enjoy life · lintas-kamis · rumakita

Salah satu kesyukuranku adalah telah membuat keputusan yang tepat sewaktu dulu memilih dan memutuskan lokasi rumah. Properti perdana keluarga kami. Letaknya di sebuah desa di kabupaten Bogor tetapi berdekatan dengan perbatasan kotamadya. Jadi akses ke fasilitas kota tetap terjangkau, macam pasar swalayan, rumah sakit, dan sekolah-sekolah. Juga dekat ke gerbang jalan bebas hambatan lintas Jagorawi. Tapi, jalur transportasi andalan kami adalah kereta #commuterline. Letak rumah kami dekat sekali ke #stasiuncilebut. .

Namanya jalanan desa dengan pintu gerbang ke Kota, ngga heran, seiring waktu, bertumbuh ramai dan bahkan bisa macet. Kemacetan khas persimpangan dengan pasar, stasiun, dan terminal angkot. Tapi alhamdulillah, saat ini macetnya ngga pernah sampai ke pintu masuk komplek. Jadi, ngga sampai bikin tambahan ruwet dan BT perjalanan harian kami #blessed . .

Alhamdulillah, masih dekat setiap hari bisa memandang tujuh puncak Gunung Salak melatari langit Selatan. Alhamdulillah, air dan udara selalu bersih. Alhamdulillah, suhu udara selalu sejuk. Alhamdulillah, semua tercukupi. .

Apa kesyukuranmu pagi ini? Ceritain di kolom komentar ya… .

reminder · tualang

(Feel) Lost in Arcopodo

Yang namanya tersesat tidak selalu berarti kau berada di dalam gelap dan terkunci, atau tidak tahu apa-apa. Kadang-kadang tersesat berarti kau punya pilihan/kemungkinan untuk selamat lebih besar, tapi kau abaikan. “Tersesat” adalah kondisi ketidakberdayaanmu menghadapi berbagai gempuran informasi dan kondisi yang tak sanggup kamu memilah dan mengendalikannya menjadi keselamatan.

Bingung ngga?

Ini seperti yang sekali itu terjadi padaku.
Kejadiannya sebagai berikut : sebenarnya jalur pendakian puncak leluasa saat itu. Lagi-lagi aku kesiangan karena pace dan ritme yang lambat. Hampir seluruh kawanan telah kembali ke Camp Kalimati. Aku bersama Nilda dan Darus menjadi pemuncak terakhir dan di puncak masih ditunggui Romi dan Angel. Kami dikawal tiga orang guide Didiet, Gimbal, dan Sam.
Seperti komposisi muncak, pada jalur turun kami terpisah menjadi 3 bagian lagi. Romi dan Angel sebagai yang tercepat diiringi Sam. Meskipun jalur menurun relatif aman dan berupa luncuran batu lava, aku tetap dengan pace-ku. Setelah Didiet mulai berjarak menduluiku, mas Gimbal masih sempat menjajari, tetapi kemudian melewatiku juga. Asal masih dalam jarak pandang, amanlah, pikirku.

Didiet dan Gimbal kemudian telah bertemu di sebuah titik di bawah dan mereka beristirahat tanpa naungan di tengah trek. Sementara Romi, Angel, dan Sam terlihat mendekati batas vegetasi. Darus dan Nilda di belakangku meluncur ekstra hati-hati.

Aku berhenti sejenak, duduk mengambil nafas. Mulai lelah dan gerah karena memang sudah tinggi matahari lewat pukul 10.00. Darus menyusulku lalu mengangsurkan sekantong sultana, pengganti gula-gula untuk tenaga kami. (E, siapa bilang jalan turun ngga perlu bahan bakar?) Sedikit airnya kuminta asal bisa untuk menyusul Romi atau Angel yang aku tau mereka masih membawa air cukupan. Selesai rehat, kuputuskan bergerak lagi, sendiri, untuk menyusul Didiet dan mas Gimbal. Darus kembali masih harus mendampingi Nilda yang berada jauh di belakang. Melewati tempat Didiet dan Gimbal rehat, aku dipersilakan duluan untuk menyusul kawanan Romi yang kini terlihat duduk di ujung batas vegetasi.

Sampailah. Mereka tengah ngobrol sambil neduh. Kuminta separo sisa air Angel untuk mengisi botolku yang kosong. Kami akan bergerak dalam satu barisan. Tetapi entah kenapa aku bersiap untuk jalan sendiri, maka kuminta airnya sekarang. Dan tim ini kemudian mulai bersiap jalan lagi. Aku berpikir untuk membiarkan mereka berlalu lebih dulu sedikit dan akan kususul karena jalur sudah landai dan jelas. Aku mau buang hajat dulu, kantung kemihku sudah terasa penuh. Maka minggirlah aku sejenak menyelesaikan perkara. Tentunya numpang-numpang dulu sama yang ga kelihatan… biar siang dan terang terbuka begini, ini Mahameru, gunung suci (buat yang meyakini). Konon katanya cuma orang-orang terundang yang bisa menapakinya, jadi jaga sikap dan perilaku tetep harus dijunjung.

Beres sudah, aku siap jalan dan lanjut menuruni jalur batu krakal lava yang bulirnya kecil-kecil, masih dengan mode luncuran. Dugaanku, aku akan sampai ke area bertekstur tanah padat, yang tadi malam/subuh aku lewat situ. Ekor rombongan yang kuikuti sudah tak kelihatan tetapi bekas pijakan mereka masih jelas dan stengah basah. Aku lanjut. Semalam kami melewati titik lapang Puncak Kelik, letaknya di kiri jalur menanjak, di bawah naungan pepohon pinus. Rescue Team pemandu mendirikan tenda observasi di sana semalam. Berarti aku akan kembali menjumpainya di sisi kananku sekarang, di jalur menurun ini.

Aku masih cukup sadar dan terang pikir… sampai kurasa-rasa terlalu lama Didiet dan Gimbal tak kunjung menyusul. Apa aku terlalu cepat? Tapi rasanya pasti akan terkejar oleh mereka yang sudah sangat biasa di jalur ini. Kuputuskan menunggu sejenak. Pada rebahan kayu pinus aku duduk, mengerat cokelat, sedikit membasahi rongga mulut. Rehat.

Sepuluh menit… Lima belas menit… Mungkin. Aku tak pakai arloji. Batere hape telah habis. Tak ada petunjuk waktu yang tepat (karena rasanya akan aman-aman saja). Tapi ini seperti sudah sangat larut, lewat tengah harikah? Belum ada juga yang terdengar menyusul. Andainya bukan 2 orang pemandu itu, tentu aku akan tersapu juga oleh Darus dan Nilda yang sedari tadi memang masih di belakang. I was feeling a bit chill. I’m on the right track, pikirku.

Kuputuskan jalan lagi. Kali ini mulai mengamati jalur lebih seksama. Dan semerta-merta teringat pesan koentji para pendaki “jangan berjalan sendirian”. Damn, so why am I the only one here now?!

Kuedarkan pandang lebih meluas… ada bekas-bekas sampah yang pastinya dibawa para pemuncak. Kuputuskan hanya memilih jalur yang banyak sampahnya. Pasti ini jalur manusia. Lalu ada pita-pita macam police line di beberapa sisi. Ummm… ko rasanya semalam ngga terlihat ya? Tapi ini membantu sekali sehingga kulanjutnya. Sampai kemudian langkahku terhenti karena pita hitam kuning itu merintang di depanku. Damn twice. Salah jalurkah? Pita rintang tidak boleh diterabas, kan? Aku balik kanan, kembali ke titik yang menjadi simpangan. Ketemu. Tapi arah lainnya tidak terlihat cukup meyakinkan juga.

Kulihat di kiriku gundukan batu cadas hitam setinggi 20 meter. Selebihnya jalur kerikil dan pepohon pinus. Daunnya berkersikan, berkesiut ditiup angin. Tapi selebihnya sunyi, tak ada suara burung atau satwa lainnya, bahkan selemah jangkrik. Jalur tanah seperti semalam yang kuharap kujumpai, tak ketemu. Ini siang benderang, tapi Arcopodo terasa mencekam. Third times damn! Kuputuskan aku sudah berada dalam status tersesat.

Selebihnya, aku bolak-balik bertanya pada diri sendiri,… apa sedari tadi aku sempat melamun? Apa aku membiarkan pikiranku melayang-layang…? Menurut teorinya survival, kondisi tidak fokus sangat-sangat rawan tersesat, atau… disusupi ‘jenis kesadaran’ lain. Wewww…

Sedemikiannya sudah membuat diriku ini ciut seciut-ciutnya. Melihat diri sendiri ini benar-benar kecil di hadapan alam yang tak dapat kuduga gerak dan lakunya. Seluruhnya seperti memandangiku yang terpencil. Pohon, batu, awan… Pohon terutama, seperti mereka punya mata-mata yang mengawasi. Mungkin benar aku sudah sangat lengah… mengecilkan arti Arcopodo, di situs yang ada tempat penyembahan. Di lokasi di mana ujung-ujung blank berakhir. Di tempat mana telah banyak catatan orang hilang, kesasar…. Dan kini aku yang berada di posisi itu. Hampir…

Di tengah rasa ciut dan hampir putus… Tak ada selain rapalan doa dan bisik-bisik kepada Yang Mendengar… Kukuatkan diri untuk tidak benar-benar jatuh ke kepanikan. Ini, kira-kira, menjelang tengah hari. Kuramalkan kemungkinan paling buruk, bahwa orang-orang di Camp Kalimati akan menyadari aku hilang kira-kira pada pukul 01.00 atau 02.00 yang mana menurut rencana awal pada waktu-waktu itu seluruh regu pendakian kami harusnya sudah lengkap menuju Ranu Kumbolo kembali karena senjanya kami akan meneruskan sampai Ranu Pani. Aku menarik nafas sejenak, dan dengan berat, kulangkahkan saja kaki menyusur trek yang masih banyak tanda-tanda ditinggalkan pendaki, yang banyak sampah. Sungguh… itulah perjalanan terberat di hati dan di kaki… karena perasaan yang bercampur takut dan khawatir.

Aku tak ingat berapa lama lagi berjalan… Terus masuk ke rerimbun pinus. Ujung pepohon di Kalimati sudah hampir tak terlihat. Aku berharap trek ini benar-benar membawaku ke titik Kalimati, entah dari jalur yang mana. Berharap akan menemukan padang Kalimati dengan rumput-rumput emas dan bangunan pondok tempat para porter biasa beristirahat. Tak kuhitung lagi berapa kali lagi aku berhenti, berharap disusul, dan terutama meredakan ragu-ragu yang semakin menjadi. Sampai kemudian… di sebuah tikungan, tanpa aba-aba suara (mungkin karena suara debaran jantungku sudah demikian rusuhnya), muncullah seseorang yang sangat kukenal parasnya, kepala rombongan pemandu, yang namanya Ilham!

Sempet menahan nafas dengan pandangan membelalak sebelum kusembur “Alhamdulillah, Maaaaaas… aku seneng banget ketemu kamuuuuuu….!” – eh, ini tanpa aksi lari menghambur ke pelukan yes… Aku berusaha ngga emosional, sok cool bae lah. Tapi yang kubilang itu, sudah semuanya.
“Bu Lil! Ko kamu sendirian??” – gitu aja katanya. Dia langsung mengajak aku minggir di teduhan dan beristirahat. Ya salaam… Rasanya tegang dan lelah langsung lepas. Aku minum, nyamil bekal yang dibawakan, dan cerita-cerita mengalir. Rekonfirmasi kondisi sampai kenapa aku bisa lepas dari monitor. Usut punya usut, rupanya ada jalur menurun lain di kanan jalan yang kupilih. Tampaknya dua pemandu yang kutunggu kembali ke jalan itu. Ya, itu jalan yang semalam kami tempuh menanjak. Aku… mengambil jalan balik lain yang kabarnya lebih landai, tapi sama sekali baru bagiku. Jadi, percuma saja, Puncak Kelik yang kucari tak akan ketemu. Ilham bilang Didiet dan Gimbal sudah sampai ke kamp dan menyangka diriku sudah sampai bersama Sam dkk. Kenapa Ilham balik ke atas? Bukan karena persis mencariku juga… tetapi membawa perbekalan yang masih ada karena Darus sempat memanggil dengan radio sebelum sinyal hilang, yang merasa sudah terlalu siang untuk mengejar jadwal makan di kamp, terutama untuk Nilda yang masih menyusur turun pelan-pelan. Ya ndilalah Ilham memilih jalan ini. Kalau dia kejar lewat Puncak Kelik, wallahualam bissawab, aku bisa-bisa ngga tersapu juga. Gosh!

Di belakang Ilham, menyusul seorang porter senior yang siap melakukan rescue menjemput sisa pasukan yang tercecer. Pak Tarpin, namanya. Biar sudah umur, langkah-langkahnya mantap dan ringan. Orang macam dia ini seluruh seluk beluk hutan kayak hutannya sendiri, akrab, udah kenal banget. Santai aja dia kayak lagi main di taman. Lega aku dibuatnya. Padahal target dia siang ini bukan aku juga sih. Ga pa pa. Aku tetap sangat bersyukur ketemu mereka ini. Setelahnya menyusul turunlah kawanan paling buntut. Lalu kami menurun menuju kamp bersama-sama.

Dari kesemua kisah perjalanan ke gunung, kali ini aku cerita sisi yang lain. Pendakian Semeru ini perdana buatku. Alhamdulillah aku bisa sampai. Tapi kisah di atas adalah pelajaran paling berharga yang kudapatkan.

Jadi gaes, beneran dah… Setiap saat kewaspadaan itu perlu. Aku diingatkan sangat keras dengan kejadian ini. Entah, berikutnya, esok-esok,… apa aku masih sangat bernyali pergi ke gunung-gunung lagi?

Photo courtesy of Sandres Tarigas
ceritakeluarga · ceritarinjani · life thought · parenting · weekend-mom

Bad Mom at 17-an

Tahun ini Tujuhbelasan yang pertama buat Rinjani. Dia udah punya kesadaran dan pengetahuan tentang perayaan Hari Kemerdekaan dan ada banyak hal yang seru yang dia bisa ikuti.

Kebetulan di lingkungan rumah dan di sekolah (Taman Kanak-Kanak)nya sejumlah lomba dan kompetisi diadakan. Bersama teman-teman sebayanya ia sudah niat untuk mendaftar dan berlomba supaya dapat piala. 😊

Sabtu pagi, 17 Agustus, aku antar dia bersama teman-temannya ke pekarangan masjid, tempat pemuda Karang Taruna membuka pendaftaran lomba. Bocah-bocah ini terlalu bersemangat, bahkan ketika dibilang lomba baru mulai jam seupuluh, mereka tak mau pulang dulu. Apalagi kakak-kakak membagikan coklat dan permen setelah mereka daftar. Aku awasi saja mereka berkeliaran dan saling menyapa dengan sebayanya sambil menunggu waktu lomba tiba.

Pukul sepuluh, kami menuju tempat lomba. Rinjani dapat giliran pertama, mengingat begitu banyak pendaftar dan lomba akan dilakukan dalam beberapa batch. Senangnya jadi bocah lugu, ngga banyak pikiran, ngga ada target. Yang penting bersenang-senang. Demikian juga dengan Rinjani. Dia hanya tau akan makan kerupuk dan menang. Ngga terlalu peduli kalau “menang” itu artinya harus habis paling awal. Biarlah… Akupun ngga berusaha bikin dia mikir. Aku hanya ingin dia bersenang-senang bersama teman-temannya. “Juara ya…”, kataku.

And so the race is going… Ramai dikelilingi oleh kumpulan bocah dengan para ibu yang ambisius menyemangati anak-anaknya melahap kerupuk, aku malah menjauh agak di seberang arena. Dari sana kuacungi Rinjani dua jempol penyemangat. Ketika panitia menghentikan waktu lomba, belum semua kerupuk habis, tetapi mereka sudah bisa tentukan juaranya. Lalu anak-anak ini bisa menghabiskan sisa kerupuknya.

Rinjani sebenarnya ngga menang. Tetapi dia terlihat happy menghabiskan bagiannya. “Yeay, aku juara, ibu…”, serunya lalu menghambur ke pelukanku. Tidak memperhatikan pengumuman dari Kakak Panitia dan tidak paham kalau juara batch akan diadu lagi. Puas dengan prestasinya, dia malah ajak aku menonton lomba-lomba yang dilakukan kakak-kakak yang lebih besar. Ada balap karung, estafet spon basah, dan lain-lainnya. Well, she’s having fun. And that’s enough. Bahkan dia lupa untuk dapetin piala yang dia sebut-sebut di awal hari.

Esok harinya, di hari sekolah, ada lomba-lomba 17-an juga yang diadakan. Aku titipi Si Mbak untuk mengawasinya di sekolah. Kali ini, Rinjani ikut lomba balap kelereng, katanya. Siang hari aku baru meng-update kabar ke Mbak.

“Ngga juara, teh. Kelerengnya jatuh melulu…”, lapor Si Mbak. Katanya pula dia hampir nangis, tapi kemudian dihibur sama bundanya di kelas.

Deg! Something shocks me…

Tahun ini adalah pertama kali Rinjani ikut dan mengerti 17-an adalah keriaan. Bertentangan dengan cita-citaku untuk membuatnya selalu berbahagia, seharusnya aku mengenalkan juga padanya bahwa ada yang namanya kompetisi. Bahwa hal-hal itu perlu diperjuangkan. Bahwa kita tidak bisa selalu menang dan senang, tetapi kita harus selalu pandai menanggapinya.

Maybe, I’d been a bad mom dengan selalu menghendakinya merasa tenang dan aman-aman saja yang justru bisa membahayakan dirinya karena menjadi tidak waspada. And I have to correct that… Mungkin dia juga ngga terlalu ambil peduli karena sehari kemudian tak ada lagi obrol-obrolan tentang perlombaan 17-an. Tetapi ini tetap menjadi PR buatku, untuk menyiapkan Rinjani menjalani hari-harinya kelak. Bahwa hal-hal yang berlalu adalah bahan permenungan dan pelajaran hidup, bukan untuk dianggap angin lalu dan dilupakan begitu saja.

Ok my baby girl… Kita akan mulai belajar tentang hidup ya. Ngga cuma kamu, tapi Ibu juga ikut belajar berani melepasmu ke Dunia.

babytalk · ceritarinjani · life thought · parenting

Growing…

Hadeuh Dek…

Umurmu udah 4 tahun 5 bulan sekarang. Udah semakin gede. Sekarang maunya dipanggil ‘kakak’. Dan siap mau sekolah. Insyaallah.

Udah semakin percaya diri di pergaulan. Punya teman-teman di lingkungan rumah, kamu belajar macam-macam hal, berkawan, berseteru, berargumen… Tapi tetap mau jadi diri sendiri.

Mulai punya banyak kilah dan jawaban. Manja karena masih tetap anak tunggal yang tahunya apa yang diingin harus kejadian. Modal air mata dan rengekan, kalau bukan keras mau. Ini lho yang jadi Pe-eR.

Jadi, maklumilah ibu… Sekarang ibu harus ajari kepatuhan. Sekarang ibu mau kamu tahu, tak ada tempat kembali bertanya selain aku yang melahirkanmu. Orang yang harus kamu dengarkan. Ibu harus ajarimu untuk tidak manja dan maunya-tau-beres. Maklumi ibu, karena harus tegas dan lurus. Aku tidak ingin kamu bimbang tak punya pegangan. Aku tidak ingin kau hidup dengan berharap pada keberuntungan dan kasihan orang lain. Kau harus jadi anak yang sigap menentukan langkah sendiri. Jadi anak yang faham memilah baik dan buruk mandiri.

Tak ada orang yang mengharapkan kebaikan sehabis-habisnya seperti yang kulakukan padamu. Aku sangat menyayangimu. Sangat. Tetapi aku tak kan biarkan kau larut dalam lena.

Kita belajar arif bersama ya…

ceritakeluarga · ceritarinjani · enjoy life · mamahood · parenting · perempuan · rumakita · weekend-mom

Ayah-Rinjani : Ditinggal Berdua (saja)

Kemarin, sehabis Imlek, mba pengasuh ga masuk kerja. Untungnya, ayah yang kerja di grup perusahaan warga keturunan, masih dapat libur satu hari lagi. Sementara aku, yang di perusahaan swasta nasional, sudah harus setor absen.

Rumah kutinggal dengan beberapa pasokan sehingga ayah dan bokril ngga bakalan kelaperan. Kutinggalkan pula uang belanja, kalau-kalau perlu tambah jajan. Dan berangkatlah aku dengan yakin ngga akan ada masalah. Ini bukan pertama kali mereka kutinggal berdua juga sih.

Menjelang tengah hari aku cek kondisi mereka lewat WA. … and I’m surprised. Ayah belanja dan masak. Bahkan bikin sambal! 😄

masak sup ceker, kesukaan anak kami…
Wow bangeeet…

Selama ini, kalau di rumah, aku yang take-in-charge dapur. Mungkin terbawa kebiasaan Mama di rumah yang pakemnya suami-harus-diurus-perutnya oleh istri. Hihihii. Aku lupa, si ayah juga punya kemampuan ini di masa lajangnya, di rumahnya sendiri dulu. Aku lupa, si ayah yang kutemuin di perjalanan gunung, kan emng punya modal biasa bergerak di dapur ya kan.

Nah, singkat cerita habis masak, mereka berdua makan siang. Rinjani dipersilakan ayah makan sendiri lho. Sesuatu yang belum pernah kucoba (untuk kupercayakan). Ayah langsung aja tuh memberinya ruang eksplorasi…

Menyantap dengan antusias, di meja sendiri…

Tambah lagi, ngga ada tekanan harus-makan-sayur, eh anaknya sendiri langsung nyamilin wortel. Good girl 😊.

Kata ayah, kontan abis makan lahap, dia ngantuk. Lancar sekali prosesnya.

Sore, aku cek lagi. Mereka pasti habis bangun dari siesta. Eh, ternyata, kata ayah, mereka udah di masjid. Rinjani seneng ikut ayah shalat jamaah. Biasanya dia duduk diam-diam sambil tutup telinga. Katanya, gag suka denger suara kencang muadzin dari loud speaker. Hmmm, …

Sore kemarin itu Rinjani didaftarin ke TPQ… Dia suka dan bersemangat belajar.

bergabung di TPQ, shalihah^^

Alhamdulillah, hari berjalan lancar ya. What a relief for me. Ayah bilang, capek sih, sambil mengasuh anak (soalnya lagi masa sangat aktif), sampai-sampai aku tiba di rumah, jam 8 malam, dia baru mau mandi 😆. Masakannya aku coba, enak lho. Layak tampil banget. Pantesan dia ga ragu kasih kritik kalau aku masak 😝.

Lain hari libur sepertinya ia akan kudapuk masuk dapur lagi deh. Hmmm…