babytalk · ceritarinjani · life thought · parenting

Growing…

Hadeuh Dek…

Umurmu udah 4 tahun 5 bulan sekarang. Udah semakin gede. Sekarang maunya dipanggil ‘kakak’. Dan siap mau sekolah. Insyaallah.

Udah semakin percaya diri di pergaulan. Punya teman-teman di lingkungan rumah, kamu belajar macam-macam hal, berkawan, berseteru, berargumen… Tapi tetap mau jadi diri sendiri.

Mulai punya banyak kilah dan jawaban. Manja karena masih tetap anak tunggal yang tahunya apa yang diingin harus kejadian. Modal air mata dan rengekan, kalau bukan keras mau. Ini lho yang jadi Pe-eR.

Jadi, maklumilah ibu… Sekarang ibu harus ajari kepatuhan. Sekarang ibu mau kamu tahu, tak ada tempat kembali bertanya selain aku yang melahirkanmu. Orang yang harus kamu dengarkan. Ibu harus ajarimu untuk tidak manja dan maunya-tau-beres. Maklumi ibu, karena harus tegas dan lurus. Aku tidak ingin kamu bimbang tak punya pegangan. Aku tidak ingin kau hidup dengan berharap pada keberuntungan dan kasihan orang lain. Kau harus jadi anak yang sigap menentukan langkah sendiri. Jadi anak yang faham memilah baik dan buruk mandiri.

Tak ada orang yang mengharapkan kebaikan sehabis-habisnya seperti yang kulakukan padamu. Aku sangat menyayangimu. Sangat. Tetapi aku tak kan biarkan kau larut dalam lena.

Kita belajar arif bersama ya…

ceritakeluarga · ceritarinjani · mamahood · parenting · toddler-time

Anchor

nj209

Ketika kamu membaca ini, usianya sudah mencapai 2 tahun 9 bulan. Sudah banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukannya. Responsif. Gue sendiri terkagum-kagum dengan banyaknya topik yang dia kuasai kalau kami sedang ngobrol-ngobrol. Iya, kami suka ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Anak ini ceriwis, suka sekali ngomong dan cerita. Sudah bisa bermain dengan imajinasi. Sekarang dia bisa berandai-andai bermain tamu-tamuan, pura-pura menuang teh, menyajikan, dan meminumnya bahkan dengan cangkir-cangkir imajiner, ngga harus dengan mainan. Dia juga sangat suka menyanyi dan bersenandung sambil terus asyik bermain. Lagu favoritnya sekarang adalah Ondel-ondel. Fasih sekali menyanyikannya, untuk ukuran anak seumur dia. Makanya ketika ayahnya membelikan mainan sepasang ondel-ondel dia senang sekali. … dan langsung deh, Ayah jadi best friend nya, selalu dicari untuk diajak main bareng. Huh *emak-iri.

Kubiasakan untuk menamai emosi yang dirasakan, dia bisa bilang “… aku bosan”, atau ” aku lagi kesel”. Kalau sudah begitu gue ajak dia berlatih mengatur nafas supaya bisa tetap terkendali. Dia juga sudah menunjukkan kemauan yang keras. Bisa kekeuh dengan nada penuh tekanan bilang :
“Mau… mau… mauuuuuu !!” atau
“Engga… engga… engaaaaa!!”

Hhhhh… kalau sudah begitu, gue yang dilema, kalau diturutin dia akan terbisa memanfaatkan kekeraskepalaannya untuk mendapatkan sesuatu. Kalau ngga diturutin, sampai kapan tahan otot-ototan di saat fisik dan mental letih pulang kerja, dan lingkungan mulai terganggu dengan kerewelannya? Terus terang aja, ngga jarang gue jadi kepancing bersikap lebih keras. Dengan suara keras. Dengan gesture yang tegas. Bukan memukul ya. Tapi sama aja, ngga bagus. Belum menemukan cara yang lebih baik. Gue tetap berusaha untuk mentoleransi lebih jauh, untuk melihat batas kekerasahatiannya. At the end of the drama gue selalu menasehati, menunjukkan hal baik dan ga baik dari kelakuannya. Ngga jarang teriring juga permintaan maaf gue karena harus tegas padanya. Entahlah dia menyerap atau tidak. Untuk hal ini kita harus tetap keras kepala (baca: konsisten) kan?

However, dia kan cerminan kami orang tuanya, bukan? Bagaimana dia bersikap berprilaku, sebenarnya ngga jauh dari teladan di sekitarnya… Sepertinya gue harus lebih ngaca ketika harus menghadapi hal-hal yang kurang baik darinya. Hehehee…

However, dia adalah jangkar kehidupan gue. Dia yang paling riil, ada, dan nyata daripada segala-galanya di dunia ini. Dia yang selalu menarik gue dari awang-awang keakuan dan keinginan gue yang selfish; dari gue yang sibuk mengejar keduniaan. Dia yang harus gue pegang. Dia yang paling pantas menerima curahan dan sentuhan perhatian dan tindakan gue. Dia yang menjadi tumpuan harapan. Kembali lagi ke pertanyaan awal : gambaran sosok seperti apa yang gue inginkan dari dirinya kelak ketika menjadi manusia yang utuh?

Probably I’m not a good-mom… Gue cuma bisa bilang ingin dia jadi anak yang baik dan berguna. Tapi gue ngga punya gambaran rinci tentang dia harus jadi apa atau harus punya skill apa. Yang bisa gue jalani hanya day-to-day actions, memberinya ruang untuk berkembang. Gue hanya punya perangkat terbatas tentang aturan yang sekiranya berlaku umum, pantas, dan cukup memberikan jaminan keselamatan. Selebihnya… kita berproses bersama-sama ya Nak…

I love you…

babytalk · ceritarinjani · toddler-time

Mules

Memperhatikan perkembangan Rinjani yang tengah belajar mengekspresikan apa yang dirasanya… Ini salah satu kisah lucu. Kali ini karena perut mules pengen poop.

Alhamdulillah sejak umur 1 tahun setengah dia sudah poop di toilet, tanpa proses training yang lama. Sejak itu dia bisa bilang ke aku atau ke Si Mbak “mau eek…”, kalau perutnya mulas. Segitu aja saya sudah seneng melihat perkembangan kemampuannya. Lalu menikmati saat-saat di toilet memperhatikan ekspresinya yang lucu ketika mengejan (hahaa…) dan sesudahnya di berkicau-kicau sendiri “anak pintel ya bu… ngga pa pa…”. Ritual ke toilet ini cukup makan waktu juga karena memastikan dia sudah unloading semua muatan sembari memberi dia waktu bermain-main dengan gayung dan bebek karetnya.

Sekali waktu pernah ketika Si mbak tengah menyelesaikan shalatnya tetiba ia menghampiri dengan gopoh-gopoh dan muka jelek menahan perut mulas. Cemas karena Si Mbak terlihat belum kunjung usai lalu dia berkata “Mbak… cepet Mbak, perut Dede kenceng… mau eek” — maksud dia perutnya mulas dan, sepertinya, panggilan sudah mendesak. Kontan kami tergelak dibuatnya.

ceritarinjani · mamahood · parenting · toddler-time

Terrible Two – A Rinjani Story

Now i know the meaning of Terrible Two. Rinjani is in this stage. Tadinya aku sangka itu hanya mitos… Setelah dialami baru meraba-raba… “ooo, sepertinya inilah yang dimaksudkan”.
.
 Memangnya seperti apa?
Berikut ini semoga bisa memperkaya pandangan….
.
Dikatakan, pada usia 24 bulan, bayi (atau kanak-kanak) mulai mengembangkan kemampuan emosionalnya. Mereka mengenal dan mencoba mengeksplorasi macam-macam cara berekspresi. Mereka juga mencoba batas kemampuan mereka. Maka tak aneh kalau di masa ini mulai sering terjadi insiden-insiden tantrum. Setidaknya mereka tahu perangkat apa saja yg mereka punya dan bisa digunakan untuk bertahan kelak. Mereka akan mencoba “memanipulasi” emosinya dan emosi orang tua, play-a-role, dan mendramatisir…
Nah, sebagai orang tua di sini perlu jeli melihatnya, apakah anak benar-benar butuh sesuatu atau… dia sedang memaksakan kehendaknya saja – yang dia sendiri belum tentu paham urgensinya.
.
Rinjani sekarang tahu kalau tangis dan rengekannya bisa sangat menarik perhatian orang-orang tua di sekitarnya dengan segera. Dia juga tahu kalau dia boleh punya kehendak. Dia juga “tengah-menguji-keterampilan-melakukan-negasi”. Apa saja yang dikatakan ibuk, dia bisa bilang “tidak”, “no”, “ngga mau…”
.
 Dan aku kebagian tantangan membuatnya mau makan. Heheheee… Pas banget ketika Mbak Pengasuhnya sedang cuti seminggu pulang kampung. Herannya, dia pada dasarnya bukan anak yang susah makan. Berdasar pada laporan pengasuhan hariannya Mbak, dia ngga pernah bermasalah dengan makan. Hanya kepada emaknya dia banyak nawar bahkan menolak. Kalau hanya akhir pekan sih, tak apa dia makan sekenanya atau aku turuti seleranya (Dia suka sekali makan mie instan!)… tapi kalau lebih dari 2 hari makan sembarang… apa kabar? Meskipun sepertinya dia ngga terganggu dengan rasa lapar sebagai alarm bahwa tubuh perlu asupan, sejumlah porsi makanan padat kan harus tetap dia dapatkan, suka atau tidak suka. Dan dimulailah hari-hari perjuangan ibu dalam memberi makan. Hehehe…
.
.
Gerilya Piring Sendok
.
Singkat cerita, untuk berjaga-jaga, aku siapkan beberapa item makanan atau bahan masakan yang biasanya tidak ia tolak. Misalnya, ceker ayam, bubur susu (untuk usia 6-24 bulan) – yang dia masih suka, … dan senjata pemungkas, mie instan. Hhhh…. *dengan berat hati
Selain itu, tentu perlu siasat untuk membuat menu dari hari ke hari tetap menarik….
 .
Kedua, strategi menyuapi. Untuk Rinjani ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Salah satunya, memberi makan ketika dia tengah asyik dengan sesuatu atau bermain. Dengan demikian perhatiannya tidak terfokus pada piring makanan dan merasa dipaksa makan. Aku ajak juga sambil mengobrolkan hal-hal yang menarik hatinya. Strategi kedua, dengan melibatkan tenaga bantuan. Intinya masih sama, orang ketiga adalah pengalih perhatian, sehingga suapan demi suapan dapat dilancarkan. Pengalih-Isu di rumah kami, si bibi yang mengurus kebersihan rumah, kebetulan punya suara recet dan kenceng. Kalau dia mulai bercerita dan mengajak ngobrol, Rinjani jadi terbawa-bawa asyik ngobrol. Nah di situlah kemudian sendok emak beraksi.
 .
Dalam hal terparah langkah 1 dan 2 kurang bernas… di sinilah konsistensi orang tua diuji. Tujuan makan harus dicapai demi kesehatan. Kepatuhan anak harus diperoleh tetapi tidak dengan paksaan. Jadi gimana…? Gunakan strategi membujuk sampai dengan trade-off. Pada kasus Rinjani, misalnya, ketika dia perlu sekali diambilkan sebuah benda di tempat yang tak terjangkau olehnya, aku membujuknya untuk mau menyuap dulu baru aku mau menolongnya. It worked! Kenyataannya dia bukan ngga suka dengan makanannya, hanya enggan dan berusaha membangkang. Kuncinya, orang tua jangan kalah konsisten. Pernah suatu ketika aku benar-benar hampir menyerah… periode makan rasanya berlangsung lamaaa tapi belum kunjung berhasil. Lalu teringat pada tujuan awal, bertahan sedikit lagi untuk mempertahankan posisi tawar. Tetap tenang, tonal suara tetap rendah, dan lakukan dengan kasih (karena kita lebih tahu apa yang terbaik untuknya)… Ketika suapan pertama berhasil dilakukan, suapan-suapan berikutnya lalu menyusul. Yeay!
 .
Sekarang, rasanya aku jadi ketagihan “bertempur” untuk menyuapi… hahahhaaa… *freaky-mom Dan yang lebih membanggakan, aku tahu kalau aku ngga kalah dari Mbak dalam hal keterampilan menyuapi.
 .
.
“Maaf Bu…”
.
Terrible Two ngga berarti masa yang buruk. Bocah sedang berkembang. Perhatikan setiap detail yang berubah dari menit ke menit, hari ke hari.
Dan aku sungguh dibuat tercengang, haru, sekaligus bangga ketika tahu dia punya keterampilan baru, yaitu meminta maaf ^^.
.
Rasanya sih aku ngga mencanangkan sesi khusus untuk belajar empati penyesalan. Hanya sempat diungkapkan sambil lalu di beberapa kesempatan. Atau mungkin dia juga menyimak contoh di sekitarnya dari melihat dan mendengar… bahwa ketika ada hal yang keliru telah dilakukan dan itu membuat orang lain bersusah hati, dia perlu menunjukkan penyesalan. Atau… apa aku terlalu galak ya, sampai-sampai dia merasa takut dan minta maaf? Hihihhiii…
  .
Aku juga sudah tahu, sebelum ini Rinjani sudah paham situasi emaknya kadang suka BeTe atas pembangkangannya. Kalau sudah begitu, biasanya dia nyengir-nyengir ngeri gitu sambil merayu-rayu biar ngga dimarahin… haha. Tetapi momen ketika dia mengucapkan kata ‘maaf’ itu benar-benar sebuah kemajuan besar. Dia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh,, pakai aksi sambil tertunduk pula… *emakterharu*. Tetap saja kan, walaupun melas, demi kebenaran dia harus tahu kesalahannya dan aku harus memberinya pengertian.
 .
Mudah-mudahan aku bukan ibu yang semena-mena, yang ketika tahu anaknya sudah bisa berempati rasa bersalah lalu jadi suka memanfaatkan. Karena aku ingin dia tumbuh menjadi anak yang punya integritas (tidak kerdil), berani, tetapi tetap bertanggung jawab. Amin ya rabbal alamin.
.
.
.
sorry
but I would take that change…