babytalk · ceritarinjani · life thought · parenting

Growing…

Hadeuh Dek…

Umurmu udah 4 tahun 5 bulan sekarang. Udah semakin gede. Sekarang maunya dipanggil ‘kakak’. Dan siap mau sekolah. Insyaallah.

Udah semakin percaya diri di pergaulan. Punya teman-teman di lingkungan rumah, kamu belajar macam-macam hal, berkawan, berseteru, berargumen… Tapi tetap mau jadi diri sendiri.

Mulai punya banyak kilah dan jawaban. Manja karena masih tetap anak tunggal yang tahunya apa yang diingin harus kejadian. Modal air mata dan rengekan, kalau bukan keras mau. Ini lho yang jadi Pe-eR.

Jadi, maklumilah ibu… Sekarang ibu harus ajari kepatuhan. Sekarang ibu mau kamu tahu, tak ada tempat kembali bertanya selain aku yang melahirkanmu. Orang yang harus kamu dengarkan. Ibu harus ajarimu untuk tidak manja dan maunya-tau-beres. Maklumi ibu, karena harus tegas dan lurus. Aku tidak ingin kamu bimbang tak punya pegangan. Aku tidak ingin kau hidup dengan berharap pada keberuntungan dan kasihan orang lain. Kau harus jadi anak yang sigap menentukan langkah sendiri. Jadi anak yang faham memilah baik dan buruk mandiri.

Tak ada orang yang mengharapkan kebaikan sehabis-habisnya seperti yang kulakukan padamu. Aku sangat menyayangimu. Sangat. Tetapi aku tak kan biarkan kau larut dalam lena.

Kita belajar arif bersama ya…

ceritakeluarga · ceritarinjani · enjoy life · mamahood · parenting · perempuan · rumakita · weekend-mom

Ayah-Rinjani : Ditinggal Berdua (saja)

Kemarin, sehabis Imlek, mba pengasuh ga masuk kerja. Untungnya, ayah yang kerja di grup perusahaan warga keturunan, masih dapat libur satu hari lagi. Sementara aku, yang di perusahaan swasta nasional, sudah harus setor absen.

Rumah kutinggal dengan beberapa pasokan sehingga ayah dan bokril ngga bakalan kelaperan. Kutinggalkan pula uang belanja, kalau-kalau perlu tambah jajan. Dan berangkatlah aku dengan yakin ngga akan ada masalah. Ini bukan pertama kali mereka kutinggal berdua juga sih.

Menjelang tengah hari aku cek kondisi mereka lewat WA. … and I’m surprised. Ayah belanja dan masak. Bahkan bikin sambal! 😄

masak sup ceker, kesukaan anak kami…
Wow bangeeet…

Selama ini, kalau di rumah, aku yang take-in-charge dapur. Mungkin terbawa kebiasaan Mama di rumah yang pakemnya suami-harus-diurus-perutnya oleh istri. Hihihii. Aku lupa, si ayah juga punya kemampuan ini di masa lajangnya, di rumahnya sendiri dulu. Aku lupa, si ayah yang kutemuin di perjalanan gunung, kan emng punya modal biasa bergerak di dapur ya kan.

Nah, singkat cerita habis masak, mereka berdua makan siang. Rinjani dipersilakan ayah makan sendiri lho. Sesuatu yang belum pernah kucoba (untuk kupercayakan). Ayah langsung aja tuh memberinya ruang eksplorasi…

Menyantap dengan antusias, di meja sendiri…

Tambah lagi, ngga ada tekanan harus-makan-sayur, eh anaknya sendiri langsung nyamilin wortel. Good girl 😊.

Kata ayah, kontan abis makan lahap, dia ngantuk. Lancar sekali prosesnya.

Sore, aku cek lagi. Mereka pasti habis bangun dari siesta. Eh, ternyata, kata ayah, mereka udah di masjid. Rinjani seneng ikut ayah shalat jamaah. Biasanya dia duduk diam-diam sambil tutup telinga. Katanya, gag suka denger suara kencang muadzin dari loud speaker. Hmmm, …

Sore kemarin itu Rinjani didaftarin ke TPQ… Dia suka dan bersemangat belajar.

bergabung di TPQ, shalihah^^

Alhamdulillah, hari berjalan lancar ya. What a relief for me. Ayah bilang, capek sih, sambil mengasuh anak (soalnya lagi masa sangat aktif), sampai-sampai aku tiba di rumah, jam 8 malam, dia baru mau mandi 😆. Masakannya aku coba, enak lho. Layak tampil banget. Pantesan dia ga ragu kasih kritik kalau aku masak 😝.

Lain hari libur sepertinya ia akan kudapuk masuk dapur lagi deh. Hmmm…

ceritakeluarga · ceritarinjani · life thought · parenting

Halo Buk, how’s everything?

3years5mos

sebuah gambar yang buram ini…

Oh, alangkah inginnya aku memiliki gambar terbaik dari acara di hari itu. Waktu itu Rinjani tampak sangat cantik. Seharian dia main dengan gembira, sampai lupa makan, sampai dia benar-benar kelelahan. Aku juga begitu sibuknya mengurus ini itu sampai-sampai ngga sempat membuat gambar dengannya. Mungkin belakangan ini aku memang terlalu abai…

Ketika malam hari aku rebah di sampingnya dan memperhatikannya terlelap… aku tersadar pada keberuntunganku dan juga kekacauanku. Bagaimana mungkin selama ini aku berpikir hal-hal lain di luar dirinya lebih penting? Aku terlalu sibuk mencari-cari waktu untuk melakukan banyak hal yang tidak terhubung langsung dengannya. Bahkan sibuk berkhayal untuk hal-hal yang tidak akan pernah menjadi hakku…

Sekarang aku tahu… bahwa sekadar ada dan hadir saat ini sudah tidak lagi cukup baginya. Sudah waktunya aku memikirkan dia akan menjadi apa dengan tangan yang kurang cukup bekal ini. Dia sudah ingin sekolah… apa aku sudah siap dengan uang pendaftaran? Dia sudah semakin bisa berpikir sendiri… apa aku sudah mampu memberi bimbingan yang tepat agar dia tak salah langkah dan berbuat? Apa aku sudah mengenalkannya kepada Tuhannya…?

I’m so selfish. Aku kasih segala yang ia mau… tapi apa aku benar-benar telah memikirkan apa yang dia perlukan?

Sungguh-sungguh berharap aku belum terlambat….

 

ceritakeluarga · ceritarinjani · mamahood · parenting · toddler-time

Anchor

nj209

Ketika kamu membaca ini, usianya sudah mencapai 2 tahun 9 bulan. Sudah banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukannya. Responsif. Gue sendiri terkagum-kagum dengan banyaknya topik yang dia kuasai kalau kami sedang ngobrol-ngobrol. Iya, kami suka ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Anak ini ceriwis, suka sekali ngomong dan cerita. Sudah bisa bermain dengan imajinasi. Sekarang dia bisa berandai-andai bermain tamu-tamuan, pura-pura menuang teh, menyajikan, dan meminumnya bahkan dengan cangkir-cangkir imajiner, ngga harus dengan mainan. Dia juga sangat suka menyanyi dan bersenandung sambil terus asyik bermain. Lagu favoritnya sekarang adalah Ondel-ondel. Fasih sekali menyanyikannya, untuk ukuran anak seumur dia. Makanya ketika ayahnya membelikan mainan sepasang ondel-ondel dia senang sekali. … dan langsung deh, Ayah jadi best friend nya, selalu dicari untuk diajak main bareng. Huh *emak-iri.

Kubiasakan untuk menamai emosi yang dirasakan, dia bisa bilang “… aku bosan”, atau ” aku lagi kesel”. Kalau sudah begitu gue ajak dia berlatih mengatur nafas supaya bisa tetap terkendali. Dia juga sudah menunjukkan kemauan yang keras. Bisa kekeuh dengan nada penuh tekanan bilang :
“Mau… mau… mauuuuuu !!” atau
“Engga… engga… engaaaaa!!”

Hhhhh… kalau sudah begitu, gue yang dilema, kalau diturutin dia akan terbisa memanfaatkan kekeraskepalaannya untuk mendapatkan sesuatu. Kalau ngga diturutin, sampai kapan tahan otot-ototan di saat fisik dan mental letih pulang kerja, dan lingkungan mulai terganggu dengan kerewelannya? Terus terang aja, ngga jarang gue jadi kepancing bersikap lebih keras. Dengan suara keras. Dengan gesture yang tegas. Bukan memukul ya. Tapi sama aja, ngga bagus. Belum menemukan cara yang lebih baik. Gue tetap berusaha untuk mentoleransi lebih jauh, untuk melihat batas kekerasahatiannya. At the end of the drama gue selalu menasehati, menunjukkan hal baik dan ga baik dari kelakuannya. Ngga jarang teriring juga permintaan maaf gue karena harus tegas padanya. Entahlah dia menyerap atau tidak. Untuk hal ini kita harus tetap keras kepala (baca: konsisten) kan?

However, dia kan cerminan kami orang tuanya, bukan? Bagaimana dia bersikap berprilaku, sebenarnya ngga jauh dari teladan di sekitarnya… Sepertinya gue harus lebih ngaca ketika harus menghadapi hal-hal yang kurang baik darinya. Hehehee…

However, dia adalah jangkar kehidupan gue. Dia yang paling riil, ada, dan nyata daripada segala-galanya di dunia ini. Dia yang selalu menarik gue dari awang-awang keakuan dan keinginan gue yang selfish; dari gue yang sibuk mengejar keduniaan. Dia yang harus gue pegang. Dia yang paling pantas menerima curahan dan sentuhan perhatian dan tindakan gue. Dia yang menjadi tumpuan harapan. Kembali lagi ke pertanyaan awal : gambaran sosok seperti apa yang gue inginkan dari dirinya kelak ketika menjadi manusia yang utuh?

Probably I’m not a good-mom… Gue cuma bisa bilang ingin dia jadi anak yang baik dan berguna. Tapi gue ngga punya gambaran rinci tentang dia harus jadi apa atau harus punya skill apa. Yang bisa gue jalani hanya day-to-day actions, memberinya ruang untuk berkembang. Gue hanya punya perangkat terbatas tentang aturan yang sekiranya berlaku umum, pantas, dan cukup memberikan jaminan keselamatan. Selebihnya… kita berproses bersama-sama ya Nak…

I love you…

ceritarinjani · jurnal · tualang

Kembali ke Rinjani

3 tahun setelah cuti hamil dan melahirkan. 6 tahun setelah kunjungan pertama. Kepada Rinjani aku kembali.

Ngga sempet merasa haru, karena kunjungan kali ini, ndilalah jadi panitia, membawa rombongan yang … besar. Sebelumnya ekspedisi selalu didahului trip ‘pemanasan’ ke target sekitar Jawa dulu dan ngga pernah lebih dari 12 orang. Tapi kali ini kami, berawak 24 orang, terdiri dari beberapa kawan yang belum sekalipun mendaki gunung, langsung menyebrang ke Timur. Kegalauan panjang sempat terjadi, termasuk perubahan jadwal berulang kali, penundaan satu tahun… tapi hari ini tak terhindari lagi. Aku datang.

Panorama Rinjani masih seindah dulu waktu pertama kali aku ke sana tapi dengan ‘rasa’ yang beda; saat itu musim kering (dan kebakaran). Tahun ini kutekadkan berangkat walaupun harus meninggalkan Rinjani Kcil, karena kami memilih waktu di tanggal-tanggal basah. Aku harus melihat Rinjani ketika hijau. Ingin berfoto di sana saat savananya tengah megar.

Walaupun begitu rupanya otot motretku juga ga bekerja maksimal. Pertama, perangkat aku masukkan ke carrier, sesekali saja kalau tengah istirahat, camping, baru dipakai. Kedua, mengandalkan smartphone, hahaa. Ketiga, untunglah, perjalanan kali ini ngga cuma diriku yang bawa ‘senjata’. Jadi, aku justru bisa konsentrasi menikmati setiap langkah dan proses perjalanan.

Kalau ngga salah, aku ngga menetapkan target apa-apa dalam perjalanan kali ini kecuali membawa seluruh peserta kembali ke rumah dengan selamat dan cukup. Bahkan ketika harus memodifikasi skema perjalanan dengan menyediakan pilihan antara Summit Attack atau langsung ke Danau, aku tidak membuat keputusan sedari awal. Lihat nanti, kondisi dan situasi. It’s my first trip, again, after 3 years off of the trek. Umur nambah, kondisi fisik sudah banyak berubah, olahraga hanya sempat aerobic seadanya… sedangkan Rinjani masih segitu-gitu aja… tetap dengan savananya yang luas, tanjakan-tanjakan Bukit Penyesalan yang masih tegak tak ada ampun; rambatan naik ke Senaru yang tajam dan rawan longsor… Sungguh bukan hal main-main untuk dihadapi tanpa persiapan.

Tapi entahlah tahun ini, … mungkin purnama Waisyak,… mungkin demi Rinjani Kcil,… atau musabab lainnya… Alhamdulillah, janji melewati titik perhentianku di 2011 itu kutebus. A k u   men ca pai  Pun cak. Hari sudah tinggi ketika itu. Tertinggal 2 jam dari rombongan teman-teman. Hingga hanya ada sedikit mata yang menyaksikanku mewek. Ngga pakai rasa-pecah-dada (walaupun nafas terkuras sepanjang tanjakan pasir putih, hitam, merah); ngga pakai nyeri sendi dan otot. A k u   men ca pai  Pun cak. Lalu sesudahnya malah kalut lihat jalur pasir menurun yang mluncur makin kering karena tergarang surya -___-“.

Mungkin ini tahun untukku bisa melihat Rinjani dengan kabut yang terkupas-kupas. Bisa melihat dinding Senaru ketika trekking ke Danau. Baru bisa lihat si Air Terjun besar yang tak terjamah di jalur Torean itu. Bisa melihat pemandangan ke bawah dari titik Batu Ceper. Bahkan menyaksikan matahari pulang ke lautan awan di Puncak Senaru. Luar biasa…. Kamu, lihat sendiri aja deh.

… dan cerita-cerita perjalanan malam yang serunya udah hampir jejer thriller Stephen King. Hampiiiiir… ga sampe sama sik. *amit-amit. Biarpun begitu, malam terakhir di jalur kuhabiskan dengan berebah di bawah kanopi hutan. Bareng porter-porter. Syahduuuu…

Udah yaaa… aku kapok ke Rinjani! *kapoksambelmodeon*

summitA
12-Mei-17, pkl 09.58 – Ibuk sudah sampai ya Nak…

 

 

x-kecil.jpg
Rinjani di musim kering, 2011

 

 

DSC_0132kcil
Rinjani, 2017