enjoy life · tualang

tantangan hits a la sosmed

10 tahun lalu, gue masih single bo
10 tahun lalu, masih di kota kecil yang berpantai dan damai
10 tahun lalu, menikmati sekali melaju pegang stir
10 tahun lalu, alerkhi debu dan kusut jakarta
10 tahun lalu, akrab dengan laut belum kenal gunung
10 tahun lalu, bekerja untuk pulang kampung
10 tahun lalu, ke jawa kita menuju
10 tahun lalu, belum ada instagram (betul?) 10 tahun lalu, akhir pekan adalah mengukur jalanan kota
10 tahun lalu, sesekali karaoke di happy puppy

sekarang, gue sudah menikah anak satu
sekarang, di kota besar ada pantai tapi tak indah
sekarang, tidak terlalu nikmat lagi menyetir karena macet
sekarang, alerkhi debu dan kusut jakarta
sekarang, pergi ke gunung-gunung dan belum lagi ke laut
sekarang, bekerja untuk aktualisasi karena sudah di kampung
sekarang, di jawa kita berpusar, kampung sukaraja
sekarang, ada instagram dan ikut #10yearchallenge
sekarang, akhir pekan adalah hari keluarga
sekarang, masih terus bernyanyi meski tak di happy puppy

@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1916
#30hbc19slr

ceritarinjani · jurnal · tualang

Kembali ke Rinjani

3 tahun setelah cuti hamil dan melahirkan. 6 tahun setelah kunjungan pertama. Kepada Rinjani aku kembali.

Ngga sempet merasa haru, karena kunjungan kali ini, ndilalah jadi panitia, membawa rombongan yang … besar. Sebelumnya ekspedisi selalu didahului trip ‘pemanasan’ ke target sekitar Jawa dulu dan ngga pernah lebih dari 12 orang. Tapi kali ini kami, berawak 24 orang, terdiri dari beberapa kawan yang belum sekalipun mendaki gunung, langsung menyebrang ke Timur. Kegalauan panjang sempat terjadi, termasuk perubahan jadwal berulang kali, penundaan satu tahun… tapi hari ini tak terhindari lagi. Aku datang.

Panorama Rinjani masih seindah dulu waktu pertama kali aku ke sana tapi dengan ‘rasa’ yang beda; saat itu musim kering (dan kebakaran). Tahun ini kutekadkan berangkat walaupun harus meninggalkan Rinjani Kcil, karena kami memilih waktu di tanggal-tanggal basah. Aku harus melihat Rinjani ketika hijau. Ingin berfoto di sana saat savananya tengah megar.

Walaupun begitu rupanya otot motretku juga ga bekerja maksimal. Pertama, perangkat aku masukkan ke carrier, sesekali saja kalau tengah istirahat, camping, baru dipakai. Kedua, mengandalkan smartphone, hahaa. Ketiga, untunglah, perjalanan kali ini ngga cuma diriku yang bawa ‘senjata’. Jadi, aku justru bisa konsentrasi menikmati setiap langkah dan proses perjalanan.

Kalau ngga salah, aku ngga menetapkan target apa-apa dalam perjalanan kali ini kecuali membawa seluruh peserta kembali ke rumah dengan selamat dan cukup. Bahkan ketika harus memodifikasi skema perjalanan dengan menyediakan pilihan antara Summit Attack atau langsung ke Danau, aku tidak membuat keputusan sedari awal. Lihat nanti, kondisi dan situasi. It’s my first trip, again, after 3 years off of the trek. Umur nambah, kondisi fisik sudah banyak berubah, olahraga hanya sempat aerobic seadanya… sedangkan Rinjani masih segitu-gitu aja… tetap dengan savananya yang luas, tanjakan-tanjakan Bukit Penyesalan yang masih tegak tak ada ampun; rambatan naik ke Senaru yang tajam dan rawan longsor… Sungguh bukan hal main-main untuk dihadapi tanpa persiapan.

Tapi entahlah tahun ini, … mungkin purnama Waisyak,… mungkin demi Rinjani Kcil,… atau musabab lainnya… Alhamdulillah, janji melewati titik perhentianku di 2011 itu kutebus. A k u   men ca pai  Pun cak. Hari sudah tinggi ketika itu. Tertinggal 2 jam dari rombongan teman-teman. Hingga hanya ada sedikit mata yang menyaksikanku mewek. Ngga pakai rasa-pecah-dada (walaupun nafas terkuras sepanjang tanjakan pasir putih, hitam, merah); ngga pakai nyeri sendi dan otot. A k u   men ca pai  Pun cak. Lalu sesudahnya malah kalut lihat jalur pasir menurun yang mluncur makin kering karena tergarang surya -___-“.

Mungkin ini tahun untukku bisa melihat Rinjani dengan kabut yang terkupas-kupas. Bisa melihat dinding Senaru ketika trekking ke Danau. Baru bisa lihat si Air Terjun besar yang tak terjamah di jalur Torean itu. Bisa melihat pemandangan ke bawah dari titik Batu Ceper. Bahkan menyaksikan matahari pulang ke lautan awan di Puncak Senaru. Luar biasa…. Kamu, lihat sendiri aja deh.

… dan cerita-cerita perjalanan malam yang serunya udah hampir jejer thriller Stephen King. Hampiiiiir… ga sampe sama sik. *amit-amit. Biarpun begitu, malam terakhir di jalur kuhabiskan dengan berebah di bawah kanopi hutan. Bareng porter-porter. Syahduuuu…

Udah yaaa… aku kapok ke Rinjani! *kapoksambelmodeon*

summitA
12-Mei-17, pkl 09.58 – Ibuk sudah sampai ya Nak…

 

 

x-kecil.jpg
Rinjani di musim kering, 2011

 

 

DSC_0132kcil
Rinjani, 2017

 

 

 

 

 

 

enjoy life · tualang

Yang Terlewatkan…

… dan aku tak ada di dalamnya.

Ada dua hal:

Yang pertama, ngga bisa ikut tim pendakian ke Kerinci, 2 November 2014 lalu.
Sebagai gantinya, aku titip mata dan kesan sama Mas Nunu dan kawan-kawan. Sekembalinya mereka, cermat-cermat kusimak setiap tutur.
Beginilah rasanya cuma bisa membayangkan merayapi curamnya shelter 2 ke shelter 3 – yang kalau dengar dari ceritanya, adalah jalur tempuh tergarang dari yang sudah pernah dilalui selama ini. Beginilah rasanya mengangankan berkemah di atas hamparan awan di ketinggian lebih dari 3000 meter di atas paras laut. Beginilah rasanya tertinggal rasa haru ketika akhirnya bisa menapak tanah tertinggi kedua Nusantara.
Entah, apa akan ada kali lain. Untuk saat ini cukuplah ikut berempati dari tangan pertama.

am proud of y'all, mates
am proud of y’all, mates
berkemah di atas awan... oh! (courtesy of MbakAni)
berkemah di atas awan… oh! (courtesy of MbakAni)
Mas Nunu dkk, di puncak (courtesy of Videl)
Mas Nunu dkk, di puncak (courtesy of Videl)

Yang kedua, batal menghadiri 2 hari Reuni 20 Tahun jurusan HI’94 Unpar (baru saja berakhir siang tadi).
Padahal udah niat dari kapan tau. Udah membayar urunan penyelenggaraan. Sudah memesan ukuran t-shirt. Sudah pula merencanakan ini itu dan mengkondisikan diri dengan riuh rendah gurauan lewat group WA. Akhirnya, aku juga sih yang membatalkan diri karena merasa tak sanggup harus menempuh jarak Jakarta – Bandung dengan situasi jalanan dewasa ini plus dengan kehamilan yang sudah semakin tua.
Untunglah teman-teman tetap menyempatkan sharing live report selama acara berlangsung. Jadi sedikit banyak ikut merasakan keseruannya.
Entah, kapan akan ada lagi. setelah 25? 30? atau 50 tahun? Setidaknya, komunikasi sudah terjalin kembali. Kami bisa saling update kapanpun dan kini rasanya sudah menjadi keseharian ketika setiap pagi dipenuhi dengan sapaan dalam format digital. Kita tak pernah benar-benar sendirian.

ada sharing session kisah sukses tokoh-tokoh angkatan
ada sharing session kisah sukses tokoh-tokoh angkatan
nostalgia Ciumbuleuit ^^
nostalgia Ciumbuleuit ^^
masih (mahasiswa) :D
masih (mahasiswa) 😀

Well,
untuk apa semua itu kulewatkan, tentunya kamu semua sudah tahu, ada sebentuk masa depan yang tengah mengandalkan keputusanku untuk mempertahankan dan memperjuangkannya.
Jadi, walaupun agak sedih… Aku jauh lebih senang sudah membuat pilihan yang tepat. Aamin. Insya Allah.

tualang

Selamat Sampai Slamet

Semacam kurang saja segala kegiatan dan segala kerepotan kehidupan belakang hari ini, aku berangkat lagi seminggu setelah turun dari Papandayan, kali ini ke tengah Jawa, menyambangi Gunung Slamet.

Semacam kurang pula segala kesulitan dan keruwetan, masih pula keberangkatan hari itu, di Jumat malam tanggal 1 November 2013 yang berhujan dan macet parah (tentunya, Jakarta gitu lho) … taksi-taksi burung biru pesananku untuk rombongan tidak sampai ke tempat yang dijanjikan. Selepas magrib kepanikan terjadi. Kalau boleh cerita narsistik sedikit, aku berusaha dan berhasil tidak panik. Dalam hujan yang terus berderai, kami berusaha mencegat taksi di depan komplek perkantoran… dan nihil. Akhirnya diputuskan untuk beralih ke carter ojek!

Beneran deh sodara-sodara, dasar aku yang pikirannya rada klenik ini, sempat berpikir apa ini semacam pertanda bahwa perjalanan ini mungkin saja dikehendaki batal. Kalau ikut tanggalan hijriah, ini sudah mau tahun baru. Dan urban legend tentang 1 Suro yang keramat sempat membuatku waswas. Hehehe… ga penting banget. Tapi sudahlah, akhirnya toh aku turut merapatkan barisan dan berusaha semaksimal mungkin mewujudkan rencana yang sudah disusun sejak jauh hari itu.

Singkat awalan, akhirnya empat belas personil berhasil berkumpul di stasiun Pasar Senen. Dua puluh menit kemudian pluit kereta Sawunggalih Malam berseru nyaring menandakan perjalanan akan dimulai. Pada titik ini komposisi peserta sebenarnya sudah berubah dari rencana. Tiga orang mengundurkan diri dikarenakan alasan operasional pekerjaan, acara keluarga, dan kemalangan atas wafatnya anggota keluarga tercinta (untuk Mas Waryo – kami menyampaikan kedukaan yang terdalam). Salah satu akibatnya adalah: aku menjadi the only woman lagi di tengah rombongan. Seperti kejadian pendakian Rinjani waktu itu. But the show must go on, rite?

Perjalanan kali ini, sekali lagi, aku bertekad untuk dapat deep sleep dan mempersiapkan fisik serta mental. Alhamdulillah, rasanya tidak pernah bisa selelap ini di perjalanan sebelumnya. Meskipun seringkali juga terjaga karena posisi yang kurang Pe-We; atau interupsi-interupsi kaum pedagang yang keluar masuk gerbong ketika berhenti di stasiun kota-kota kecil, setidaknya aku dapat empat jam istirahat. Dilanjutkan lagi dengan satu jam perjalanan dengan mobil ketika akhirnya kereta sandar di Purwokerto.

Dini hari sekali kami mencapai Desa Bambangan di Kecamatan Kutabawa, dan langsung menghadap Sang Gunung yang jaya digdaya itu. Di seberangnya, pucuk-pucuk Sindoro dan Sumbing turut meningkahi kekaguman pada panorama alam sekitar di sana.

Pos Bambangan adalah pos teramai yang dikunjungi para pendaki. Ketika kami datang tadi sudah ada banyak rombongan pendaki beristirahat menggeletak di sana, tersebar memenuhi sudut-sudut rumah Pak Haji. Anak-anak (yang jauh lebih) muda dibandingkan dengan tim Tonjolan. Begitu fajar menyingsing, dapur Ibu Haji menyajikan makan pagi dalam porsi makan siang dua hari 😀 — banyak maaannn! Belakangan kami tahu manfaatnya porsi besar itu. Yup, ketika bertemu tanjakan Gunung Slamet yang tak ada akhir sampai pucuk.

The Hardest Ever

Pertamanya sih asik-asik… Melintas kebun sayuran yang permai. Mirip sama Jalur Gunung Putri kalau mau ke Gede. Target pertama adalah menemukan jalur di sisi Lapangan Bola (berdasarkan info dari blog pendaki sebelumnya). Dari sana akan dilanjutkan ke Pos-1 Pondok Gembirung. Ternyataaa… jaraknya jauh sekaliiii. Lewat satu jam baru ketemu Pos itu! Aku kepayahan. Ritme berhasil ditata, adrenalin ditekan ke tingkat yang memadai, tetapi jarak telah mengecohkan. Sampai Pos-1 aku minta break dan langsung rebahan di bangku shelter. Tidur. (Seingatku sih, biasanya habis makan cukup banyak, badan minta direhatkan dulu, barang 10 menit). Untunglah aku dapat privilege itu. Tapi teman-temanku yang setia yang penyayang itu menambahkan pula keperluanku dengan asupan oksigen kaleng. Sesudah itu memang langsung joss, sampai ke pos kemah.

IMG_1524 Berjalan ke Pos-2 terulang kembali kejadian tadi…. rasanya jauh sekali mencapai destinasi. Target mencapainya dalam satu jam, molor sampai 1,5 jam. Kami mulai was-was dengan ritme dan rencana perjalanan. Tapi kami sudah mencapai kesadaran bahwa gunung ini bukan gunung yang kami kira. Dan benar saja, tanjakan curam itu berlangsung sepanjang jalan! Bahkan sejak jalanan aspal tadi pagi, inklinasi 70 derajat tak ada akhir. Dapat bonus trek datar paling-paling cuma 3 meter, setelah itu langsung nancep lagi. Makin ke atas, jalur semakin sempit, menjadi parit tanah dengan tinggi melewati bahu. Ga kebayang kalau datengnya musim hujan… hiiiy. Apa ngga larut sama gelontoran air dari atas tuh?

Alhamdulillah, menjelang senja barisan merapat di Pos-7. Tenda-tenda didirikan, pakaian-pakaian basah diganti, dan kami menghangatkan diri di sana. Suhu drop ke 11 derajat dengan cepat. Tak ada hujan berarti cuaca akan sangat dingin. Pun berangin. Kecepatan langkah membuat beberapa teman cukup mabok. Tapi langit hari itu sungguh indah. Bintang-bintang juga berparade dengan cantiknya. Sekali lagi aku berhasil lelap dan dapat quality deep sleep.

3428 mdpl

Selepas sore di Pos-7 aku berniat ga ikut muncak. Jalur ke sana sudah kelihatan sekali, dan suwer, itu trek malesin banget. Tapi begitu malam tiba aku jadi mikir, stay di camp berarti bakalan kedinginan sampai rombongann tiba lagi.

Aku diselamatkan temaram. Kalau saja summit attack dilakukan menunggu hari terang, niscaya nyaliku merosot ke titik terendah. Yeah, akhirnya pukul 3:40 aku ikut berangkat ke Puncak. Oh tentu saja, tanjakan seperti kemarin sudah menunggu kami. Nonstop dengan kemiringan tiada ampun. Aku merasakan vegetasi menipis lalu tanah berubah menjadi pasir merah dan bebatuan yang mudah menggelincir. Ketika langit mulai terang kami sudah di jalur pendakian terbuka yang curam. Aku bertekad tidak memikirkan dulu jalan pulang. Terus merayap, meraih batu-batu yang kokoh. Beberapa di antaranya jatuh meluncur terinjak, menghantam pahaku dan ulu hati pendampingku. Itu saja celakanya, sisa perjalanan terus ditempuh. Aku, lagi-lagi, hampir menyerah karena semburat merah benar-benar muncul ketika belum habis lagi mengatur nafas. Korlap rombongan ini mengingatkanku bahwa puncak sebentar lagi. Ya, dan matahari tidak bermaksud meninggalkanku. Ia mengingatkan bahwa manusia cuma bisa berencana.

sang fajar
sang fajar

Ketika akhirnya aku sampai di bibir akhir tebing puncak, aku dilanda ketakjubann. Seorang aku yang malas dan mudah patah, akhirnya bisa mencapai jarak sejauh itu. Rasanya… segalanya. Ingin menangisi seluruh diriku ini. Dan Semesta sungguh lembut dan berbaik hati menerpaku di sana. Kabut seketika menutupi pandangan. Subhanallah.

impossible is nothing
impossible is nothing

Turun dari puncaknya, hari telah terang, dan tahulah kami bahwa rumpun-rumpun Edelweiss sedang bersemi, setelah tahun lalu Gunung Slamet mengalami kekeringan dan kebakaran parah – yang menyebabkan kami mengalihkan ekspedisi menjadi ke Merapi.

edelweiss2