tauge. Etapi, belum ada ayamnya, pun udah tanggal tuwa. Apa masih kebeli ya si ayam?

Pagi-pagi kami berdua tak sengaja mantengin Asian Food Channel. Eh pas lagi hidangan Vietnam gitu ada peragaan masak tumis pucuk labu bersama jamur shiitake. Menggiurkan sekali. Mana itu jamur tampangnya ga kaya yang di toko. Dia jamur petikan dari pinggir hutan. Bumbunya pun sederhana, ga neko-neko. Jamur kan udah umami juga ya. Wiiiii… Tastyyyy.

Akhirnya sepakat sama Ayah, bikin tumisan aja. Mumpung masih pagi, minta anter ke ATM, trus mampir ke warung. Elahhh, kata mamang sayur, “pucuk labu mah musim-musiman, teh, datengnya. Ga tiap hari ada.” Hmmmm… Cek-cek harga ayam deh. Eh, ternyata stengah kilo boleh delapan belas ribu. Jadiin aja deh nih menyoto idaman. Cari bihun, tauge, kemiri, laos, dan santan kemasan. Ayah tunjuk-tunjuk krupuk yang kaya koin, oke deh, mayan buat meramaikan.

Sampai rumah, kubikin teh panas manis dahulu, biar otot perut kuat menyangga aktivitas di dapur pagi itu. Ayam udah dipotong-potong oleh mamang, aku tinggal bilas dikit terus masuk panci rebusan dengan sepercik garam. Menggodok air pula untuk menyeduh bihun kering biar lembik. Kemudian mulai beraksi dengan bumbu. Ulek bawang merah, bawang putih, merica, ketumbar, sedikit jahe. Geprek serai, lengkuas, dan koyak lembar salam. Resep hasil menyontek internet. Hehehe… Ayam diangkat dan suwir. Kemudian kuah diberi santan 1 bungkus, garam dan gula. Tauge dibilas lalu tiriskan. Masih pula kubikin bawang goreng buat taburan, nanti hadir bersama irisan bawang kucai. Selesai.

Jam makan siang, hidangan kuracik dan saji. Ayah masih minta kecap lagi, mungkin kurang berwarna, maksudnya. Hahahaaa… Tapi dia suka sekali. Nasi sampai tambah lagi. Alhamdulillah.

@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1920
#30hbc19slr

job-profesi · jurnal · perempuan

VA

Hari itu sebuah topik purba menjadi trend. Trending.
Koq purba? Iya, prostitusi itu udah dari jaman dulu adanya, kali. Sejak hukum permintaan dan penawaran berlaku (bukan sejak dirumuskan).

Ramai kan? Bukan cuma ramai membicarakan bagaimana kasusnya terkuak, tapi juga seru nyinyir-nyinyiran. Tetiba kita jadi gampang memilah suci dan tidak suci, benar dan tidak benar. Eh, emang ada orang paling benar?

Bagaimana ya jika kasus ini ngga terbongkar? Mungkin para mama dan papa merasa anak-anaknya hidup baik-baik saja, ngga pernah terekspos ke dunia saru. Mungkin kita selalu yakin kalau artis, selebritas itu hidupnya dari honor manggung, nampil di layar kaca, nyanyi, jadi bintang iklan atau endorse jualan s a j a.

Bagaimana jika kasus ini ngga mengemuka? Mungkin kita ngga pernah tahu kalau jualan jasa seperti ini bisa dilakukan secara online. Tuh, kan… Jadi cari-cari gimana cara transaksinya? πŸ˜‹
Mungkin, generasi kekinian ngga pernah tahu kalau dunia ini sudah sedemikian… apa ya… bobrok, kata yang pantaskah?

Yang jelas, jika kasus ini ngga terkuak, gue ngga pernah tau ada artis namanya mba VA ini. Maklumlah, kurang gaul.

@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1912
#30hbc19jika
#30hbc19slr