ceritarinjani · enjoy life · pregnancy

Kisah Panjang Seputar Kelahiran

Hari ini seminggu yang lalu, Senin, jadwal periksa rutin ke ObGyn dengan tanpa banyak rencana atau pun merencanakan banyak pertanyaan. Pukul 8:00 klinik RSIA Hermina sudah dipenuhi pasien ibu dan anak-anak. Saya masih dengan perut membuncit tapi tetap berjalan sigap dan gagah mendaftar ulang ke Receptionist dan kemudian mangkal di depan pintu praktik dr. Flo. Sesekali ada kerasa perut kejang dan lebih mules seperti mau haid.

Begitu berjumpa dengan dokter yang selalu menyapa dengan riang dan cerah itu, sekali ini di wajahnya terlintas tanda tanya “Gimana nih? Ko belum kerasa ya mules-mulesnya?”. Lalu ritual rutin pemeriksaan dengan USG, setelah kusodorkan hasil deteksi jantung Dear Baby hari Rabu sore minggu lalu. “Oke, semua OK ya… Dedeknya masih tetap belum masuk ke panggul sih. Tapi belitan tali pusatnya sudah ngga ada. Kalo begitu kita siap induksi aja ya. Lagi pula sudah masuk Week 41 nih. ” Wew, ini dia, aba-aba penting, yang terdengar berbeda dengan instruksi-instruksi di pemeriksaan sebelumnya – yang terus terang saja saya sudah mulai bertanya-tanya.
“Oke Dokter, berarti saya pulang dulu sebentar ya, menyiapkan macam-macamnya”, kataku dengan mantap. “Lho, ngga pulang lagi. Langsung aja sekarang ke Kebidanan di lantai 2 ya”. Waks?! Jadi sekarang ?? Ini bukan perkara mudah dan bisa beres segera. Ini adalah hari-H yang ditunggu itu! Dokter langsung memanggil 2 asisten dan menuliskan macam-macam memo untuk tindakan lanjutan. Suster mengantarku ke pintu dan mengingatkanku untuk mengkonfirmasi pesanan kamar bersalin dan rawat inap yang sudah pernah kuajukan beberapa bulan lalu. Ini benar-benar serius, rupanya.

Papah, yang selalu mengantar karena jadwal kunjung selalu di hari kerja, ikut terkejut dan bengong beberapa saat. Hehehe… Lalu memutuskan menemaniku dulu mengurus ini itu, mengkonfirmasi asuransi, mengantar ambil darah ke laboratorium, EKG tes, dan terakhir ke Poli Kebidanan. Sambil menunggu jadwal rekam jantung bayi dan memulai proses induksi, saya menyiapkan beberapa catatan barang yang perlu dibawa dari rumah dan kuberikan kepada Papah. Untungnya sebagian besar barang-barang penting sudah set dalam travel bag. Dan kami pun berpisah.

Pukul 13:00 induksi pertama dilakukan. Bidan memeriksaku dulu dan membaca hasil rekam 30 menit alat dopler. Masih belum ada bukaan berarti katanya. Pun kontraksi awal masih jauh-jauh jaraknya. 15-20 menit sekali. Saya dipersilakan untuk beristirahat di ruang tindakan dan jalan-jalan di sekitar poli jika merasa jenuh. Mas Nunu sudah saya hubungi dan kuminta bisa ijin pulang cepat untuk menemani. Begitu sore tiba, ngga cuma Mas yang hadir, Bu Dhe Sukur – Ibu mertua saya, dan Oom Ndaru – adik Mas Nunu, juga datang. Kemudian adik saya, Dewi, menyusul dari kantornya. Perkembangan proses kuinfokan ke Mamah Papah via telepon. Papah langsung juga mampir ke pasar untuk membeli kendil dan rerempahan, kelak untuk keperluan menanam bali (placenta). Saya masih serasa main-main saja. Masih ke sana sini. Menemani Mas Nunu shalat ke mushala di lantai 1, mampir jajan ke kantin. Dan dia takjub dengan daya mangsaku terhadap beberapa cemilan. Haha… Dia ngga tau aja, kalau proses kelahiran itu memang perlu persediaan tenaga banyak dan berarti boleh makan lebih banyak. Wuek.

Sekitar pukul 17:00 dokter Flo muncul di Poli karena ada tindakan kelahiran yang dia proses. Termasuk aku, diperiksanya lebih dulu. Yang ia bilang pun sama, bukaan masih di tingkat satu. Dari empat jam lalu berarti belum ada kemajuan. Dia meminta suster melakukan induksi kedua. Proses yang sama diterapkan kembali. Sementara menunggu pil induksi melesat ke dalam rahim, di bilik sebelah masuk seorang ibu yang tengah kesakitan dan sedang disiapkan untuk deliver beberapa saat lagi. Menyimaknya dari balik tirai saya mulai berteori dengan Mas Nunu “Ibu itu ga tahanan sakit sepertinya. Harusnya kan dia melatihkan pernafasan seperti yang sudah diajarkan di kelas senam hamil. Bernafas dalam untuk mengatasi nyeri kontraksi. Bernafas putus-putus untuk memecah tenaga dorong kalau belum waktunya mendorong.” Yeah, itu teorinya. Saya sendiri ga yakin sih apa nanti bakalan bisa mengatasi rasa sakit yang akan datang. Sementara Ibu itu kabarnya baru bukaan 3 udah separah itu. Gimana mau beranjak ke bukaan 10? Berapa lama lagi? Sedangkan aku bukaan 1 ke bukaan 2 aja belum ada kemajuan…? Nyali mulai goyah. Cita-cita menjalani pengalaman terhebat sebagai wanita mulai terasa mustahil. Saya dan Mas Nunu akhirnya memutuskan jalan-jalan di luar Poli dan berdoa semoga ada perkembangan baik dengan injeksi kedua tadi.

Ketika waktu maghrib tiba, terdengar suara bayi pecah dari dua ruangan berbeda. Rupanya pasien dokter Flo sudah berhasil melewati masa kritis. Dengar punya dengar, sang ibu juga diinduksi setelah tengah hari. Hampir bersamaan denganku. Oh my, aku berharap bisa secepat itu prosesnya. Demikian juga dengan ibu di brankar sebelah. Ba’da magrib, keluhan sakitnya mereda, berganti suara bayi yang menjerit kedinginan karena meninggalkan relung hangat ibunya. Diam-diam saya yang sedang merekam ulang detak bayi dan jarak kontraksi, terharu dan menangis. Sesulit-sulitnya dan sepayah-payahnya si ibu yang kurang sabar tadi, ia sungguh perempuan yang hebat, dan sudah berhasil memenangkan pertempurannya. Dari pantulan dinding keramik aku bisa lihat dokter tengah merangkai sejumlah jahitan akibat episiotomy, sementara si dedek bayinya sedang direbahkan di dada ibu untuk IMD. So sweet… Aku sms Mas Nunu menceritakan peristiwa penuh kesyukuran itu. Dan tentunya berharap saya bisa melewatinya juga.

Namun takdir berkata lain. Pukul 9:00 malam bidan kembali memeriksaku … hasilnya, induksi gagal. Tak ada bukaan. Dia berusaha meraih lebih dalam, kepala bayi masih terlalu jauh dari mulut rahim. Kami dipanggil dan mendapat briefing. Tak ada yang bisa memastikan kapan proses akan bermula apalagi untuk berakhir dengan kelahiran normal. Dokter akan dilapori hasil ini dan akan mengembalikan kepada kami untuk tindakan selanjutnya. Namun, pilihan untuk menunggu proses normal bukan lagi rekomendasi dokter. Pertimbangannya, umur kehamilan sudah terlalu tua untuk menunggu. Sementara lingkungan kandungan tidak akan selamanya kondusif. Artinya, kami diarahkan untuk menjalani sectio Caesar. Ini adalah keputusan dari usaha yang maksimal, bukan lagi pilihan. Walaupun dr Flo adalah sponsor utama untuk kelahiran normal; selama pertemuan rutin dr. Flo selalu bilang supaya saya siap lahir batin memilih proses normal. Pada titik ini saya sebenarnya sudah tidak terlalu peduli mana proses yang saya ingin ambil, saya hanya berharap proses mana pun tak akan lama atau menunda waktu pertemuanku dengan penghuni Rahim ini. Saya ingin segera saja melihatnya hadir lengkap dan sehat. Itu yang paling penting. Saya, walaupun belum pernah menjalani operasi besar apa pun, merasa yakin SC adalah yang terbaik dan akan mudah dilalui. Namun bagi Mas Nunu itu bukan sesuatu yang mudah di-iya-kan. Pertama, karena ia juga punya keinginan untuk sebisa mungkin melalui proses normal; Kedua, karena berat hati saya harus terbeban menempuh SC sendirian – bukan berdua dengannya. Dia masih berusaha bertanya apakah dokter masih bisa memberikan tempo tunda sampai 1 atau 2 hari mendatang, dokter kembali mengutarakan pemikirannya. Setelah saya pun ikut menguatkan dirinya, kami memberitahu bidan kami setuju dengan usulan tindakan dokter.

Sekejap semua hal berlangsung cepat. Untuk operasi semacam ini, akan ada 3 dokter utama dan 1 dokter pembantu. Lainnya adalah para asisten dan perawat. Tidak lebih dari 10 orang termasuk aku, si pasien. Suster langsung menancapkan selang infus dan mengganti bajuku dengan jubah operasi warna hijau. Seorang suster melakukan tes alergi sebelum satu ampul antibiotic dimasukkan ke dalam darahku. Kugenggam tangan Mas Nunu, menguatkan dirinya (dan juga diriku sendiri) – bahwa ini tak akan lama dan kami akan berkumpul kembali. Saat itulah saya baru benar-benar sadar bahwa akan melalui sesuatu yang mengakibatkan hidup dan mati bersisian demikian dekatnya.

Pukul 22:30 semua sudah siap. Brankarku didorong masuk ke kamar OK yang dingin dan serba robotic dengan macam-macam lampu, alat berdenyut-denyut, dan meja dengan peralatan logam yang dingin. Saya dipindahkan ke ‘teater’ dengan penampang yang lebih sempit. Kami masih sempat berkelakar dengan ukuran tubuh yang memenuhi meja utama itu. Seorang dokter senior pria memasuki ruangan dengan santai dan perlahan. Dia terdengar agak ngantuk, mungkin karena operasi ini memang terlalu larut untuk diadakan. Dia menanyakan kabar dan kehamilanku. Dan beberapa topik kecil seputar kesehatanku. Saat itulah saya menyadari, beberapa bagian tubuhku serasa gatal seperti habis digigit nyamuk. Saya tanyakan kepada pak dokter ini, apakah normal kalau saya punya bentol tersebar di beberapa titik. Dokter yang rupanya ahli anestesi sesi ini pun kemudian menanyakan suster apa saja yang telah masuk ke tubuhku. Reaksi tes anti alergi rupanya berkembang. Ada bentol lain yang muncul di daerah luar tempat yang diujikan. Dan rupanya tumbuh pula di bagian lain. Aku pikir bisa jadi ada nyamuk di sekitar instalasi Poli; tapi rupanya di bagian punggung muncul pula lebih banyak. Dokter dan perawat kemudian saling mengobrol untuk mengatasi hal itu. Dokter Flo dan kawanannya belum lagi lengkap ketika akhirnya Dokter Suryo, si ahli anestesi ini kemudian mendudukkan aku di atas meja operasi dan mulai tugasnya menusukkan beberapa titik di bagian tulang belakang. Sensasi tusukan pertama cukup mengejutkan. Seorang suster membantu menolakkan tubuhku karena suntikan kedua, ketiga, dan seterusnya kemudian sudah tak terasa, tubuhku mulai kebas. Ketika akhirnya saya dibaringkan lagi, kakiku mulai terasa hangat. Suster kembali mengajak mengobrol topik-topik ringan tentang di mana saya tinggal, dan dengan siapa saya datang hari ini. Prosedur standar, untuk melihat reaksi obat terhadap kesadaranku. Ketika akhirnya memerintahkan saya mengangkat kaki kiriku, jawabanku adalah hal yang ingin mereka dengar saat ini, ya, aku merasa kakiku telah hilang. Aku berusaha mempertahankan kesadaran. Saya ingat ada bayangan perutku di pantulan lampu teater yang belum dinyalakan. Dua orang perawat mengoleskan Betadine (aku ingat, warnanya merah tua kecoklatan) di seluruh permukaan perut buncitku. Saya berusaha berkonsentrasi untuk merasakan guratan pisau bedah di daerah itu. Sungguh, saya ingin benar-benar hadir, menyaksikan , dan menempuh setiap detiknya dengan sadar walaupun tidak bisa merasa karena efek obat bius. Tapi rupanya ini belum apa-apa. Yang namanya bius spinal block untuk SC itu tetap mengacaukan kesadaran, pengamatan, dan identitas dirimu. Saya mulai berpikir, mungkin sebenarnya tak ada yang namanya bius local setempat. Semua bius adalah hilangnya kesadaran. Bisa jadi aku benar, tapi bisa juga salah, karena kemudian aku sempat ingat telah melakukan IMD dengan sesosok tubuh mungil.

Peristiwa hilangnya kesadaran bukanlah hal yang enak untuk diingat. Rasanya enigmatic dan ujungnya adalah mual luar biasa. Bercampur pula dengan keharuan menerima bingkisan kecil yang diangkat dari rahimku. Aku masih sangat ingat mataku yang menghangat di tengah pemandangan yang cair seperti lelehan ter warna-warni. Ya, ada aliran air mata yang tak terbendung didorong dari alam bawah sadar. Aku bahkan masih ingat membisikkan kata-kata “Anak cantik…” di antara puluhan gumaman tak menentu akibat obat bius. Selain mual yang masih terus berlanjut sampai seluruhnya terkuras, keharuan itu masih terus tinggal. Sampai saya dibawa ke ruang pemulihan. Perlahan-lahan bentuk-bentuk menemukan nama-nama yang kukenal… tiang infus, lampu ruangan, tirai, ruang OK yang mulai sepi, brankar yang didorong,… lalu wajah Mamah, Papah, Ibu Dhe Sukur, dan Mas Nunu… semuanya mengucapkan selamat lamat-lamat (mungkin karena malam juga sudah terlalu larut untuk membuat perayaan). Semuanya dengan mata tergenang. Ketika Mas Nunu mendekat saya berbisik padanya “Selamat ya Mas… kita punya anak.” saya memuji keberaniannya melepasku ke ruangan itu. Saya baru sadar, pilihan seperti itu tak pernah mudah bagi laki-laki yang lembut hatinya. Malam berakhir dengan kesenyapan dan kesyukuran yang tak kunjung putus kugumamkan. Mamah, Papah, Ibu Dhe Sukur pulang ke Pabaton. Mas Nunu menemani sampai sadarku. Perawat bolak-balik mengurusku, menyediakan cawan setiap kali saya merasa mau muntah, mengukur tekanan darah, membuatkan teh manis ketika mual benar-benar berakhir. Dan akhirnya memindahkanku ke ruang rawat 209 ketika hari memasuki subuh. 9 Desember 2014.

njsm

Catatan Akhir : Belakangan Dokter Flo menjelaskan kondisi terakhir kandunganku. Selain usia kehamilan telah memasuki week 41 (yang artinya sudah lewat 1 minggu dari target kehamilan cukup umur yang aman), posisi janin rupanya kembali ke occiput posterior – kalau dipaksakan lahir normal maka proses Persalinan Punggung akan lebih panjang dan lebih sulit. Anatomi leher rahimku juga menjadi alasan pembukaan tak terjadi dengan cepat. Dan selain itu, rupanya si janin masih memiliki dua belitan tali pusar yang mengakibatkan ia tidak segera turun ke jalan lahir. Dalam catatan medis disebutkan alasan digelarnya SC malam itu adalah akibat gagal induksi.

O ya… akan halnya proses kelahiran normal… Saya percaya adalah sebuah peristiwa lebih besar dan hebat. Manusia hanya mampu menahan sakit sampai 45 del (satuan) rasa sakit; sedangkan ibu melahirkan (normal) harus menahan 57 del rasa sakit yang adalah = sakit dari remuknya 20 buah tulang dalam satu waktu; mungkin saya tak akan kuat menahannya. Maka, cintailah ibu-ibu kita.

pregnancy

Hello December

dec

Memasuki Desember, buat saya, adalah menghitung hari. Dan sekarang baru saja menapak minggu ke-40.
Panitia penyambutan rasanya sudah siap semua… segala keperluan, perlengkapan darurat ke rumah sakit, persiapan menghadapi proses kelahiran,… pasukan siap-antar-jaga… dan sederet doa-doa dari teman dan kerabat…

Tinggal dag-dig-dug menunggu tanda-tanda semakin dekatnya saat-saat penting itu. Semakin ditunggu semakin terasa lamaaaa… Demi mengatasi resah kembali membuka-buka hasil periksa dokter yang lalu. Rupanya pernah ada dua skenario jadwal kelahiran, yaitu di minggu awal dan di tanggal belas-belasan. Karena saking antisipatifnya, saya lebih sering memakai tanggal yang lebih awal. Padahal secara umum dimungkinkan sekali ada perubahan maju atau mundur sampai 1 atau 2 minggu.
Galau beginian katanya sih cukup umum terjadi. Padahal, justru, inilah saatnya untuk benar-benar rileks, menikmati akhir dari sembilan bulan yang menakjubkan itu untuk memasuki masa-masa menakjubkan selanjutnya…

Hmmm…
Dear Baby… We will define our own way, ‘rite?
Let’s get ready.

pregnancy

You Make Me Feel Brand New

Ngga kerasa ya… sejak hari pertama yaitu ketika test pack menunjukkan tanda positif, tau-tau sudah sampai hari ini, di minggu ke-39. Sudah semakin dekaaaatt aja dengan waktu kelahiran.

Periksa terakhir lalu, akhirnya posisi Dear Baby sudah jungkir balik ke posisi vertex – tadinya, di pemeriksaan bulan ke-7, dia masih asyik sungsang dan punya 2 lilitan tali pusat. Calon Ibu ini agak khawatir. Tapi begitu mulai cuti dan punya waktu menenangkan diri, eh, ternyata dia memang nungguin Ibunya santai.

Hanya saja sekarang hadapannya belum pas banget (occiput posterior), jadi belum benar-benar masuk ke jalan lahir, dan karena itu proses kontraksi dan penipisan dinding rahim belum ada kemajuan berarti. Masih ada waktu satu minggu lagi untuk memantau. Pun Si dedek ini modelnya memang ngga mau diburu-buru (mmmm… mirip emaknya sih). Tetapi sepertinya juga harus membuka kemungkinan kalau akhirnya harus Sectio Caesar. Apa ajalah, asalkan sehat selamat semua…

Sembilan bulan pengalaman baru yang sangat jauh berbeda dari yang sudah-sudah. Sepertinya aku bukan lagi diriku yang dulu… Semua definisi diri yang lama menetap telah digantikan oleh status baru sebagai (calon) Ibu. Semua karenamu, kesayangan mungilku. You really make me feel brand new…

DSC_0160ed

pregnancy

week 36

Memasuki minggu ke-36 adalah…

Memulai masa cuti (kerja untuk) kelahiran
Berkemas dan meninggalkan kehidupan kos-kosan (this time is for good…)
Mempersiapkan ‘sarang’ dan perlengkapan yang belum terurus
Semakin deg-degan akan waktu yang semakin dekaaaatt
Semakin rajin mengunyah… hmmmm…
Memelototi time line facebook (seolah-olah tak ada hari esok. Maklumlah, udah lama banget ngga ditengok)

Memiliki waktu lebih banyak untuk diri sendiri, keluarga, dan menulis lagi…

Dear Baby,
kamu sudah semakin besar dan kuat. Ibu sering terhenyak karena geliatmu
Sedikitnya tiga minggu lagi kita akan bertatapan mata, bersentuhan dan berdekapan
I miss you already