ini.aku

#30hbc19aku

Haa. Yakin mau tau tentang gue? Hati-hati. Nanti nyesel πŸ˜‰. Jarang gue nyeritain diri sehabis-habisnya. Terlalu banyak faset yang harus dikupas. Dan ga yakin kamu punya banyak waktu untuk menyimaknya.

Yang jelas, akun ini sebenarnya profil komersial gue. Dengan akun ini gue bermaksud mengantarkan kabar baik tentang gimana hidup bisa dijalani dengan lebih baik. Kalian cek saja posting-posting lain selain yang bertagar #30haribercerita πŸ˜‚. Kalau ngga jelas atau ingin tahu lebih jauh, kamu boleh japri di nomor yang ada di data Profil (eh, malah ngasih PR, xixi ✌). Bulan menulis ini sungguh sebuah distraksi dari misi akun gue. Tapi tak mengapa toh gue suka. Beberapa dari kalian juga suka, kan?

Iya, gue suka menulis. Well, itu faset berikutnya dari definisi diri. Keterampilan mengkonstruksi kata, kalimat, sampai cerita, adalah hal lain yang menggairahkan gue.

Beberapa hal lainnya gue pernah cerita di #30hbc18 . You may trace back. Lebih banyak banyak lagi tentang gue… bisa dibaca di blog beralamat ini : http://www.kembangbakung.wordpress.com. Semoga membantu.

Don’t judge me by what I write. Lebih enaknya, kita ngobrol langsung aja, sambil ditemani secangkir kopi tanpa gula. Gimana? πŸ˜‰

@30haribercerita
#30hbc1925
#30hbc19aku #30hbc19slr
#kembangbakung

life thought

#30hbc1924

Waktu SD dulu aku berteman dengan seorang juara kelas. Saat teman-teman kami asyik berloncatan main karet, kami memilih mojok bertukar bacaan yang indah. Tadinya saling menceritakan buku bagus yang baru dibaca, lama-lama kami saling bertukar tulisan sendiri juga.

Mungkin seperti tantangan #30haribercerita ini juga, setiap hari kami seperti berlomba membawa karya. Bukan untuk apa-apa, karena kami hanya saling membahasnya. Kadang cerpen, bisa juga puisi. Aku sudah mulai mudah terpukau dengan tata bahasa dan diksi, waktu itu. Aku semakin ingin bisa menulis dengan bagus. Setiap saat yang mungkin, kubongkar pasang tulisanku kemudian kubawa untuk kami bedah bersama.

Suatu hari, temanku membawakanku sebuah tulisan di kertas bergaris biru. Sebuah puisi tentang negeri di awan. “Karanganku”, katanya. Oh, my God. Puisi itu sangat indah. Terdiri dari beberapa bait berisi empat larik. Tak pendek, tapi begitu mempesona, sampai di baris terakhirnya. Dari tulisan itu aku baru tahu kalau sebuah puisi bisa saja berupa imajinasi, bukan hanya hal-hal riil sehari-hari. Diam-diam aku iri padanya. Aku ingin bisa menulis sebagus itu.

Waktu berlalu, kami berpisah di akhir masa SD. Aku tak pernah lagi dengar kabar tentang temanku itu. Tetapi aku masih terus menulis dan membaca cerita-cerita bagus, di mana saja. Sampai pada suatu hari aku menemukan setumpuk majalah lama di perpustakaan. Majalah Gadis, namanya. (Pernah dengar? πŸ˜‰). Sampailah aku pada halaman berisi kumpulan puisi. Lalu terkejut. Di antara puisi-puisi itu ada puisi Negeri di Awan! Ditulis oleh seseorang tak kukenal. Isinya sama dengan tulisan teman SD-ku waktu itu. Kata per kata.
Damn! – kataku dalam hati.

@30haribercerita #30hbc1924 #30hbc19slr

ceritakeluarga · perempuan · rumakita

#30hbc19darisini

“Pasti ada apa-apanya nih di Rinjani” – tuduhan clichΓ¨ kepada kami.

Bagi yang belum tahu, aku dan suami, memang penyuka jalan-jalan naik gunung. Anak perempuan kami dinamai Rinjani, gunung tinggi Indonesia yang paling cantik. Tetapi sungguh tak tepat jika dibilang cinta kami bersemi di sana. Walaupun saat kami mendaki bersama di 2010, kami masih sama-sama lajang. Dia tak tahu siapa aku seaslinya. Aku juga sedang punya gebetan di lokasi lain. Issssh….

Sampai hari ini pun, aku tak 100% setuju kalau kami dipertemukan di perjalanan. Aku yang paling tahu apa peristiwa spesifik yang akhirnya membuatku bilang “oke, ini dia orangnya”. Tetapi baiklah, … Ada satu pendakian, dari sekian banyak perjalanan, yang boleh dibilang, mengesankanku dengan adanya dia saat itu. Bukan hal-hal yang intim. Lagipula kami berdua tuh ternyata ngga romantis blasss, hahahhaaa…

Tapi ada, suatu saat kau akan paham juga, situasi itu. Di tengah keramaian teman-temanmu, saat kau menikmati menjadi dirimu, hadir sepenuhnya jiwa dan raga dalam suatu kegiatan yang kau suka: ada seseorang yang terasa istimewa. Dia bisa jadi tak banyak tingkah, tak pernah menyolok (atau bersaing cemerlang dengan dirimu). Yang ia lakukan pun tak istimewa, tak heroik, bahkan kadang malah clumsy; tapi kau percaya padanya, tak ragu mempercayakan keselamatanmu di tangannya. Bisa jadi kau tetap tak merasa pasti. Tetapi hari itu akan menjadi penting untuk kauingat suatu saat.

Tempat. Apakah perlu dan sangat berarti? Seperti lamaran harus di bawah minaret Eiffel, gitu? Engga juga. Tetapi, di manapun beradanya, akan ada jejak-jejak yang menjadi tanda. Entah diukir kasar atau direkam oleh Semesta.

Demikian pula pada suatu perjalanan itu, yang bukan ke Rinjani, mengawali cerita kami. Dari sini lalu semua bergerak, berkonspirasi menjadi hari ini. Di kehidupan kami.

Bisa tebak, dari mana? *lihat gambar.

@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1921
#30hbc19darisini
#30hbc19slr

ceritakeluarga · enjoy life · jurnal · perempuan

Cook Soto

Day-20 ngga punya ide mau nulis apa. Hampir tengah malam nanya Si Ayah deh, kali dia punya ide. Dan katanya nulis tentang memasak aja.

Hahaah… πŸ˜„ Dia terkesan sekali dengan masakanku hari kemarin rupanya, padahal aku lagi ga enak body banget tuh. Tapi selera makan masih besar siiih πŸ˜‹. Dari hari sebelumnya ingin makan soto, kuah bersantan, dengan bihun dan tauge. Etapi, belum ada ayamnya, pun udah tanggal tuwa. Apa masih kebeli ya si ayam?

Pagi-pagi kami berdua tak sengaja mantengin Asian Food Channel. Eh pas lagi hidangan Vietnam gitu ada peragaan masak tumis pucuk labu bersama jamur shiitake. Menggiurkan sekali. Mana itu jamur tampangnya ga kaya yang di toko. Dia jamur petikan dari pinggir hutan. Bumbunya pun sederhana, ga neko-neko. Jamur kan udah umami juga ya. Wiiiii… Tastyyyy.

Akhirnya sepakat sama Ayah, bikin tumisan aja. Mumpung masih pagi, minta anter ke ATM, trus mampir ke warung. Elahhh, kata mamang sayur, “pucuk labu mah musim-musiman, teh, datengnya. Ga tiap hari ada.” Hmmmm… Cek-cek harga ayam deh. Eh, ternyata stengah kilo boleh delapan belas ribu. Jadiin aja deh nih menyoto idaman. Cari bihun, tauge, kemiri, laos, dan santan kemasan. Ayah tunjuk-tunjuk krupuk yang kaya koin, oke deh, mayan buat meramaikan.

Sampai rumah, kubikin teh panas manis dahulu, biar otot perut kuat menyangga aktivitas di dapur pagi itu. Ayam udah dipotong-potong oleh mamang, aku tinggal bilas dikit terus masuk panci rebusan dengan sepercik garam. Menggodok air pula untuk menyeduh bihun kering biar lembik. Kemudian mulai beraksi dengan bumbu. Ulek bawang merah, bawang putih, merica, ketumbar, sedikit jahe. Geprek serai, lengkuas, dan koyak lembar salam. Resep hasil menyontek internet. Hehehe… Ayam diangkat dan suwir. Kemudian kuah diberi santan 1 bungkus, garam dan gula. Tauge dibilas lalu tiriskan. Masih pula kubikin bawang goreng buat taburan, nanti hadir bersama irisan bawang kucai. Selesai.

Jam makan siang, hidangan kuracik dan saji. Ayah masih minta kecap lagi, mungkin kurang berwarna, maksudnya. Hahahaaa… Tapi dia suka sekali. Nasi sampai tambah lagi. Alhamdulillah.

@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1920
#30hbc19slr

enjoy life · feature

Dining Habit

Hooo… Jadi memang ada ya kebiasaan seputar meja makan yang viral. Seru juga. Dan lucu, soalnya yang begitu aja bisa jadi polemik. Ada pro dan kontra.

Selengkapnya udah pada tau kan? Atau cek sendiri aja di hashtag-hashtag terkait.
Aku sendiri merasa ngga dalam kapasitas kasih pendapat lalu menempatkan diri di blok mana, pro atau kontra. Berangkat dari dalem diri aja untuk memaksimalkan yang ada. Kalau tray rack disediakan di ruang depan, bukan di belakang, pasti ada maksudnya. Tersedia pula trash binnya yang segede gaban itu, tentu bukan sebagai pajangan yes? Maksimalkan aja kehadirannya.

Trus, ada tangan dan kaki aku nih, yang dengan penuh semangat masuk ke warung karena dorongan lapar. Pilih menu, bayar, lalu ke meja. Habis makan, pikiran dan hati terang lagi. Do little things sesederhana beberes dikit, seperti juga sudah jadi kebiasaan di rumah, harusnya ngga berat. Dan ngga ada kaitannya dengan pendapat orang-orang di sekitarku. Hanya memaksimalkan guna tangan dan kaki. Dan otak. Dan hati.

@30haribercerita
#30hbc1919
#30haribercerita
#30hbc19slr