way-to-iman

212

Bukan Wiro Sableng tentunya. Dan tidak ada kesablengan-kesablengan yang ngga perlu di sini. Dan di sana. Kemarin.

Saya tidak terjun dan turut berbaris ke sana. Tetapi hati saya bersama mereka.

Saya bukan orang yang cukup berani untuk terlibat. Kesalahan ada pada kegamangan identitas, dan karena tidak mendapatkan pupuk yang cukup atau tepat. Akibatnya saya tidak terlalu mengerti untuk bisa menempatkan diri. Tetapi setelah putaran sebelumnya, di 411, sedikitnya saya memberanikan diri meyakini iman saudara-saudara saya yang merapatkan barisan membela kebenaran.

Pagi itu, yang dihiasi sejuk gerimis… saya melawan keengganan (dan tadinya lebih memilih tinggal di rumah) dan berangkat ke kantor. Hari itu telah diperkirakan ada pergerakan masif menuju satu titik yang telah disepakati. Di mulut gerbang stasiun saya melihat kumpulan besar umat, berbaju, kebanyakan putih, dengan atau tanpa songkok. Kebanyakan laki-laki, tetapi tidak menutup kesempatan para akhwat ada di antaranya. Saya hampir pasti urung bekerja, bahkan saya mengirim pesan ke atasan kalau tidak akan datang.

Tetapi kemudian saya merasa malu, sudahlah tak tahu harus berbuat apa, masakkan pula kemudian tidak meyakini bahwa niat suci kali ini tidak akan tercapai. Dengan saya balik kanan sama saja saya mengkhianati keyakinan akan kelemahlembutan iman kami. Maka kemudian saya memberanikan diri melangkahkan kaki memasuki gerbong krl menuju Stasiun Jakarta Kota.

Tak lama kemudian, berbondong-bondong mereka memenuhi rangkaian yang sama. Saya, berada di tengah-tengah. Bersama mereka. Dengan wajah cerah, bincang-bincang kecil, dan beberapa gurau di antara yang muda belia. Lalu saya jadi yakin, tidak ada rasa radikal yang selama ini diembus-embuskan kabar burung, dan membuat hawa ketakutan serta curiga. Tidak ada. Seketika pintu-pintu di tutup, mereka mulai bertakbir, shalawat, tahlil,…tahmid. Allahu Akbar. Pertamanya di satu sudut… lalu menyeruak ke seluruh gerbong… dan ke gerbong sebelah-sebelahnya. Kereta ini bergerak tenang dalam gemuruh pujian. Hati saya tergetar. Pelupuk mata saya menghangat. Meskipun jauh dari niatan saya semula, tak pelak getar itu membara di dalam dada. Agama ini sungguh besar dan berdaya. Saya menemukan keterkucilan dari keyakinan saya sendiri.

Sayangnya, kereta memang semakin penuh di setiap perhentian. Mereka tengah bergerak ke satu titik. Mereka akan turun di Stasiun Juanda. Bisa-bisa saya terbawa ke sana. Maka lalu saya minta diri lalu turun di stasiun Citayam. Saya menyambung perjalanan dengan kereta jurusan Duri, bersimpang jalur dari barisan para mujahid.

Setidaknya saya melakukan langkah benar dan besar. Saya meyakini. Saya memberanikan diri. Dan saya tidak malas melawan keengganan untuk membela. Meskipun, tetap saja, saya tidak bergabung ke dalam barisan pagi itu di titik yang telah dijanjikan. Saudaraku, keyakinan dan semangat ini, wakilkanlah. Tunjukkan kemurnian niat dan ikhtiar kita.

Alhamdulillah, 212 berakhir dengan indah. Masih ditingkahi gerimis tipis sejuk. Jutaan kita berhimpun menunjukkan perjuangan. Perjuangan membela kemurnian niat dan tujuan. Kita berhasil menunjukkan kesejukan itu. Unjuk rasa tidak berarti rusuh atau radikal. Semoga Allah ridho. Amin.

Seperti diimbau oleh Ippho Santosa, jika kita muslim, sebaiknya tulislah hal-hal baik yang telah diteladankan dalam Aksi 212. Dan inilah, hal kecil yang bisa saya bagi tentang pagi itu.

life thought · way-to-iman

4 November 2016

Inilah hari ketika kita bisa melihat siapa ada di mana.

Di manakah saat itu aku berdiri, ketika panggilan itu tiba? Apa yang bisa & telah kulakukan?

Sesungguhnyalah aku bukan orang yang tahu dan menguasai peta permasalahan. Sungguh masih jauh dari benar dan mulia. Aku juga jadi tahu dari apa aku terbentuk dan telah menjadi apa aku saat ini. Aku merasa beruntung telah diberi waktu, mendapatkan kesempatan untuk belajar, dipertemukan dengan orang-orang yang tepat, yang insyaallah akan membawa kepada kebaikan dan perbaikan. Semoga Allah mengampuniku.

Terutamanya, aku bersyukur telah bertemu dengan orang yang kini menjadi suamiku. Sayangnya hari ini dia tidak bisa hadir bersama untuk merapatkan barisan mengusung perjuangan. Tetapi aku tahu, niat dan ikhtiar yang dijalaninya teguh dan tulus. Semoga Allah selalu memberinya keberkahan.

Amien.

jihad

gambar dari sini

 

feature · job-profesi · life thought · reminder · way-to-iman

Doa untuk Para Penjagal

11:35

waktunya istirahat makan siang.

I ran to catch a queue at Hokahoka Bento. This and that. Then found a seat. Pas madep dinding bermural dan ada logo halal MUI yang besssaaar di sana.

Hap! hap! hap! Sekejap saja nasi, acar, ayam teriyaki masuk ke perut. Lalu tetiba terpikirkan olehku. Betapa banyak orang Muslim, termasuk diriku sangat tergantung pada apa yang dilakukan para juru jagal di pangkal rantai produksi sana. Ngga cuma yang terkait dengan resto cepat saji macam ini, tetapi juga di rumah-rumah tangga. Alangkah abainya kami selama ini mengenai apa-apa yang kami masukkan ke dalam perut kami, ke darah kami… Halalkah? Layakkah? Kita terlalu sibuk dengan kosmetik luar, sampai lupa memikirkan kepantasan makanan, kebutuhan primer kita.

Sebaik-baiknya hewan yang dijadikan makanan, maka haruslah disembelih dengan menyebut nama Allah; lebih sempurna lagi kalau dilakukan sendiri. Apa daya, waktu dan kemampuan tidak dimiliki. Perlu keterampilan khusus untuk melakukannya. Sayang sekali pekerjaan ini lebih sering dipandang, maaf, sebelah mata. Padahal profesi ini menentukan kemaslahatan umat. Logo itu, lambang kepastian kelayakan. Tetapi, siapa sebenarnya yang bisa menjamin keabsahan pelaksanaannya? Siapa yang bisa memastikan para penjagal itu dalam keadaan baik dan sadar di setiap saatnya dalam menjalankan tugas? Sungguh, belas kasihan Allah saja yang menjadi pegangan kita.

Sejenak aku termenung dan menyelipkan sebaris doa, semoga mereka yang berwenang selalu dalam rahmat Allah, selalu dalam keadaan baik, sehat, sadar sehingga amanah menjalankan perannya. Aamin.

halal-mui

life thought · parenting · perempuan · reminder · way-to-iman

Fitna Seputar Kelahiran

Masya Allah. Sesungguhnya setiap niat dan perbuatan kita memiliki akibat/resiko kepada peristiwa selanjutnya. Pada setiap insan yang telah baligh ada tanggung jawab yang wajib diketahui dan dipahami.

Setiap peristiwa kelahiran, umumnya adalah sebuah peristiwa bahagia yang patut dirayakan. Tetapi di samping berita bahagia itu sendiri, kelahiran mempunyai pertalian dan konsekuensi yang luas (dan akan semakin rumit) terhadap masa depan. Misalnya saja bila berita bahagia kelahiran disambut dengan reaksi sbb :

“Hoi, selamat! Lekas sekali waktu berlalu. Rasanya baru kemarin menjadi pengantin…? Ini kelahiran cukup umur kan?”

“Iya… lahir normal. Usia kandungan 9 bulan 8 hari (maju dua hari). Bobot bayi 3,3 kg.”

“Wah, sehat ya… Alhamdulillah. Eh tapi ini kan bulan 7 ya? Seingatku pernikahan baru saja dilakukan akhir tahun lalu…? Aku ingat karena waktu aku jadi membatalkan keberangkatan libur ke Singapura, demi menghadiri upacaranya…”

Dengngng!! Dongngng!! It means pengantin wanita sudah mengandung 2 bulan ketika janji nikah akan diucapkan.

Buat beberapa orang mungkin mengabaikan detail-detail seperti itu…? Hare gene? Jamak aja kali kasih ‘persekot’… Yang penting sekarang udah resmi, kan??

Tetapi, tahukah beberapa orang itu kalau usia kehamilan itu berakibat hukum terhadap eksistensi seseorang? Sungguh, ini bukan ceramah moral… Hanya memaparkan sebab akibat yang mungkin terlupakan.

Kelak, pada saat si anak akan menikah, terutama kalau dia anak perempuan, dalam Hukum Islam, ia harus dinikahkan oleh ayahnya. Ayah yang diakui secara hukum, yaitu laki-laki yang menikahi ibunya sehingga ia dikandung dalam masa kehamilan yang terjadi setelah hari pernikahannya. Bukan sebelum tanggal pernikahannya. Jika yang terjadi adalah kehamilan sebelum pernikahan maka ia adalah Anak-Luar-Nikah. Anak yang tidak punya nasab* jelas terhadap ayah biologisnya. Dan oleh karenanya dia harus dinikahkan oleh Wali Hakim seakan dia tidak mempunyai ayah. Tidakkah kau jatuh kasihan kepada anak yang demikian? Belum lagi ketika tiba masa untuk membahas Waris… dan sebagainya.

Itulah pula kenapa kemudian punya anak pertama laki-laki atau perempuan itu besar perbedaan artinya. Ungkapan “anak laki-laki atau perempuan, sama sajalah, yang penting sehat…” tidak lagi berlaku. Karena anak laki-laki kelak bisa menikahi seorang wanita dengan mewakili dirinya sendiri. Anak perempuan tidak bisa.

Betapa hal yang dianggap jamak itu sekarang semakin meluas saja. Betapa semakin abainya kita kepada hukum dan syariat. Dan justru menganggapnya sebagai kekinian, modernitas.

Bagaimana kemudian kita akan menyampaikan kepada anak-anak kita? Bagaimana kemudian kita akan mendidik dan membentuk moral anak-anak kita? Siapakah anak keturunan kita kelak? Di jaman di mana Surat/Akta ‘bisa dibeli’ dengan uang, apakah dengan kebohongan akan kita mulai kehidupan anak-anak kita? Tidakkah kebohongan yang satu akan menurunkan kebohongan-kebohongan berikutnya? Dan dengan kemudian berarti kita meluaskan kemudharatan…? Pernahkah kamu mendengar imbauan “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”…?

Ketika kita peduli dan sedikit meluangkan masa untuk mengulik berita kelahiran, kita akan pula kembali kepada kenangan-kenangan… bahkan akan kembali kepada kenangan tentang diri kita sendiri.

Apalah arti pesta pora dan kemegahan upacara pernikahan jika ternyata hanya untuk menabiri usia ketelanjuran yang akan mendatangkan kerumitan-kerumitan selanjutnya. Apalah arti kebanggaan-kebanggaan yang selama ini kita junjung seolah kita tak akan pernah jatuh dan bersalah atau jadi pecundang…

Semoga kita terpelihara dari kenistaan, yang tidak hanya di hadapan sesama, tetapi terutama dari kebencian Allah SWT.

Semoga tulisan ini mendatangkan permenungan. Sekali lagi bukan ceramah moral. Hanya sebagai pengingat agar kita lebih berhati-hati, agar kita bertaubat akan kesalahan yang lampau. Kehidupan toh tetap harus kita jalani dengan ketabahan dan tawakkal. Hanya Allah pemilik keadilan yang tak berbanding.

 

-*-*-*-

*Lebih jauh tentang nasab.

 

life thought · perempuan · way-to-iman

Ilmu yang akan dilupakan orang adalah Ilmu Waris…

Demikian pameo yang pernah terdengar. Ilmunya begitu rumit, terperinci, sehingga perlu pemikiran mendalam dan waktu yang cukup panjang untuk memahami keseluruhannya dan menjawab kasus-kasus dalam hidup bermasyarakat.

Sungguh tak banyak orang mendedikasikan diri dan waktu untuk membahas hukum dan keilmuan ‘waris’. Coba bandingkan dengan banyaknya orang yang mau berpusing-pusing dan mengusahakan sampai habis-habisan demi meraih ‘warisan’, apalagi jika berbentuk harta material bernilai besar.

Dunia memang penuh dengan siksa bagi mereka yang menyadari bahwa hidup tidak hanya untuk badan kasar saat ini. Apa yang telah dilakukan, akibat dari perbuatan-perbuatan, kewajiban-kewajiban yang mengikuti… Itulah yang akan beralih ketika kita sudah tiada. Makanya harus diperhitungkan. Termasuk di dalamnya hutang…. Teringat sebuah riwayat ketika seseorang meninggal dan para sahabat meminta Rasulullah (Muhammad SAW) untuk menshalatkan. Yang Mulia sudah mengambil posisi berdiri dan siap bertakbir tetapi beliau urung melakukannya dan malah pergi. Para sahabat mengejar beliau dan memohon-mohon agar kembali dan menyembahyangkan jenazah malang itu. Rasul kemudian bertanya apakah Si Mati punya hutang? Ternyata benar. Masih ada hutang yang belum diselesaikannya. Rasulullah tidak akan menshalatkan jenazah yang masih punya hutang. Sampai akhirnya salah satu dari jamaah mengajukan diri untuk membayarkan hutangnya, barulah Rasulullah kembali ke tempat shalat.

Sedemikian pentingnya menghitung kewajiban, maka waris juga tidak bisa diperlakukan tanpa aturan. Khususnya dalam Al Quran, ada ayat-ayat penting berkenaan dengan Waris. Ini membuktikan derajat pentingnya salah satu perihal kehidupan material manusia dalam posisinya sebagai makhluk sosial tetapi sering kali dilewatkan begitu saja seolah-olah Al Quran hanya berisi syair berindah-indah dalam ibadah kepada Sang Pencipta.

Sebutlah surat An-Nisa ayat 11 dan 12. Lalu ayat ke-13 menyebutkan “(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah…”. Bukan hanya tentang bagaimana membagi antara kepada anak laki-laki dan anak perempuan, bahkan terhadap variasi kombinasi yang mungkin terjadi… bahkan bagaimana ketika Si Mati meninggalkan juga orang tua laki-laki dan orang tua perempuan… Kenapa begitu? Karena

“(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS 4.11)

Subhanallah, Ramadhan bulan baik… kemudian di kantor kami pembahasan ini dibawa kepada forum Kajian Muslimah bukanlah karena ketidaksengajaan. Dibawakan dengan sangat seksama oleh Ustadzah Dr. Fal. Arovah Windiani, SH, MH (selain pengajar, beliau juga praktisi advokasi Hukum Waris). Ilmu Waris, sebagaimana pentingnya Al Quran dikuasai setiap muslim, adalah juga concern untuk setiap perempuan muslim, bukan hanya laki-laki. Sehingga kelak, seharusnya tidak ada lagi istri-istri yang mendorong-dorong suaminya untuk menuntut hak waris keluarga suami dengan motif kedengkian dan syahwat untuk menguasai. Semua hal ada ilmunya. dan ilmu dari Allah adalah Al Quran.

“Tetapi orang-orang yang lalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah?…” (QS 30.29)

Pada akhir pertemuan sampailah kepada kesimpulan membahas Waris bukan hal yang sederhana, bahkan jauh dari sederhana. Tetapi tidak bisa diabaikan begitu saja, karena seperti halnya shalat adalah wajib, ilmu ini wajib diketahui, dipahami, dan didudukkan pada tempatnya ketika realitas menuntut.

Alangkah manusia sungguh terbantu ketika hukum-hukum yang jelas dan sahih sudah dituliskan dan ditetapkan. Manusia tinggal mengikuti. Alangkah menakjubkannya Islam dan Al Quran yang telah membuat kemudahan-kemudahan itu. Tinggal… apakah kita mau atau tidak untuk peduli dan mengikuti.

 

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. – QS 9.33