life thought · parenting · reminder

Anak Saleh

Kalau ditanya dan kalau berdoa pasti terucapkan “berilah kami anak-anak yang soleh/solihah”. Kalimat kojo. Mengandung banyak arti. Patuh sama orang tua (terutama sama ibu). Suka mendoakan orang tua. Taat beribadah. Bertingkah laku sopan santun. Pemberani. Penolong. bla bla bla….

Tapi sebenernya apa yang sudah dilakukan untuk menjadikan anak kita soleh atau solihah? Ga mungkin kan, anak-anak langsung tau tata krama? Ga mungkin juga dia langsung tau kebesaran Ilahi tanpa dihantarkan kepada konsep ketuhanan dan kemanusiaan?

Trus, gue punya apa untuk mengenalkan anak gue pada sekian banyak hal yang harus dia punyai dan dibelanya sebagai nilai-nilai kehidupannya kelak? Menyampaikan harapan dalam doa kepada Allah lalu berharap tiba-tiba hujan kebisaan turun deras, gitu? Wew.

Menjadi orang tua memang tidak gampang.

Yang sudah pasti anak-anak akan mulai belajar dengan meniru setelah dia memperturutkan naluri basic survivalnya. Lalu, apakah kita sudah pantas menjadi teladannya?

Menjadi orang baik saja, menurut gue sekarang, sudah tidak cukup. Harus ada jangkar yang kuat untuk menghindarkannya dari kehilangan motivasi ketika dunia tidak lagi menjawab pertanyaan-pertanyaannya; Ketika perbuatan baiknya tidak lagi berbalas kebaikan dari orang lain atau lingkungannya.

Sungguh gue merasa menjadi sangat kecil. Ketika membaca huruf hijaiyah aja masih terbata-bata. Ketika doa-doa harian ngga banyak yang hafal. Ketika pengetahuan gue tentang Nabi begitu minim. Apalagi mau mengantarkan begitu banyak ilmu fiqih sejak dini? Gimana mungkin gue yakin bisa mendidik Rin menjadi anak solihah kesayangan Allah?

Okeh. Mulai hari ini gue juga harus belajar lagi agama dengan benar. Banyak-banyak menyimak dan membaca lagi kitab-kitab kuning. Besok-besok, kalau mengantarkan kepada Rin kenapa kita perlu bersikap manis dan menyampaikan senyum tulus, sudah tidak sedangkal demi meraih respon baik dari orang lain, tetapi karena senyum itu bernilai sedekah; bahwa Allah menyukai senyum yang tulus itu dan akan diganjar kebaikan di Hari Akhir.

 

 

feature · job-profesi · life thought · reminder · way-to-iman

Doa untuk Para Penjagal

11:35

waktunya istirahat makan siang.

I ran to catch a queue at Hokahoka Bento. This and that. Then found a seat. Pas madep dinding bermural dan ada logo halal MUI yang besssaaar di sana.

Hap! hap! hap! Sekejap saja nasi, acar, ayam teriyaki masuk ke perut. Lalu tetiba terpikirkan olehku. Betapa banyak orang Muslim, termasuk diriku sangat tergantung pada apa yang dilakukan para juru jagal di pangkal rantai produksi sana. Ngga cuma yang terkait dengan resto cepat saji macam ini, tetapi juga di rumah-rumah tangga. Alangkah abainya kami selama ini mengenai apa-apa yang kami masukkan ke dalam perut kami, ke darah kami… Halalkah? Layakkah? Kita terlalu sibuk dengan kosmetik luar, sampai lupa memikirkan kepantasan makanan, kebutuhan primer kita.

Sebaik-baiknya hewan yang dijadikan makanan, maka haruslah disembelih dengan menyebut nama Allah; lebih sempurna lagi kalau dilakukan sendiri. Apa daya, waktu dan kemampuan tidak dimiliki. Perlu keterampilan khusus untuk melakukannya. Sayang sekali pekerjaan ini lebih sering dipandang, maaf, sebelah mata. Padahal profesi ini menentukan kemaslahatan umat. Logo itu, lambang kepastian kelayakan. Tetapi, siapa sebenarnya yang bisa menjamin keabsahan pelaksanaannya? Siapa yang bisa memastikan para penjagal itu dalam keadaan baik dan sadar di setiap saatnya dalam menjalankan tugas? Sungguh, belas kasihan Allah saja yang menjadi pegangan kita.

Sejenak aku termenung dan menyelipkan sebaris doa, semoga mereka yang berwenang selalu dalam rahmat Allah, selalu dalam keadaan baik, sehat, sadar sehingga amanah menjalankan perannya. Aamin.

halal-mui

ini.aku · life thought · reminder

People (truly) Change… Me Too.

Yes. It happens. Karena seiring berjalannya waktu hanya perubahan itu sendiri yang abadi.

Bahkan kepada orang-orang yang kaupikir telah menemukan wujud sejatinya, waktu tetap membawanya kepada kebaruan. Kita tetap dikejutkan dengan sesuatu yang berbeda. Lagi dan lagi.

Makanya aku bilang, seperti pernah aku bilang, kita tidak bisa judging seseorang berdasarkan sesuatu pengalaman yang pernah kita tahu atau alami sesaat bersamanya. Apalagi kalau hanya sekadar tahu atau dengar dari orang lain.

Sudah sering sekali kualami berkesempatan bergaul karib dengan mereka yang diadili sebagai ‘obyek buah bibir’, ‘public enemy’, oleh orang lain, lalu aku menemukan intisari dari pribadi mereka yang ternyata jauh berbeda dari persangkaan orang. Dulu pernah aku begitu menjaga jarak hanya karena persangkaan orang (yang aku tidak pahami betul motifnya), nyatanya sekarang aku menemukan kenyataan dan kebenaran lain pada diri seseorang itu. Kita memang benar-benar terlalu sering terpenjara pada subyektivitas kesan pertama, pengadilan sesaat; yang kalau pun memang benar, insan-insan ‘obyek’ itu tetap punya hal prerogatif untuk menanggapiku dengan berbeda (tidak seperti yang dilabeli oleh khalayak umum), bukan? Kalau pun memang benar yang dituduhkan orang, mereka yang tertuduh ini juga punya hak untuk mengubah dirinya, bukan?

Tidak hanya orang lain. Aku juga merasakan banyak perubahan terjadi pada diriku sendiri. Dulu, dalam pemandanganku, pemeriksaan di gerbang masuk kantor adalah sebuah penghinaan, penistaan, sehingga aku selalu pasang tampang angker dan terhina jika petugas mengorek-orek tasku. Sekarang, bahkan aku rela membukakan retsleting tas dan membiarkan mereka melongok ke dalamnya. Pun lalu aku berterima kasih atas perlakukan mereka.

Dulu aku orang yang pemarah, yang tak segan memperlihatkan kegeramanku. Dari mengutuk sampai banting gayung. Dulu aku ringan dan tajam lidah, kata-kata sering sekali melukai; dan aku masih bisa mengingat siapa-siapa saja yang pernah tersakiti. Memikiran pembenaran pada saat itu sudah tak berguna lagi di saat ini. Karena kenang-kenangan telah diukir. Kebaikan waktu saja yang akan mengubahnya menjadi souvenir tak berarti dari memori seseorang.

Sekarang, herannya, orang banyak bilang kalau aku orang yang paling ‘tidak kedengaran’ meledak atau sumpah serapah. Kenapa dalam pikiranku, tetap saja, ada banyak sekali kosa kata buruk yang berlintasan setiap saat, mulai dari hewan berkaki sampai hewan yang terbang? Apakah memang sudah sejauh itu aku berubah?

Sebenarnya, aku masih tetap seorang yang penggeram. Tetapi aku sudah mencoba mengubah medan peperangan ke dalam diriku sendiri. Memang perlu jam terbang untuk berlatih agar bisa menarik diri sebelum membakar keadaan. Memang perlu banyak pengetahuan tentang baik-buruk, memberi ruang untuk orang lain terhadap situasi yang dihadapi bersama, sebelum melontarkan reaksi. Dan itu tidak mudah. Sangat memakan banyak pemikiran dan tenaga. Sungguh beruntung mereka yang tidak pernah banyak berpikir tetapi juga tidak mengambil hati pada banyak hal timpang di sekitarnya. Ach, buat apa pula iri hati.

Perubahan. Selalu berarti ada kesempatan dan harapan. Semoga selalu ada masa untuk itu.

Apa yang akan membawa pada kebaikan — memerlukan kemauan untuk banyak-banyak belajar dan berlatih.

 

life thought · parenting · perempuan · reminder · way-to-iman

Fitna Seputar Kelahiran

Masya Allah. Sesungguhnya setiap niat dan perbuatan kita memiliki akibat/resiko kepada peristiwa selanjutnya. Pada setiap insan yang telah baligh ada tanggung jawab yang wajib diketahui dan dipahami.

Setiap peristiwa kelahiran, umumnya adalah sebuah peristiwa bahagia yang patut dirayakan. Tetapi di samping berita bahagia itu sendiri, kelahiran mempunyai pertalian dan konsekuensi yang luas (dan akan semakin rumit) terhadap masa depan. Misalnya saja bila berita bahagia kelahiran disambut dengan reaksi sbb :

“Hoi, selamat! Lekas sekali waktu berlalu. Rasanya baru kemarin menjadi pengantin…? Ini kelahiran cukup umur kan?”

“Iya… lahir normal. Usia kandungan 9 bulan 8 hari (maju dua hari). Bobot bayi 3,3 kg.”

“Wah, sehat ya… Alhamdulillah. Eh tapi ini kan bulan 7 ya? Seingatku pernikahan baru saja dilakukan akhir tahun lalu…? Aku ingat karena waktu aku jadi membatalkan keberangkatan libur ke Singapura, demi menghadiri upacaranya…”

Dengngng!! Dongngng!! It means pengantin wanita sudah mengandung 2 bulan ketika janji nikah akan diucapkan.

Buat beberapa orang mungkin mengabaikan detail-detail seperti itu…? Hare gene? Jamak aja kali kasih ‘persekot’… Yang penting sekarang udah resmi, kan??

Tetapi, tahukah beberapa orang itu kalau usia kehamilan itu berakibat hukum terhadap eksistensi seseorang? Sungguh, ini bukan ceramah moral… Hanya memaparkan sebab akibat yang mungkin terlupakan.

Kelak, pada saat si anak akan menikah, terutama kalau dia anak perempuan, dalam Hukum Islam, ia harus dinikahkan oleh ayahnya. Ayah yang diakui secara hukum, yaitu laki-laki yang menikahi ibunya sehingga ia dikandung dalam masa kehamilan yang terjadi setelah hari pernikahannya. Bukan sebelum tanggal pernikahannya. Jika yang terjadi adalah kehamilan sebelum pernikahan maka ia adalah Anak-Luar-Nikah. Anak yang tidak punya nasab* jelas terhadap ayah biologisnya. Dan oleh karenanya dia harus dinikahkan oleh Wali Hakim seakan dia tidak mempunyai ayah. Tidakkah kau jatuh kasihan kepada anak yang demikian? Belum lagi ketika tiba masa untuk membahas Waris… dan sebagainya.

Itulah pula kenapa kemudian punya anak pertama laki-laki atau perempuan itu besar perbedaan artinya. Ungkapan “anak laki-laki atau perempuan, sama sajalah, yang penting sehat…” tidak lagi berlaku. Karena anak laki-laki kelak bisa menikahi seorang wanita dengan mewakili dirinya sendiri. Anak perempuan tidak bisa.

Betapa hal yang dianggap jamak itu sekarang semakin meluas saja. Betapa semakin abainya kita kepada hukum dan syariat. Dan justru menganggapnya sebagai kekinian, modernitas.

Bagaimana kemudian kita akan menyampaikan kepada anak-anak kita? Bagaimana kemudian kita akan mendidik dan membentuk moral anak-anak kita? Siapakah anak keturunan kita kelak? Di jaman di mana Surat/Akta ‘bisa dibeli’ dengan uang, apakah dengan kebohongan akan kita mulai kehidupan anak-anak kita? Tidakkah kebohongan yang satu akan menurunkan kebohongan-kebohongan berikutnya? Dan dengan kemudian berarti kita meluaskan kemudharatan…? Pernahkah kamu mendengar imbauan “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”…?

Ketika kita peduli dan sedikit meluangkan masa untuk mengulik berita kelahiran, kita akan pula kembali kepada kenangan-kenangan… bahkan akan kembali kepada kenangan tentang diri kita sendiri.

Apalah arti pesta pora dan kemegahan upacara pernikahan jika ternyata hanya untuk menabiri usia ketelanjuran yang akan mendatangkan kerumitan-kerumitan selanjutnya. Apalah arti kebanggaan-kebanggaan yang selama ini kita junjung seolah kita tak akan pernah jatuh dan bersalah atau jadi pecundang…

Semoga kita terpelihara dari kenistaan, yang tidak hanya di hadapan sesama, tetapi terutama dari kebencian Allah SWT.

Semoga tulisan ini mendatangkan permenungan. Sekali lagi bukan ceramah moral. Hanya sebagai pengingat agar kita lebih berhati-hati, agar kita bertaubat akan kesalahan yang lampau. Kehidupan toh tetap harus kita jalani dengan ketabahan dan tawakkal. Hanya Allah pemilik keadilan yang tak berbanding.

 

-*-*-*-

*Lebih jauh tentang nasab.

 

life thought · migaleria · parenting · reminder

Janji Sabtu untuk Sepanjang Masa

Menjadi salah satu cara untuk menebus absennya saya dari kegiatan membaca (lihat posting ini)… bergabung dengan Book Club di kantor.

Kemarin membahas Sabtu Bersama Bapak (Adhitya Mulya). Saya sebenarnya sudah membacanya barang dua tahun lalu. Terus terang tadinya saya ngga menganggap serius buku ini karena keburu kebayang-bayang lagi tulisan Adhitya yang berjudul Jomblo. Light and ya gitu deh…

Tetapi sebenarnya SBB memuat banyak point-point penting bagaimana menjadi Bapak, bagaimana melihat kehidupan, dan pengasuhan secara umum. Ini keren. Bisa dijadikan handbook untuk para bapak baru, terutama generasi masa kini. Adhitya menggunakan bahasa yang ‘masuk’ untuk anak-anak muda kekinian.

Berusaha ngga mewek di sepanjang cerita, akhirnya saya terharu terguguk-guguk justru di halaman terakhir. Kasih sayang seorang bapak dan kebulatan tekadnya demi menjamin keberhasilan keluarga dan anak-anak yang harus ditinggalkannya, terasa sekali.

Pikirkan dan rencanakanlah bagaimana kita akan membina keluarga kita…

bookclub
Total Book Club

Book Club nya sendiri berjalan menyenangkan. Pembahasan dibuka oleh person-in-charge, yang akan bergantian nantinya di setiap buku yang berbeda. Akhirnya jadi sharing macam-macam pengalaman sebagai orang tua, sebagai anak yang ditinggalkan orang tua, sebagai kerabat dari pasien penderita kanker… Seru.

Tadinya saya pikir akan membahas juga dari segi penulisan dan si penulis. Tapi bagian itu ngga banyak disentuh. Kali ini benar-benar terpusat pada isi.

Next appointment akan membahas buku yang lebih berat. Tentang wanita di kancah karier dan kepemimpinan. Nantikan.

Semoga semangat membaca saya kembali membara. Amin.